Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Audit  >  Artikel saat ini

18 Tanda Temuan dalam Audit Kecurangan

Oleh   /   Kamis 31 Januari 2013  /   Tidak ada komentar

Meskipun pada suatu kesempatan pemeriksa intern melakukan penugasan langsung dalam penyelidikan kecurangan yang dicurigai atau aktual, bagian yang lebih besar dari usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu bagian yang integral dari penugasan audit yang lebih luas.

keuangan LSM

Usaha yang berorientasi kecurangan ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam suatu program audit yang lebih luas.

Meskipun pada suatu kesempatan pemeriksa intern melakukan penugasan langsung dalam penyelidikan kecurangan yang dicurigai atau aktual, bagian yang lebih besar dari usahanya yang berorientasi kecurangan merupakan suatu bagian yang integral dari penugasan audit yang lebih luas. Usaha yang berorientasi kecurangan ini dapat dalam bentuk prosedur khusus, termasuk dalam suatu program audit yang lebih luas. Usaha yang berorientasi kecurangan tersebut dapat termasuk seluruh bagian dari penugasan audit ini. Kesiapsiagaan ini termasuk berbagai area, kondisi dan pengembangan yang memberikan tanda-tanda peringatan.

Area-area yang sensitif

Pemeriksa intern harus menyadari iklim organisasional (organizational climate) secara keseluruhan dan potensialnya untuk kecurangan.

Pemeriksaan intern khususnya harus waspada terhadap area yang sensitif untuk penelaahan yang dalam.

Beberapa contoh berikut mengungkapkan ketidakberesan:

1. Modal kerja yang tidak cukup

Hal ini dapat menunjukkan masalah seperti ekspansi yang berlebihan, penurunan pendapatan, transfer atau pemindahan dana ke perusahaan yang lain, kredit yang tidak memadai, dan pengeluaran yang berlebihan. Pemeriksa intern berhati-hati terhadap pengalihan dana ke perusahaan pribadi melalui metode-metode seperti penjualan yang tidak tercatat dan pengeluaran yang fiktif.

2. Perputaran yang cepat dalam posisi keuangan

Kehilangan personil akuntansi dan keuangan dan yang penting dapat menandai kinerja yang tidak memadai dan mengakibatkan kelemahan dalam pengendalian intern. Akuntabilitas untuk dana dan sumber daya yang lain harus ditetapkan ketika pemberhentian pekerjaan.

3. Penggunaan procuremen pemasokan sendiri (sole-source procurement)

Praktik-praktik procuremen yang baik mendorong kompetisi untuk memastikan bahwa organisasi memperoleh material atau peralatan yang diperlukan dengan harga yang paling baik. Procuremen pemasokan sendiri, apabila tidak cukup dijustifikasi menunjukkan favoritisme atau pembayaran kembali (kickbacks) yang potensial.

4. Biaya perjalanan yang berlebihan

Dalam menelaah perjalanan, auditor perlu berhati-hati untuk perjalanan yang tidak diotorisasi atau pribadi, dan perjalanan atau biaya-biaya lain yang tidak disokong.

5. Pemindahan dana antara perusahaan afiliasi atau divisi

Suatu pola pemindahan dana antar perusahaan atau divisi mungkin menunjukkan pinjaman yang tidak diotorisasi, penutupan kekurangan, atau pengendalian yang tidak memadai atas dana.

6. Perubahan auditor luar

Dalam kasus tertentu, perubahan auditor luar dapat menunjukkan perbedaan opini mengenai metode yang sesuai dalam menangani transaksi tertentu. Mungkin terdapat suatu keengganan dari manajemen untuk mengungkapkan masalah atas kejadian yang penting.

7. Biaya konsultan atau honor legal yang berlebihan

Hal ini dapat merupakan indikasi adanya penyalahgunaan dalam memeproleh jasa yang dilakukan di luar, favoritisme, dan masalah yang tidak diungkapkan dalam organisasi yang memerlukan pekerjaan legal ekstensif.

8. Kecenderungan yang menurun dalam angka dan rasio finansial.

Penggunaan rasio, perubahan, dan analisis kecenderungan dapat menunjukkan masalah dalam area tertentu yang memerlukan tindak lanjut. Kecenderungan yang menurun dapat merupakan gejala kerugian yang signifikan, pengalihan dana dan sumber daya, dan pengendalian yang tidak memadai atas operasi.

9. Benturan kepentingan (Conflict of interest) yang dilaporkan.

Auditor harus sadar mengenai desas-desus atau alasan-alasan dari pertentangan kepentingan yang berhubungan dengan pemekerjaan luar, pengaturan pemasok, dan hubungan antara karyawan. Transaksi perusahaan dengan pejabat atau karyawan harus secara hati-hati diteliti dengan cermat.

10. Kekurangan yang tidak dapat dijelaskan delam aktiva fisik.

Penyimpanan fisik yang tidak memadai dapat mengakibatkan pencurian atau pengalihan aktiva yang lain. Kekurangan dalam aktiva harus dianalisis secara teliti untuk menentukan penggunaan aktiva tersebut.

11. Penurunan dalam kinerja

Salah satu divisi perusahaan dapat kurang berprestasi dibandingkan dengan divisi yang lain. Lagi pula, mungkin terjadi suatu penurunan dalam kinerja dari pengalaman sebelumnya. Alasan harus ditentukan untuk indikasi atas pengelolaan yang buruk atau adanya kemungkinan perbuatan salah.

12. Pengendalian manajemen oleh sedikit individual

Dominasi dari organisasi oleh satu atau sedikit individual adapat menciptakan kesempatan untuk pengalihan aktiva atau manipulasi yang lain.

13. Kesulitan penagihan

Masalah dalam menagih piutang harus dianalisis untuk emnentukan apakah terdapat penjualan yang fiktif atau pengalihan dana yang diterima dari penagihan.

14. Banyak akun bank

Penggunaan banyak akun bank melebihi apa yang secara normal diperlukan mungkin menunjukkan pengalihan dana atau penutupan transaksi yang ilegal. Pemiindahan antar akun dan ke akun bank pribadi harus ditelaah dengan hati-hati.

15. Laporan yang terlambat

Laporan mungkin selalu terlambat disampaikan karena penyusun laporan dapat memanipulasi data untuk menutup tindakan curang.

16. Copy digunakan untuk pembayaran kepada kreditor

Daripada menggunakan pembayaran berdasarkan faktur orisinil/asli, copy dapat digunakan untuk menutup pembayaran ganda dan pembayaran kembali (kickback).

17. kekurangan, kelebihan dan kondisi yang tidak seimbang.

Hal diatas dapat merupakan gejala dari suatu masalah yang lebih besar dan penjelasan harus diperoleh mengenai penyimpangan/varian tersebut.

18. Cek atau dokumen lain yang ditulis dalam angka bulat.

Misalnya, suatu cek mungkin tercantum Rp 10.000.000,- atau Rp 3.500.000,- padahal cek atau dokumen tersebut secara normal diharapkan dalam angka tidak bulat, misalnya Rp 10.000.261,34 atau Rp 3.500.032,28.

Disarikan dari buku: Audit Manajemen Kontemporer, Penulis: Drs. Amin Widjaja Tunggal, AK. MBA., Halaman: 305-308.

    Cetak       Email
  • Publish: 4 tahun ago on Kamis 31 Januari 2013
  • By:
  • Last Modified: Januari 21, 2013 @ 12:27 pm
  • Filed Under: Audit
  • Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Internal

Selengkapnya →