Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Akhir Deregulasi Bunga

Oleh   /   Jumat 14 November 2014  /   Tidak ada komentar

Setelah 31 tahun, deregulasi bunga deposito perbankan berakhir pada 30 September 2014. Otoritas Jasa Keuangan memberlakukan pembatasan bunga deposito untuk bank dengan modal inti di atas Rp 5 triliun mulai 1 Oktober 2014.

keuanganLSM

Akhir Deregulasi Bunga

Sumber: Kompas, Kamis, 2 Oktober 2014

Setelah 31 tahun, deregulasi bunga deposito perbankan berakhir pada 30 September 2014. Otoritas Jasa Keuangan memberlakukan pembatasan bunga deposito untuk bank dengan modal inti di atas Rp 5 triliun mulai 1 Oktober 2014.

Pada 1 Juni 1983, Bank Indonesia (BI) membebaskan perbankan menetapkan suku bunga simpanan dan pinjaman. Dengan kebijakan itu, bank bisa menetapkan sendiri suku bunga deposito, tabungan, dan kredit.

Pada 1 Januari 2014, pengawasan dan pengaturan perbankan berpindah dari BI ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah berdiskusi dengan berbagai pihak, OJK memutuskan untuk membatasi suku bunga deposito bank. Penetapan bunga deposito yang semula berada di luar jangkauan regulasi, kini bisa dikendalikan aturan.

Suku bunga deposito bank umum kegiatan usaha (BUKU) III (bank dengan modal inti Rp 5 triliun-Rp 30 triliun) dibatasi 225 basis poin (2,25 persen) di atas suku bunga acuan BI yang saat ini 7,5 persen. Adapun bunga deposito BUKU IV (modal inti di atas Rp 30 triliun) dibatasi 200 basis poin di atas suku bunga acuan BI. Dengan demikian, bunga deposito BUKU III maksimal 9,75 persen dan BUKU IV maksimal 9,5 persen.

Sejak akhir 2013 hingga September 2014, suku bunga deposito memang terus naik. Bahkan, walaupun rata-rata suku bunga deposito pada Juli lalu hanya 8,67 persen, ada bank yang memberikan bunga deposito hingga 11 persen. OJK menilai, perang suku bunga deposito antar bank sudah tak masuk akal. Bahkan, persaingan itu hanya menguntungkan kurang dari 1 persen nasabah dengan simpanan di atas Rp 5 miliar per nasabah yang menguasai 45 persen sumber pendanaan bank. Selama ini mereka menekan bank untuk memberikan bunga deposito tinggi.

Bank seperti tak punya pilihan karena memang likuiditas sedang ketat. Statistik perbankan Indonesia Juli 2014 yang diterbitkan OJK pada pertengahan September lalu memperlihatkan, rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (LDR) perbankan umum berada di posisi 92,19 persen. LDR merupakan rasio kredit yang disalurkan perbankan dengan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan. Pada Juli 2014, dana yang dipinjamkan industri perbankan umum mencapai Rp 3.495 triliun, sedangkan DPK mencapai Rp 3.787 triliun.

Sepanjang 2014, likuiditas perbankan memang makin ketat sehingga OJK dan BI mengarahkan pertumbuhan kredit ke rentang 15-17 persen. Tahun lalu, kredit masih tumbuh 21,7 persen. Perlambatan kredit perbankan sepanjang 2014 ikut berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Pengetatan likuiditas perbankan tak lepas dari kian timpangnya pertumbuhan kredit dengan pertumbuhan DPK. Pada Juli 2014, misalnya, kredit tumbuh 15,6 persen dari Rp 3.045 triliun menjadi Rp 3.521,6 triliun dalam setahun. Dana pihak ketiga hanya tumbuh 11,6 persen dari Rp 3.392,9 triliun menjadi Rp 3.787 triliun. Pada Desember 2013, kredit tumbuh 21,7 persen setahun. Namun, DPK hanya tumbuh 13,6 persen. Perang bunga deposito ternyata tak cukup ampuh mengatrol pertumbuhan DPK.

Setelah suku bunga deposito dibatasi, suku bunga pinjaman akan bergerak turun. Pada akhirnya, kegiatan ekonomi diharapkan bisa meningkat lagi sehingga pertumbuhan ekonomi terdorong. Selamat datang regulasi baru. (A Handoko)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Sangat Perlu Dukungan Akses Pembiayaan

Selengkapnya →