Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Akuntansi Aset (Bagian 2/2)

Oleh   /   Senin 1 Juni 2015  /   Tidak ada komentar

Aset tidak lancar adalah aset yang terdiri dari beberapa macam aset, masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, dimiliki serta digunakan dalam kegiatan operasional dengan kompensasi penggunaan berupa biaya depresiasi (penyusutan).

keuanganLSM

Akuntansi Aset (Bagian 2/2)

Aset Tidak Lancar

Aset tidak lancar adalah aset yang terdiri dari beberapa macam aset, masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi, dimiliki serta digunakan dalam kegiatan operasional dengan kompensasi penggunaan berupa biaya depresiasi (penyusutan).

Aset tidak lancar meliputi komponen perkiraan:

1) Investasi Jangka Panjang

Adalah aset atau kekayaan yang diinvestasikan pada koperasi sekunder, koperasi lain atau perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun tidak dapat dicairkan, berupa simpanan atau penyertaan modal.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tidak lancar dan dicatat sebesar nilai nominalnya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tidak lancar.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti rincian dari macam investasinya, perjanjian, evaluasi prospek.

2) Properti Investasi

Adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik/koperasi atau lessee melalui sewa pembiayaan) dan dapat menghasilkan sewa atau kenaikan nilai atau kedua-duanya. Properti investasi tidak digunakan untuk kegiatan produksi atau penyediaan barang/jasa, tujuan administratif, atau dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tidak lancar dan dicatat sebesar nilai perolehannya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tidak lancar.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas aset tidak lancar tersebut.

3) Akumulasi Penyusutan Properti Investasi

Adalah “pengurang nilai perolehan” suatu properti investasi, sebagai akibat penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi penyusutan dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur manfaatnya.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan dan nilainya disesuaikan dengan metode penyusutan properti investasi koperasi bersangkutan.
  • Penyajian
    Saldo akumulasi penyusutan properti investasi disajikan sebagai pos pengurang nilai perolehan dari aset tidak lancar.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diungkapkan meliputi metode penyusutan dan umur manfaat yang digunakan.

4) Aset Tetap

Adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam kegiatan produksi, atau penyediaan barang/jasa untuk disewakan ke pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan digunakan lebih dari satu periode. Aset tetap mencakup perkiraan:

a. Tanah/Hak Atas Tanah

Adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk hak atas tanah;

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tetap dan dicatat sebesar nilai perolehan.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tetap.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas aset dan waktu hak penggunaan.

b. Bangunan

Adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai bangunan;

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tetap dan dicatat sebesar nilai perolehannya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tetap.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas aset dan metode penyusutannya.

c. Mesin dan Kendaraan

Adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai jenis mesin, kendaraan atau peralatan produksi;

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tetap dan dicatat sebesar nilai perolehannya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tetap.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas mesin, kendaraan dan peralatan produksi serta metode penyusutannya.

d. Inventaris dan Peralatan Kantor

Adalah kekayaan yang diinvestasikan dalam bentuk berbagai bentuk inventaris dan peralatan kantor;

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tetap dan dicatat sebesar nilai perolehannya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tetap.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas inventaris dan metode penyusutannya.

5) Akumulasi Penyusutan Aset Tetap

Adalah “pengurang nilai perolehan” suatu aset tetap yang dimiliki koperasi, sebagai akibat dari penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi penyusutan dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur manfaatnya.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan yang nilainya disesuaikan dengan metode penyusutan aset tetap koperasi yang bersangkutan.
  • Penyajian
    Saldo akumulasi penyusutan disajikan sebagai pos pengurang dari aset tetap.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diungkapkan seperti metode penyusutan yang digunakan, umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan dan sebagainya.

6) Aset Tidak Berwujud

Adalah aset non-moneter yang dapat diidentifikasi namun tidak mempunyai wujud fisik. Dimiliki untuk digunakan dalam kegiatan produksi atau disewakan kepada pihak lain atau untuk tujuan administratif. Contoh aset tidak berwujud antara lain: hak paten, hak cipta, hak pengusaha hutan, kuota impor/ekspor, waralaba.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Nilai aset tidak berwujud dicatat sesuai dengan nilai perolehan, dan mempunyai masa manfaat ekonomis serta dapat diukur secara andal.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tidak lancar.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan: Umur manfaat atau tarif amortisasi; Metode amortisasi; Akumulasi amortisasi pada awal dan akhir periode; Unsur pada laporan perhitungan hasil usaha yang didalamnya terdapat amortisasi aset tidak berwujud; Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan penambahan, pelepasan, amortisasi dan perubahan lainnya secara terpisah.

7) Akumulasi Amortisasi Aset Tidak Berwujud

Adalah “pengurang nilai perolehan” suatu aset tidak berwujud yang dimiliki koperasi, sebagai akibat dari penggunaan dan berlalunya waktu. Akumulasi amortisasi aset tidak berwujud dilakukan secara sistematis selama awal penggunaan sampai dengan umur manfaatnya.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Amortisasi aset tidak berwujud untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan yang nilainya disesuaikan dengan metode amortisasi aset tidak berwujud koperasi yang bersangkutan.
  • Penyajian
    Saldo akumulasi amortisasi disajikan sebagai pos pengurang dari aset tidak berwujud.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diungkapkan seperti metode amortisasi yang digunakan, umur manfaat atau tarif amortisasi yang digunakan.

8) Aset Tidak Lancar Lain

Adalah aset yang tidak termasuk sebagaimana pada butir 1 sampai dengan 7 seperti bangunan yang belum selesai dibangun.

  • Pengakuan dan pengukuran (Perlakuan)
    Transaksi diakui sebagai aset tidak tetap lain dan dicatat sebesar nilai nominalnya.
  • Penyajian
    Disajikan pada pos aset tidak lancar lain.
  • Pengungkapan
    Hal-hal yang perlu diinformasikan seperti sumber perolehan, rincian atas aset tidak lancar lain.

Sumber: Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

“Judicial Review” dan Kontrol Norma Hukum

Selengkapnya →