Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Analisis Rasio

Oleh   /   Jumat 2 Januari 2015  /   Tidak ada komentar

Laporan perusahaan yang melakukan penggabungan usaha pada akhirnya akan dianalisis oleh para analis. Di sinilah muncul masalah apabila penggabungan usaha menggunakan metode purchase.

keuanganLSM

Analisis Rasio

Kembali pada Ilustrasi 5.1 tentang contoh penggabungan usaha. Laporan perusahaan yang melakukan penggabungan usaha pada akhirnya akan dianalisis oleh para analis. Di sinilah muncul masalah apabila penggabungan usaha menggunakan metode purchase. Pada metode pooling, tidak ada distorsi masa lalu karena data keuangan kedua perusahaan digabung begitu saja sesuai dengan nilai historis. Dengan demikian tidak menimbulkan masalah komparabilitas.

Masalah komparabilitas muncul pada metode penggabungan dengan purchase. Metode purchase menyaratkan adanya penggunaan nilai wajar untuk target sebelum digabung, sementara catatan target sebelumnya menggunakan historis. Pada saat tahun pertama merger akan terjadi masalah komparabilitas. Kembali ke Ilustrasi 5.1, rasio yang berbasis pada aset dan utang akan terpengaruh oleh adanya pilihan metode purchase.

Dalam perhitungan current ratio, pooling berbeda dengan purchase. Sementara dalam perhitungan debt to equity ratio, dua metode juga menghasilkan angka yang berbeda ditambah dengan perbedaan antar purchase apabila menggunakan instrumen keuangan yang berbeda. Purchase dengan penerbitan saham menghasilkan debt to equity ratio yang lebih konservatif. Sementara purchase yang didanai dengan utang jangka panjang membuat debt to equity menjadi lebih buruk.

Minority lnterest

Minority interest (kepentingan minoritas) sering disalahartikan sebagai pemegang saham minoritas suatu perusahaan. Kenyataan seperti ini sering ditemui mereka yang belum mengenal laporan keuangan konsolidasi. Pengertian minority interest yang benar adalah pemegang saham minoritas di anak perusahaan yang terkonsolidasi laporan keuangannya. Jadi minority interest hanya muncul apabila:

  • Perusahaan induk memiliki kurang dari 100%, tetapi lebih dari 50%
  • Laporan perusahaan anak dan induk dikonsolidasikan

Untuk memperjelas uraian di atas, di sini akan digunakan ilustrasi sebuah perusahaan dengan nama Rajawali Holding yang dimiliki oleh dua pihak, yaitu:

  • Delta, memiliki saham 70%, dan
  • Beta, memiliki saham 30%

Setelah beroperasi sekian lama, kemudian Rajawali mengembangkan usahanya dengan membeli perusahaan bernama Pipit sebanyak 80% saham dengan nilai 4.000. Sementara itu sisa 20% saham senilai 1.000 dimiliki oleh Charlie. Gambar 5.4 di bawah dapat mempermudah penjelasan di atas.

Jadi terlihat di sini yang disebut sebagai minority interest adalah Charlie yang memiliki saham 20% di Pipit. Ketika dikonsolidasikan, posisi Charlie terhadap Rajawali adalah bukan sebagai pemegang saham Rajawali. Charlie tetaplah sebagai pemegang saham minoritas di Pipit. Hanya saja karena ikut terkonsolidasi, maka hak Charlie terhadap Pipit yang terkonsolidasi dengan Rajawali dimunculkan dengan minority interest pada sisi kewajiban di laporan keuangan konsolidasi Rajawali.

Kemunculan minority interest di neraca akan diikuti di laba-rugi untuk perhitungan hak atas labanya. Contoh berikutnya di bawah ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jauh mengenai bagaimana terjadinya laporan keuangan konsolidasi. Proses penyusunan laporan konsolidasi pada dasarnya cukup rumit yang merupakan tugas akuntan. Penjelasan ini lebih dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang riil bagaimana munculnya pos minority interest di neraca dan laba-rugi.

Berikut kelanjutan penjelasan dari ilustrasi sebelumnya disertai dengan angka. Rajawali membeli saham 80% Pipit. Nilai aset Pipit adalah 12.000 dan nilai utang Pipit adalah 7.000. Dengan demikian nilai ekuitas dari Pipit adalah 5.000. Untuk mudahnya dianggap nilai buku dan nilai pasarnya adalah sama. Dengan demikian kepemilikan Rajawali di Pipit adalah 4.000 (80% x 5.000), sementara saham lainnya sebesar 20% dimiliki oleh Charlie dengan nilai 1.000.

Kolom 3 menunjukkan investasi Rajawali di Pipit sebesar 4.000, kas Rajawali berkurang 4.000 karena digunakan untuk membeli Pipit. Total asetnya tidak berubah sebesar 40.000. Kolom 4 menunjukkan apabila laporan keuangan Pipit dikonsolidasikan. Masing-masing nilai pos aset dijumlahkan dari kolom 2 dan 3. Sementara itu investasi sebesar 4.000 dieliminasi, karena sudah diwakili dengan aset dari Pipit yang dijumlahkan. Sebagai catatan hak Rajawali terhadap Pipit tetaplah 80%.

Langkah berikutnya adalah menjumlahkan seluruh utang dari kolom 2 dan 3. Pada langkah ini tidak ada penyesuaian tambahan. Sementara itu nilai modal saham dan saldo laba diambil dari kolom 3 saja. Karena saham yang dimiliki Rajawali hanya 80%, maka 20% dari aset Pipit merupakan hak dari Charlie, sementara Charlie bukan pemilik dari Rajawali, maka dibuatlah pos minority interest, yaitu 1.000. Demikianlah terjadinya pos minority interest di neraca konsolidasi.

Minority interest berhak atas aset dan berhak pula atas bagian laba. Dengan demikian Charlie sebagai minority interest berhak atas laba yang diperoleh Pipit. Ilustrasi 5.3 diharapkan dapat memperjelas.

Kita lihat kolom 1 sampai dengan baris laba bersih. Jatah Rajawali terhadap laba Pipit adalah 80%, yaitu 1.600. Jumlah tersebut tercatat di laporan Rajawali apabila menggunakan metode equity seperti di kolom 2. Apabila terkonsolidasi, maka dengan sendirinya nilai laba bersih Pipit sudah tergabung di dalam laporan konsolidasi di kolom 3. Justru jumlah laba yang diperoleh harus dikeluarkan sejumlah hak minoritas Charlie sebanyak 20% sebesar 400, yaitu 20% dari 2.000.

Sebagai tambahan ilustrasi arus kas dapat dilihat pada baris laba bersih sampai terbawah. Pada tahun tersebut Pipit menerima pinjaman sebesar 700 dari Rajawali dan membagikan dividen sebesar 500. Pada baris kas dari operasi kolom 2 muncul angka 10.400, yang merupakan penjumlahan dari laba operasi 10.000 dengan dividen yang diterima sebanyak 400, yaitu 80% dari 500.

Sementara pada laporan keuangan konsolidasi muncul kas dari operasi sebesar 12.000. Selisih antara pos ini di kolom 3 dan 2 adalah adanya equity income sebesar 1.600. Sementara kas dari afiliasi, posisi antara Rajawali dengan metode equity dan Pipit, saling terbalik. Yang satu sebagai penerima dan yang satunya lagi sebagai pemberi pinjaman. Akan tetapi pada laporan konsolidasi pos tersebut saling mengeliminasi. Pos dividen dibayar pada kolom 3 merupakan pembayaran dividen kepada Charlie sebesar 20% dari 500.

Disarikan dari buku: Investigasi Laporan Keuangan & Analisis Rasio Keuangan, Penulis: Toto Prihadi, Hal: 67-73.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pemda Jangan Hanya Andalkan DAU-DAK

Selengkapnya →