Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Apa itu Akuntabilitas LSM?

Oleh   /   Selasa 18 Agustus 2015  /   Tidak ada komentar

Proses pertanggungjawaban adalah berupa kewajiban organisasi yang bekerja untuk kepentingan publik memberikan informasi kepada seluruh pemangku kepentingan mengenai visi, misi, program, tata-kelola dan keuangan secara transparan.

keuanganLSM

Apa itu Akuntabilitas LSM?

Akuntabilitas adalah suatu proses di mana suatu organisasi menganggap dirinya bertanggungjawab secara terbuka mengenai apa yang diyakininya, apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukannya. Ini ditunjukkan dengan cara melibatkan berbagai pihak terkait yang disebut pemangku kepentingan (stakeholders) dengan aktivitas organisasi tersebut, serta memberikan respon terhadap pandangan dan kritik-kritik terhadapnya.

Proses pertanggungjawaban adalah berupa kewajiban organisasi yang bekerja untuk kepentingan publik memberikan informasi kepada seluruh pemangku kepentingan mengenai visi, misi, program, tata-kelola dan keuangan secara transparan. Organisasi juga memberi kesempatan kepada publik untuk mengontrol tindakan organisasi yang bekerja atas nama mereka melalui mekanisme pengaduan (complaint mechanism) dan organisasi wajib memberikan tanggapan yang memadai atas pengaduan tersebut.

Secara operasional mekanisme akuntabilitas diwujudkan dalam bentuk pelaporan (reporting), pelibatan (involving) dan cepat tanggap (responding).

Akuntabilitas dapat diklasifikasikan antara lain sebagai berikut:

  • Akuntabilitas keuangan, yaitu mempertanggungjawabkan penggunaan sumber daya (dana) yang diperoleh dan dipercayakan kepadanya.
  • Akuntabilitas kinerja, mendokumentasikan dan melaporkan hasil-hasil yang diperoleh dibandingkan dengan standar-standar kualitas, sasaran, tujuan serta harapan-harapan yang ingin dicapai.
  • Akuntabilitas ucapan, kejujuran dan ketelitian mengenai apa yang disuarakan serta mempunyai otoritas untuk menyuarakannya.
  • Akuntabilitas untuk meningkatkan diri, tanggap terhadap umpan-balik, melakukan evaluasi/assessment dan melaporkan tindakan-tindakan yang diambil.

Ada empat dimensi akuntabilitas. Pertama adalah transparansi. Organisasi memberikan informasi yang cukup dan berkualitas serta tersedianya media untuk penyebarannya. Sehingga pemangku kepentingan punya akses dan informasi yang cukup untuk mengetahui dan dapat memantau kegiatan dan kinerja organisasi tersebut. Informasi yang cukup itu mencakup visi, misi, tujuan dan program organisasi, jumlah dan sumber dana, struktur organisasi dan susunan pendiri, pengurus dan pelaksana organisasi, serta laporan keuangan. Informasi dapat berupa laporan tahunan, profil organisasi, hasil evaluasi untuk publik serta laporan keuangan.

Kedua adalah partisipasi. Organisasi melibatkan berbagai pihak, internal dan eksternal, dalam proses pengambilan keputusan. Melibatkan pengurus, eksekutif dan staf serta wakil-wakil dari mitra dalam penyusunan perencanaan strategis (renstra) untuk menyusun visi, misi, nilai-nilai, tujuan dan program strategis organisasi. Melibatkan calon penerima manfaat (beneficiaries) dalam penyusunan proposal proyek melalui need assessment dengan melakukan pengumpulan data lapangan: survei, focus group discussion (FGD), wawancara, dan sebagainya.

Ketiga adalah evaluasi. Ada alat dan prosedur untuk mengevaluasi kinerja organisasi.

Keempat tersedianya mekanisme pengaduan (complaint mechanism) di dalam organisasi yang memungkinkan pemangku kepentingan terutama masyarakat umum mengajukan keluhan terhadap keputusan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan organisasi. Serta menjamin bahwa keluhan tersebut benar-benar dibahas dan tindakan-tindakan akan diambil untuk mengoreksinya.

Konsep akuntabilitas LSM dapat didefinisikan tidak hanya sebagai sarana bagi LSM untuk bertanggungjawab atas tindakan-tindakannya, seperti kewajiban hukum dan kewajiban memberikan informasi, tetapi juga sebagai sarana dimana LSM dan individu aktivis LSM mengambil tanggungjawab internal membentuk misi dan nilai-nilai organisasi, membuka diri untuk pengawasan publik, dan untuk menilai kinerja dalam kaitannya dengan tujuan organisasi.

Akuntabilitas diterapkan bersama dimensi-dimensi lainnya seperti melibatkan pemangku kepentingan dan menggunakan standar kinerja, yang dilakukan di berbagai tingkat organisasi LSM.

Mengapa akuntabilitas penting bagi LSM?

  • Meningkatkan kepercayaan publik dan legitimasi kepada LSM sebagai institusi publik dan organisasi masyarakat sipil (civil society).
  • Meningkatkan kredibilitas dan kepercayaan publik bahwa komunitas LSM mempunyai standar moral dan integritas yang tinggi serta perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga dihargai dan dihormati.
  • Menunjukkan kepada para pemangku kepentingan bahwa LSM adalah organisasi yang memiliki tata kelola yang baik, demokratis, professional, menjalankan program dengan kualitas dan kapabilitas yang tinggi, mengelola sumberdaya secara efektif, efisien dan bertanggungjawab sehingga terhindar dari tindak korupsi dan praktek negatif lainnya.
  • Meningkatkan posisi tawar terhadap pihak luar seperti pemerintah, pihak swasta, lembaga donor, dan lain-lain.
  • Dengan meningkatnya akuntabilitas, maka kredibiltas dan kepercayaan pemangku kepentingan akan meningkat, dan posisi tawar LSM terhadap pihak luar seperti pemerintah dan sektor swasta juga meningkat. Dengan meningkatnya posisi tawar, peran LSM yang merupakan salah satu komponen utama organisasi masyarakat sipil sebagai kekuatan penyeimbang terhadap peran negara (pemerintah) dan pasar (sektor swasta) dapat terwujud.

Sumber: konsillsm.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Tahapan Penyusunan Anggaran Desa

Selengkapnya →