Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Aset Pajak yang Ditangguhkan (Deferred Tax Asset)

Oleh   /   Senin 30 April 2012  /   Tidak ada komentar

Aset pajak yang ditangguhkan muncul dari perbedaaan sementara yang dapat dikurangkan. Suatu aset pajak yang ditangguhkan, diakui atas perbedaan sementara yang dapat dikurangkan jika hal itu mungkin bahwa laba kena pajak cukup tersedia.

keuanganLSM

Aset Pajak yang Ditangguhkan (Deferred Tax Asset)

Aset pajak yang ditangguhkan muncul dari perbedaaan sementara yang dapat dikurangkan. Suatu aset pajak yang ditangguhkan, diakui atas perbedaan sementara yang dapat dikurangkan jika hal itu mungkin bahwa laba kena pajak cukup tersedia. Namun, tidak ada aset pajak yang ditangguhkan, yang diakui atas perbedaan sementara yang dapat dikurangkan jika ditimbulkan karena dari:

  • Pengakuan awal dari aset dan liabilitas yang tidak mempengaruhi akuntansi dari laba atau rugi kena pajak;
  • Pengakuan awal aset dan liabilitas yang bukan bagian dari kombinasi bisnis; atau
  • Kemungkinan bahwa yang terkait dengan suatu aset pajak yang ditangguhkan, maka perbedaan sementara diharapkan untuk melanjutkan proyeksi ke masa depan dan tidak ada laba kena pajak yang tersedia terhadap perbedaan sementara yang dapat diperseimbangkan (offset).

Laba kena pajak yang cukup untuk memanfaatkan potongan pajak yang tersedia bilamana perbedaan sementara yang dapat dikurangkan akan dibalikkan di dalam periode akuntansi yang sama atau bahwa saldo rugi akan diteruskan ke periode berikutnya atau saldo rugi akan diambil dari periode yang lalu. Aset pajak yang ditangguhkan, yang akan dibalik pada periode mendatang, harus diabaikan karena terkait dengan laba pada periode mendatang.

Kesempatan perencanaan pajak akan menciptakan laba kena pajak pada periode mendatang dengan baik untuk memanfaatkan rugi fiskal atau kredit pajak.

Pada akhir setiap periode pelaporan, suatu entitas harus menilai aset pajak yang ditangguhkan yang belum diakui. Bilamana hal itu menjadi mungkin bahwa laba kena pajak periode mendatang akan mengizinkan aset pajak yang ditangguhkan, untuk dipulihkan, maka entitas harus mengakui aset pajak yang ditangguhkan yang belum diakui sebelumnya hingga sejauh itu.

 

Akuntansi untuk Pajak yang Ditangguhkan

Aset dan hutang pajak yang ditangguhkan harus diukur atas dasar tarif pajak yang diterapkan pada periode tersebut ketika aset direalisasikan atau hutang yang diselesaikan dan harus didasarkan pada tarif pajak dan undang-undang perpajakan yang terkait dengan periode pelaporan. Aset dan hutang pajak yang ditangguhkan tidak harus didiskontokan, karena sulit untuk menentukan waktu yang benar dari penjurnalbalikan untuk setiap perbedaan sementara.

Perbedaan sementara juga dapat timbul dari penyesuaian atas konsolidasi. Walaupun dasar pengenaan pajak dari suatu pos seringkali ditentukan oleh nilai di dalam laporan keuangan yang terpisah, maka pajak yang ditangguhkan, ditentukan atas dasar dari laporan keuangan konsolidasi. Oleh karena itu, perbedaan nilai tercatat dari suatu pos dalam laporan keuangan konsolidasi dan di dalam laporan keuangan yang terpisah menimbulkan suatu perbedaan sementara. lAS 12 tidak secara langsung menyatakan bagaimana laba dan rugi antarkelompok perusahaan harus diukur untuk tujuan perpajakan. Namun, karena standar menyatakan bahwa harapan perlakuan pemulihan atau penyelesaian pajak harus dipertimbangkan, tarif pajak untuk perusahaan yang menerima harus digunakan bilamana menghitung provisi pajak yang ditangguhkan karena perusahaan yang menerima akan dikenakan pajak bilamana aset atau hutang tersebut direalisasi.

Proses akuntansi untuk pajak yang ditangguhkan adalah untuk:

  • Menyusun suatu laporan posisi keuangan yang meliputi semua aset dan liabilitas dan dasar pengenaan pajaknya;
  • Membandingkan jumlah tercatat di dalam laporan posisi keuangan dengan dasar pengenaan pajak. Selisih, jika ada, akan memengaruhi perhitungan pajak yang ditangguhkan secara normal;
  • Mengidentifikasi perbedaan sementara yang tidak diakui oleh karena pengecualian yang ditetapkan dalam standar ini;
  • Menerapkan tarif pajak terhadap perbedaan sementara;
  • Menentukan pergerakan antara saldo awal dan saldo akhir pajak yang ditangguhkan;
  • Memutuskan apakah aset dan liabilitas pajak yang ditangguhkan, disalinghapuskan (offset) antara perusahaan yang berbeda dapat diterima di dalam laporan keuangan konsolidasi; dan
  • Mengakui perubahan bersih dalam perpajakan yang ditangguhkan.

Disarikan dari buku: Memahami IFRS, Penulis: Nandakumar Ankarath, Dr. T.P. Ghosh, dkk.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pemda Jangan Hanya Andalkan DAU-DAK

Selengkapnya →