Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Asset Tidak Berwujud

Oleh   /   Senin 29 September 2014  /   Tidak ada komentar

Asset tidak berwujud (intangibles assets) tidak mempunyai wujud fisik signifikan dibanding asset tetap, sehingga dibuatkan kelompok tersendiri, terpisah dari asset tetap. Saat ini semakin banyak perusahaan yang hidupnya mengandalkan pada asset tidak berwujud.

keuanganLSM

Asset Tidak Berwujud

Asset tidak berwujud (intangibles assets) tidak mempunyai wujud fisik signifikan dibanding asset tetap, sehingga dibuatkan kelompok tersendiri, terpisah dari asset tetap. Saat ini semakin banyak perusahaan yang hidupnya mengandalkan pada asset tidak berwujud. Sebagaimana sifat asset lainnya, maka asset tidak berwujud dapat dibuat sendiri atau dibeli dari pihak lain. Cara identifikasi asset tidak berwujud lebih rumit.

Asset tidak berwujud yang dibuat sendiri, secara akuntansi harus mempunyai dasar pengakuan yang jelas. Asset tidak berwujud juga akan disusut (diamortisasi) sepanjang mempunyai batas umur tertentu. Beberapa jenis asset tidak berwujud antara lain:

  • Lisensi (license)
  • Hak atas kekayaan intelektual (intellectual property right)
  • Merk dagang (brand nama)
  • Perangkat lunak (software)
  • Hak paten (patent)
  • Hak cipta (copyright)
  • Daftar pelanggan (customer list)
  • Waralaba (francice)
  • Hak pengusahaan hutan
  • Muhibah (goodwill)

Goodwill akan dibahas secara terpisah dalam bab Penggabungan Usaha.

Riset & Pengembangan

Isu yang paling sering dibahas dalam asset tak berwujud adalah riset dan pengembangan (research and development, R&D). Secara akuntansi riset dan pengembangan dikategorikan sebagai beban laba-rugi dan tidak boleh dikapitalisasi sebagai asset tak berwujud. Dalam valuasi, riset dan pengembangan diperlukan sebagai investasi.

Untuk menemukan produk baru, perusahaan dapat melakukan riset. Harapannya adalah produk baru dapat menggantika produk lama, karena setiap produk mempunyai umur, sehingga setiap saat suatu produk akan menua dan mati. Perusahaan dapat hidup dengan beberapa cara, antara lain:

  • Hidup dari produk existing (sekarang)
  • Hidup dari produk baru

Apabila pilihannya adalah seumur hidup dari produk yaitu existing maka perusahaan cenderung mangandalkan efisiensi, biaya semurah mungkin, marjin tipis dan volume banyak. Pilihan kedua mengandalkan pertumbuhan dengan menjual produk baru bermajin tinggi. Terhadap produk baru yang menciptakan peluang untuk ditiru, maka perusahaan punya pilihan untuk:

  • Tidak memproteksi
  • Mematenkan

Pada produk baru yang mengandalkan teknologi dan umurnya pendek, maka paten kurang bermanfaat. Kondisi ini bisa terjadi di teknologi informasi. Pada industry farmasi, paten di Amerika dapat melindungi produk selama 17 tahun. Kunci sukses perusahaan menjual produk baru adalah R&D. sebagai contoh Lipitor adalah produk paten dari Pfizer yang sangat laris. Pada tahun 2011, produk tersebut akan habis masa patennya.

Ketika perusahaan melakukan R&D, ada beberapa masalah antara lain:

  • Pada tahap awal R&D tidak selalu teridentifikasi dengan jelas ke produk mana riset tersebut mengarah
  • Ketika arah riset ke produk sudah jelas, belum tentu produk tersebut laku dijual di pasar

Sebagai catatan bahwa menurut SFAS (statemen of financial accounting standard), R&D langsung dibebankan, sama dengan PSAK. Jadi R&D tidak dikapitalisasi. Karena nilainya sangat besar maka R&D dipisahkan tersendiri. R&D yang sangat besar menunjukan bahwa perusahaan berusaha untuk menemukan terus produk baru. Jarak antara penemuan dengan komersialisasi produk bisa lama. Tetapi apabila perusahaan ingin menjadi pemimpin di industrinya, maka R&D adalah tumpuhan masa depan perusahaan.

Sebagai perbandingan di bawah ini akan ditampilkan beberapa laporan laba-rugi menyangkut R&D. yang pertama adalah Pfizer. Pfizer adalah perusahaan farmasi yang sangat besar. Mungkin kalau pembaca ingat Viagra, maka Pfizer adalah produsennya. Pfizer membuat produk dengan harga pokok sangat rendah, yaitu sekitar 16%. Mungkin harga pokok serendah ini tidak akan ditemui dilaporan keuangan perusahaan di Indonesia.

Satu hal yang sangat menarik adalah besarnya R&D antara 16-17%. Satu angka yang besarnya nyaris sama dengan harga pokok. Berbeda kasusnya apabila perusahaan adalah pembuat obat genetic yang sudah habis masa patennya, maka R&D akan kecil. Tetapi tidak ada follower tanpa adanya leader. Bagi analis, besarnya R&D menunjukan komitmen investasi, walaupun ssecara akuntansi tetap dicatat sebagai beban (expense). Penurunan R&D pada perusahaan seperti Pfiter akan diwaspadai sebagai turunnya pertumbuhan penjualan di waktu yang akan datang. Contoh kedua adalah Nokia.

Nokia adalah pemimpin besar pasar untuk mobile phone. Sebagai perusahaan dengan produk beragam dari yang murag sampai dengan yang mahal, tentunya memerlukan dukungan bagian riset yang kuat. Yang membedakan antara Pfizer dan Nokia terkait dengan riset adalah karakter produk.

Produk farmasi inovatif sangat memerlukan perlindungan paten, sementara untuk produk teknologi seperti telepon seluler daur hidupnya relative pendek. Laporan laba-rugi Nokia akan memperkaya pemahaman kita mengenai peran biaya riset di perusahaan pemimpin pasar. Biaya riset Nokia masih dibawah Pfizer, sementara karakteristik laba kotor nokia mirip dengan perusahaan perdagangan.

laporan keuangan pfizer2

laporan keuangan nokia

Contoh terakhir adalah perusahaan farmasi local, yaitu Kalbe Farma. Harga pokok penjualah Kalbe Farma sekitar 49%. Sementara biaya riset dan pengembangan kurang dari 1%. Angka ini paling tidak memberikan wawasan kepada pembaca bagaimana intensitas riset di perusahaaan terdepan dibandingkan intensitas riset di perusahaan farmasi nasional, walaupun merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar.

laporan keuangan kalbe farma

Kesimpulan:

Asset tetap sering merupakan asset terbesar dalam perusahaan. Dalam pembangunannya asset tetap bisa makan waktu yang lama dengan sumber dana utang, sehingga menimbulkan bunga. Secara akuntansi bunga bisa dimasukkan ke dalam nilai asset tetap. Dalam analisis terkait interest coverage, bunga akan dihitung secara gross, termasuk di dalamnya adalah bunga selama masa konstruksi.

Pada perusahaan farmasi R&D menjadi kunci sukses untuk mereka yang berusaha untuk tumbuh dengan produk baru. R&D tidak dikapitalisasi menjadi asset. Perhatian terhadap beban R&D perlu diberikan terutama apabila akan melihat ke depan. Pemimpin pasar produk elektronik seperti mobile phone juga membutuhkan biaya riset yang besar, walaupun sangat berbeda karakter laba kotornya.

Disarikan dari buku: Investigasi Laporan Keuangan & Analisis Rasio Keuangan, Penulis: Toto Prihadi, Hal: 24-31.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Akuntansi untuk UKM: Tahap-tahap Akuntansi

Selengkapnya →