Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Audit Sosial secara Umum

Oleh   /   Sabtu 21 Juli 2018  /   Tidak ada komentar

Audit sosial merupakan salah satu bidang dalam ilmu sosial terapan yang penting dalam pembangunan, terutama untuk memberdayakan masyarakat. Proses audit sosial menyediakan alat yang dapat digunakan oleh organisasi untuk menjamin ketepatan mencapai tujuan sosial.

keuanganLSM

Audit Sosial secara Umum

Konsep atau istilah audit sosial mulai dikenal tahun 1960 oleh The Social Economic Agency (Irlandia Utara) saat mengadakan pelatihan kepada in organisasi untuk melatih para auditor lembaga maupun konsultan eksternal agar dapat menerapkan dan memanfaatkan metode audit sosial ini.

Beberapa pakar mendefinisikan pengertian audit sosial, antara lain:

  • Social auditing is a process that enables an organization to assess and demonstrate its social, economic, and environmental benefit and limitations. It is a way of measuring the extent to which an organization lives up to the shared values and objective it has committed it self to. Social auditing provides an assessment of the impact of an organization’s non financial objectives through systematically and regularly monitoring, each performance and the views of its stakeholders (Boyd, 1998).
  • Social auditing is the process whereby an organization can account for its social performance, report on and improve that performance. Social auditing assesses the social impact and behaviour of an organization in relation to its aims (Pierce and Kays, 2001 dalam Anonim, 2005).
  • The social audit process provides a tool for organizations to use, if they choose so, to measure how well they are achieving their social objectives. It is a way of more accurately describing what you as an organization are achieving. It allows you to demonstrate to others what you are and what you do (Pierce and Kays,2001 dalam Anonim, 2005).

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat ditegaskan bahwa konsep audit sosial mengandung pengertian sebagai proses untuk memahami dan mengukur institutional performances dari aspek sosial (non finansial). Audit sosial dapat memperlihatkan hasil nyata (outcome), dampak dan manfaat lembaga terhadap lingkungan sosial yang muncul sebagai akibat pelaksanaan pencapaian tujuan lembaga melalui pemantauan yang sistematik dan pandangan stakeholders secara demokratis. Boyd (1998) menyatakan: “social auditing requires the involvement of stakeholders because it has been shown to increase accountability of the organization to its stakeholders and to enhance democratic practice”.

Audit sosial merupakan salah satu bidang dalam ilmu sosial terapan yang penting dalam pembangunan, terutama untuk memberdayakan masyarakat. Proses audit sosial menyediakan alat yang dapat digunakan oleh organisasi untuk menjamin ketepatan mencapai tujuan sosial. Dengan kata lain audit bukanlah tujuan melainkan suatu instrumen untuk mencapai tujuan yaitu mencari nilai manfaat (goal oriented process). Ini merupakan cara akurat untuk menggambarkan apa yang telah dicapai oleh suatu lembaga. juga dapat menuntun organisasi untuk menjelaskan mengapa, siapa dan apa (kebijakan maupun tindakan) yang dilakukan oleh lembaga. Pelaksanaan audit sosial selalu melibatkan stakeholders agar proses demokrasi terwujud dan untuk meningkatkan akuntabilitas lembaga.

Berdasarkan kerangka ketatanegaraan, ada tiga jenis akuntabilitas yaitu democratic accountability, professional accountability dan legal accountability. Audit sosial merupakan upaya untuk menjawab akuntabilitas berdasarkan kepuasan stakeholders dan staf, selain dari aspek finansial, aspek operasi kegiatan internal, dan aspek waktu.

Institusi dan organisasi sosial dalam mengadakan audit sosial, biasanya didasarkan pada beberapa alasan, antara lain:

  • Keinginan membentuk community enterprise yang menyediakan pelayanan masyarakat sehingga perlu menetapkan performance seperti apa yang diinginkan;
  • Dapat menguji opini orang lain sehingga dapat membantu perencanaan selanjutnya;
  • Dapat memberikan data kualitatif dan kuantitatif untuk menuntun organisasi sehingga memberikan performance terbaik;
  • Memberikan gambaran obyektif kegiatan yang dilakukan lembaga dan memaparkan keunikan dan keberhasilan lembaga tersebut sebagai bukti pertanggungjawaban kepada lembaga donor maupun kepada masyarakat sebagai penerima manfaat program; keinginan untuk menerapkan nilai sebagai agent of change di dalam masyarakat serta mencari ide atau cara baru.

Disarikan dari buku: Manual Audit Sosial Multi Stakeholder, Penulis: Ilham Cendekia Srimarga, Muchammad Fahazza, Widi Heriyanto, Hal: 7-10.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (2/4)

Selengkapnya →