Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Biaya-biaya di Luar Kendali Organisasi

Oleh   /   Jumat 30 Oktober 2015  /   Tidak ada komentar

Jika praktik pelaporan keuangan dalam akuntansi keuangan tradisional masih diterapkan, maka kinerja sebuah organisasi/perusahaan sangat tergantung hanya kepada transaksi-transaksi keuangan yang dilaksanakan.

Biaya-biaya

Biaya-biaya di Luar Kendali Organisasi

Biaya telah didefinisikan dengan tidak memasukkan pengakuan terhadap dampak dari sumber daya yang di luar kendali organisasi/perusahaan (seperti biaya lingkungan). Sebagai contoh, di Australia, biaya untuk tujuan pelaporan keuangan didefinisikan berikut (paragraph 117 dari Statement of Accounting Concept No.4):

Consumptions or losses of future economic benefits in the form of reductions in assets or increases in liabilities of the entity, other than those relating to distributions to owners, that result in a decrease in equity during the reporting period.

Pemahaman tentang biaya juga memerlukan pemahaman tentang aset/aktiva. Aset atau aktiva umumnya didefinisikan sebagai keuntungan ekonomi di masa yang akan datang yang ada dalam kendali sebuah organisasi/perusahaan sebagai hasil dari transaksi atau kejadian di masa lalu. Pengakuan atas sebuah aset/aktiva tergantung kepada masalah pengendalian atau kekuasaan atas aset/aktiva bersangkutan.

Dalam SAC No.4 paragrap 27, secara eksplisit dinyatakan bahwa sumber-sumber lingkungan seperti udara dan air dipakai secara bersama-sama dan tidak dikendalikan/dikuasai oleh organisasi/perusahaan tertentu, sehingga sebuah organisasi/perusahaan tidak bisa mengakuinya sebagai aktiva/aset. Demikian juga di Indonesia, dinyatakan bahwa air, udara dan sumber-sumber alam lainnya adalah milik negara. Konsekuensi terhadap akuntansi adalah pemakaian dan penurunan nilai dan kualitas lingkungan tidak diakui sebagai biaya harus dipandang sebagai keterbatasan yang sangat signifikan dari akuntansi keuangan tradisional.

Misalnya, ada sebuah organisasi/perusahaan yang merusak kualitas air di lingkungan setempat, membunuh makhluk hidup di laut sekitarnya dan vegetasi pantai. Dalam akuntansi keuangan tradisional, jika organisasi/perusahaan tersebut tidak memasukkan denda atau aliran kas lainnya yang berhubungan dengan perusakan lingkungan tersebut sebagai dampak dari operasi dan aktivitasnya, berarti tidak ada pengakuan terhadap eksternalitas. Laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan organisasi/perusahaan bersangkutan dikalkulasi berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum, yang secara langsung tidak akan terpengaruh. Demikian juga dengan aktiva yang dilaporkan juga tidak akan terpengaruh oleh eksternalitas tersebut.

Alasan mengapa biaya-biaya lingkungan tidak diakui adalah karena sumber daya seperti air dan lingkungan tersebut tidak berada dalam pengendalian atau kekuasaan organisasi/perusahaan tersebut, sehingga bukan merupakan aset/aktiva yang bisa diakui kepemilikannya.Pemakaian atau pengrusakan terhadap sumber-sumber daya tersebut tidak akan diakui. Jika praktik pelaporan keuangan dalam akuntansi keuangan tradisional masih diterapkan, maka kinerja sebuah organisasi/perusahaan sangat tergantung hanya kepada transaksi-transaksi keuangan yang dilaksanakan, dan akan sangat mungkin dinilai sangat bagus karena menghasilkan laba keuangan yang tinggi. Dalam menanggapi hal tersebut, Gray dan Bebbington mempunyai opini tentang akuntansi keuangan tradisional seperti berikut ini:

There is something profoundly wrong about a system of measurement, a system that makes things visible and which guides corporate and national decisions that can signal success in the midst of desecration and destruction.

Termotivasi oleh adanya keterbatasan akuntansi keuangan tradisional, Gray dan Bebbington telah menelurkan ide tentang pengembangan metode alternatif dalam akuntansi keuangan. Metode tersebut diyakini sebagai metode akuntansi alternatif yang mendukung agenda pembangunan berkelanjutan, dengan melakukan kalkulasi terhadap biaya-biaya sustainibilitas (sustainable cost) yang disubtraksikan dari laba akuntansi untuk mengukur kinerja yang disebut dengan laba sustanibilitas (sustainable profit). Kita akan membahas resep dari Gray dan Bebbington ini di bagian selanjutnya di bab ini.

Disarikan dari buku: Tujuan Pelaporan Keuangan, Penulis: Suwaldiman, M.Accy., SE., Akt., Hal: 96-98.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pemda Jangan Hanya Andalkan DAU-DAK

Selengkapnya →