Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Dasar Penyusunan Standar (Conceptual Framework)

Oleh   /   Senin 13 Agustus 2018  /   Tidak ada komentar

Standar akuntansi disusun atas dasar suatu hasil pemikiran yang logis yang terhimpun dalam suatu rerangka konseptual. Rerangka konseptual merupakan hasil suatu proses penalaran dan pemikiran akuntansi yang diharapkan berlaku dalam lingkungan dan kondisi tertentu.

keuanganLSM

Dasar Penyusunan Standar (Conceptual framework)

Standar akuntansi disusun atas dasar suatu hasil pemikiran yang logis yang terhimpun dalam suatu rerangka konseptual (conceptual framework). Rerangka konseptual merupakan hasil suatu proses penalaran dan pemikiran akuntansi yang diharapkan berlaku dalam lingkungan dan kondisi tertentu, yang merupakan hasil dari pemilihan faktor-faktor dan konsep-konsep yang dianggap relevan, sehingga merupakan seperangkat konsep yang terpadu dan saling berkaitan. Rerangka konseptual tersebut diharapkan dapat menjadi landasan atau acuan baik bagi badan penyusun standar untuk menciptakan standar akuntansi yang baru, maupun bagi para praktisi untuk menilai apakah suatu perlakuan akuntansi tertentu yang tidak diatur dalam standar dapat diterima.

FASB mendefinisikan rerangka konseptual sebagai berikut:[1]

Conceptual framework is a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and reporting. It is expected to serve the public interest by providing structure and direction to financial accounting and reporting to facilitate the provision of evenhanded financial and related information that is useful in assisting capital and other markets to function efficiently in allocating scarce resources in the economy.

Tujuan penyusunan rerangka acuan konseptual adalah supaya penyusunan standar akuntansi bisa konsisten dalam arti standar akuntansi yang satu tidak bertentangan dengan atau menyimpang dari standar-standar lainnya. Dengan adanya rerangka konseptual diharapkan semua standar akuntansi yang diundangkan diderivasikan dari konsep-konsep yang sama, karena itu standar-standar tersebut akan membentuk satu kesatuan aturan yang fungsional dan terpadu. Secara lebih rinci dapat disimpulkan bahwa fungsi rerangka koriseptual berdasarkan definisi FASB di atas adalah sebagai berikut:

  • untuk menjadi pedoman bagi badan penyusun standar akuntansi dalam menyusun standar akuntansi,
  • untuk menghilangkan inkonsistensi dalam penyusunan standar akuntansi,
  • untuk menjadi pedoman dan acuan dalam mengevaluasi dan menilai praktik akuntansi dan standar yang telah ada,
  • untuk menghilangkan kontroversi seputar penyusunan standar akuntansi.

Rerangka acuan konseptual dapat dianalogikan sebagai undang-undang dasar yang berlaku dalam suatu negara. Sedangkan standar akuntansi dapat dianalogikan sebagai peraturan hukum atau perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan undang-undang dasar tersebut. Segala peraturan hukum dalam suatu negara harus bersumber dan dijiwai oleh undang-undang dasar negara bersangkutan, agar tindakan-tindakan yang terjadi dalam masayarakat konsisten dengan tujuan negara. Peraturan dan ketentuan hukum dapat berubah sesuai dengan perkembangan kondisi negara, sedangkan undang-undang dasar negara bersifat cukup permanen. Demikian pula dalam akuntansi, rerangka acuan konseptual berlaku cukup permanen, dan hanya ada satu rerangka acuan konseptual dalam suatu lingkup wilayah penerapan akuntansi. Standar akuntansi mungkin lebih dari satu, misalnya standar akuntansi keuangan, standar akuntansi dana/pemerintahan, standar akuntansi perminyakan, standar akuntansi perpajakan, standar akuntansi koperasi, standar akuntansi perbankan syariah, dan lain-lain. Standar akuntansi mungkin juga akan mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan kebutuhan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi akuntansi.

Sebagai undang-undang dasar dalam akuntansi, rerangka acuan konseptual tentunya merupakan hasil pemikiran yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek lingkungan yang ada, sehingga standar akuntansi yang disusun atas dasar rerangka acuan konseptual tersebut menimbulkan praktik akuntansi yang menjamin tercapaianya tujuan pelaporan keuangan yang ditetapkan. Penyusunan rerangka acuan konseptual harus dilakukan seeara hati-hati dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi, karena rerangka acuan konseptual tidak hanya berlaku untuk jangka waktu tertentu saja. Hendriksen menguraikan langkah-langkah dan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menyusun rerangka acuan konseptual yang menjadi dasar struktur akuntansi yang berlaku dalam lingkungan tertentu:[2]

  1. Pernyataan tentang karakteristik lingkungan ekonomi, politik, budaya dan sosial tempat akuntansi akan diterapkan. Misalnya saja pernyataan tentang sistem ekonomi, iklim usaha, bentuk-bentuk usaha yang umum dan cara pemenuhan modalnya.
  2. Pernyataan tentang tujuan pelaporan keuangan.
  3. Penetapan kendala-kendala (constraints) yang mengarahkan atau mempengaruhi proses penalaran. Misalnya saja, identifikasi dan evaluasi terhadap kebutuhan pemakai akan informasi keuangan dan kendala-kendala pemakai untuk memahami, menginterpretasi, dan menganalisis informasi yang disajikan kepada mereka. Juga identifikasi karakteristik kualitatif informasi keuangan sebagai kendala pemilihan informasi yang dianggap relevan.
  4. Identifikasi dan pemilihan informasi apa yang harus disajikan dan simbol atau elemen laporan keuangan apa yang dapat merepresentasi makna informasi tersebut.
  5. Pengembangan dan pendefinisian elemen atau simbol yang menjadi sarana untuk mengkomunikasikan informasi tentang operasi suatu unit usaha dan lingkungannya.
  6. Identifikasi dan evaluasi terhadap kendala-kendala mengenai pengukuran, penilaian, dan pengakuan serta pengungkapan informasi ke dalam elemen laporan keuangan.
  7. Pengembangan standar akuntansi yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengukuran, penilaian, penga,kuan dan penyajian elemen laporan keuangan.
  8. Perancangbangunan (designing) struktur dan format sistem informasi (prosedur, metode dan teknik) untuk mengumpulkan dan mengolah data serta untuk meringkas dan melaporkan informasi yang relevan.
  9. Penerapan dalam situasi yang sesungguhnya berdasarkan prosedur dan metode yang dipilih.

Berdasarkan uraian tersebut, maka suatu rerangka konseptual akan terdiri dari:

  • pernyataan tentang tujuan-tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting),
  • pernyataan tentang identifikasi para pemakai laporan keuangan,
  • pernyataan tentang kualitas dan keterbatasan laporan keuangan,
  • aturan-aturan tentang dasar pengukuran, penilaian, pengakuan dan penyajian elemen-elemen laporan keuangan,
  • definisi-definisi elemen laporan keuangan.

Dari yang telah diuraikan di atas jelaslah bahwa tujuan pelaporan keuangan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu rerangka acuan konseptual maupun dalam standar akuntansi.

[1] FASB, SFAC No. 2: Qualitative Characteristics of Accounting Information, (Stamford Connecticut, May 1980), hal. i.

[2] Eldon S. Hendriksen, Accounting Theory, (Homewood Illinois: Richard D. Irwin Inc., 1982), hal. 58-59.

Disarikan dari buku: Tujuan Pelaporan Keuangan, Penulis: Suwaldiman, M.Accy., SE., Akt., Hal: 25-28.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Karakteristik LSM

Selengkapnya →