Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Definisi Neraca Saldo

Oleh   /   Jumat 12 Januari 2018  /   Tidak ada komentar

Untuk kepentingan keakuratan sebelum saldo-saldo tersebut disajikan dalam laporan keuangan, penting dilakukan koreksi dan atau penyesuaian. Untuk kepentingan keakuratan, perusahaan biasanya menyusun neraca saldo.

keuanganLSM

Neraca Saldo

Telah dijelaskan di atas bahwa saldo-saldo rekening akan tersaji dalam laporan keuangan. Untuk kepentingan keakuratan sebelum saldo-saldo tersebut disajikan dalam laporan keuangan, penting dilakukan koreksi dan atau penyesuaian. Untuk kepentingan keakuratan, perusahaan biasanya menyusun neraca saldo. Neraca saldo merupakan gabungan seluruh rekening, baik rekening-rekening riil (neraca), maupun rekening-rekening nominal (laba/rugi), dalam klasifikasi debet dan kredit. Neraca saldo PT A disajikan pada Peraga 4.5.

1-7-2015 12-13-30 PM

Rekening aset dan rekening beban memiliki tipe saldo yang sama, yakni “Debet”. Oleh sebab itu rekening-rekening ini digabung dalam kelompok “Debet”. Rekening-rekening Utang, Modal, dan Pendapatan adalah bersaldo yang sama, yakni saldo “Kredit”. Dengan demikian rekening-rekening ini berada dalam satu kelompok. Jumlah total sisi debet neraca saldo harus sama dengan jumlah total sisi kredit. Dapat dilihat pada Peraga 4.5 bahwa jumlah total debet neraca saldo adalah sama dengan jumlah total kredit, yakni Rp44.400.000.000.

Keseimbangan jumlah debet dan kredit neraca saldo adalah semestinya, karena seluruh yang tersaji dalam neraca saldo adalah berasal dari transaksi yang dicatat secara seimbang antara debet dan kredit. Neraca saldo menunjukkan bahwa penjumlahan aset dan beban yang bersaldo normal “debet” akan sama dengan penjumlahan utang, modal, dan pendapatan, yang saldo normalnya kredit.

Neraca saldo merupakan salah satu alat control untuk mengetahui human error dalam pencatatan transaksi. Bila terjadi kesalahan pencatatan transaksi, nilai saldo debet neraca saldo tidak akan sama dengan nilai saldo kreditnya.

Koreksi dan Penyesuaian

Koreksi atau penyesuaian atas neraca saldo penting dilakukan sebelum la-poran keuangan disajikan. Ada beberapa alasan yang menyebabkan koreksi dan penyesuaian perlu dilakukan.

Terdapat transaksi-transaksi yang sebenarnya terjadi setiap hari, bahkan setiap saat terjadi, tetapi pembukuan tidak mungkin mencatatnya setiap saat. Dalam Bab III telah dijelaskan bahwa aset yang menyusut atau di-gunakan akan menjadi beban. Aset tetap mengalami penyusutan seiring waktu. Ketika aset tetap menyusut sesungguhnya terjadi transaksi, yakni beban penyusutan bertambah dan aset berkurang. Transaksi ini harus dicatat setiap saat karena aset menyusut setiap saat. Hal ini kurang efisien dilakukan. Akan lebih efisien jika transaksi ini dicatat sekali saja, yakni pada saat penyajian laporan keuangan. Neraca saldo PT A pada Peraga 4.5. menyajikan nilai mesin sebesar Rp8 M dan bangunan Rp12 M. Mesin dan bangunan adalah aset tetap yang mengalami penyusutan. Misalkan mesin digunakan untuk mengawetkan produk yang tengah diantar ke pelanggan yang lokasinya di luar kota. Perusahaan mengklasi-fikaasi mesin dengan kode rekening 1.2.1.1.

1-7-2015 12-14-26 PM

Misalkan mesin disusutkan berdasarkan pemakaian jam kerja. Beban penyusutan mesin diklasifikasikan sebagai beban penjualan lainnya de-ngan kode rekening.5.2.1.3. Saldo mesin per 31/12/2014 yang disajikan pada peraga 4.6 terdiri dari dua harga perolehan, yakni mesin dengan harga perolehan Rp6 Milyar yang telah ada pada awal tahun dan mesin dengan harga perolehan Rp2 Milyar yang dibeli per tanggal 2 Maret tahun 2014. Mesin yang harga perolehannya Rp6 Milyar memiliki kapa-sitas 3.000.000 jam. Mesin yang harga perolehannya Rp2 Milyar memi-liki kapasitas 1.000.000 jam. Beban penyusutan kedua mesin tersebut dengan demikian adalah sama, yakni Rp2.000 per jam. Selama tahun berjalan mesin yang harga perolehannya Rp6 Milyar digunakan 200.000 jam, dan mesin harga pokoknya Rp2 M dipakai 100.000 jam. Beban penyusutan tahun 2014 adalah Rp600 juta, yakni Rp2.000 x 300.000 jam. Oleh sebab itu perusahaan melakukan penyesuaian (adjustment) atas beban penyusutan pada kode rekening 5.2.1.3 sebagai berikut beri-kut.

Kode 5.2.1.3              Debet             Beban Penjualan Lain       Rp600.000.000
Kode 1.2.1.1.2            Kredit            Akumulasi Penyusutan    Rp600.000.000

Penyesuaian atas beban penyusutan bangunan juga harus dilakukan. Bangunan perusahaan telah ada pada tahun 2013, seperti tersaji dalam neraca per 31/12/2013 pada Peraga 4.3. Misalkan bangunan tersebut adalah gedung kantor dengan nomor rekening 1.2.3.2. Peraga 4.7 menyajikan nilai gedung per 31/12/ 2014.

1-7-2015 12-14-51 PM

Beban penyusutan atas bangunan untuk administrasi kantor dildasifikasikan sebagai beban administrasi, yakni kode rekening 5.2.2.2. Misalkan bangunan kantor disusutkan selama 20 tahun, atau dengan beban penyusutan per tahun Rp600 juta, penyesuaian yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Kode 5.2.2.2        Debet                  Beban Administrasi lain                    Rp600.000.000
Kode 1.2.3.2.2     Kredit                 Akumulasi Penyusutan Bangunan   Rp600.000.000

  • Supplies merupakan persediaan yang dipakai dalam operasi perusahaan. Ketika supplies digunakan dalam operasi pada dasarnya telah terjadi transaksi akuntansi, yang mengurangi aset dan menimbukan beban, yakni beban pemakaian supplies. Sangat tidak efisien untuk mencatat transaksi pemakaian supplies setiap hari. Jauh lebih efisien jika pencatatan dilakukan secara periodik. Dalam kasus PT A, misalnya, supplies yang digunakan sepanjang tahun 2014 sebesar Rp400 juta. Karena supplies merupakan perlengkapan kantor, beban pemakaian supplies diklasifikasikan sebagai beban administrasi kantor dengan kode 5.2.2.2. sebagai berikut.
    Kode 5.2.2.2         Debet             Beban administrasi lain      Rp400.000.000
    Kode 1.1.3.2          Kredit             Supplies                                 Rp400.000.000
  • Ada kalanya perusahaan mencatat pengeluaran untuk suatu beban yang belum terjadi sebagai pembayaran di muka. Dalam transaksi tanggal 5 Juni 2014, misalnya, perusahaan membayar sewa gedung yang akan digunakan sejak tanggal 1 Juli untuk jangka waktu 4 tahun sejumlah Rp6 M, atau per tahun Rp1,5 Milyar. PT A mencatat pengeluaran tersebut sebagai aset, yakni sewa dibayar di muka pada tanggal 5 Juni 2014. Akan tetapi, setelah gedung baru ditempati per tanggal 1 Juli 2014, tahun 2014 telah terjadi beban selama 1/2 tahun yakni sejak 1 Juli hingga 31 Desember 2014, yakni sejumlah Rp750 juta. Perusahaan harus melakukan koreksi atas beban dibayar di muka sebesar Rp750 juta yang telah menjadi beban. Karena bangunan yang disewa itu digunakan untuk pemasaran, beban sewa bangunan diklasifikasikan sebagai beban penjualan lain dengan kode rekening 5.2.1.3, sebagai berikut.
    Kode 5.2.1.3.        Debet             Beban Penjualan Lain         Rp750.000.000
    Kode 1.1.4.0         Kredit             Beban Dibayar Di Muka     Rp750.000.000
  • Transaksi-transaksi tertentu ada kalanya belum dicatat karena kondisi tertentu. Besarnya beban listrik dan telepon, misalnya, baru diterima pada pada bulan berikutnya. Beban ini baru dapat dicatat ketika diterima tagihan. Pembayaran gaji karyawan juga dilakukan pada tiap tang-gal tertentu. Ada kalanya pembayaran gaji dilakukan pada tiap awal bulan berikutnya. Beban gaji sebenarnya terjadi dan diakui pada saat karyawan bekerja, tetapi pembayarannya biasanya disepakati setiap tanggal tertentu. Misalkan dalam kasus PT A, pada akhir tahun dihi-tung gaji karyawan yang harus dibayar sebesar Rp450 juta, terdiri dari beban gaji bagian penjualan Rp250 juta dan bagian administrasi Rp200 juta. Perusahaan harus mencatat gaji yang harus dibayar tersebut sebagai berikut.
    Kode 5.2.1.2         Debet             Beban Gaji-Penjualan        Rp250.000.000
    Kode 5.2. 2.1        Debet             Beban gaji-Administrasi     Rp200.000.000
    Kode 2.1.2.           Kredit             Utang Gaji                             Rp450.000.000
  • Kesalahan pencatatan transaksi. Human error dapat terjadi dalam pencatatan laporan keuangan. Misalnya angka suatu transaksi Rp72 dicatat sebagai Rp27, angka Rp 1 M dicatat Rp100 juta, dan lainnya. Dalam penyusunan laporan keuangan, kesalahan ini biasanya ditemukan. Akuntansi tidak mengizinkan koreksi kesalahan dengan mengganti angka atau mencoret angka yang salah. Untuk koreksi, akuntansi mensyaratkan dilakukan jurnal koreksi. Misalnya, kas yang diterima sebesar Rp4 M pada transaksi tanggal 7 Juli 2014 ternyata tidak seluruhnya berasal dari penagihan piutang dagang. Sejumlah Rp500 juta kas tersebut berasal dari penjualan dengan nomor faktur 00205. Penemuan kesalahan ini mengharuskan perusahaan membuat jurnal koreksi. Perusahaan telah mengkreditkan piutang dagang pada tanggal 7 Juli sebesar Rp4 Milyar yang seharusnya Rp3,5 Milyar. Oleh sebab itu, piutang dagang harus ditambah atau didebetkan kembali senilai Rp500 juta. Sebagai kreditnya adalah penjualan sebesar Rp500 juta, karena penerimaan kas tersebut berasal dari penjualan. Jurnal koreksi dengan demikian sebagai berikut.
    Kode 1.1.2.1         Debet             Piutang Dagang      Rp500.000.000
    Kode 4.1.1.0        Kredit             Penjualan                 Rp500.000.000

Koreksi dan penyesuaian ini membuat laporan keuangan lebih mencerminkan realitas ekonomi. Peraga 4.8 menyajikan kertas kerja neraca saldo setelah penyesuaian dan koreksi. Kolom ketiga neraca pada Peraga 4.8 menyajikan neraca saldo sebelum koreksi. Kolom keempat yang dibagi menjadi kolom debet dan kredit merupakan kolom koreksi dan penyesuaian. Jumlah kolom debet dan kredit harus seimbang karena koreksi dan penyesuaian dilakukan pada jumlah yang sama antara debet dan kredit. Oleh karena neraca saldo sebelum penyesuaian memiliki jumlah yang seimbang antara debet dan kredit, koreksi & penyesuaian juga memiliki saldo yang seimbang antara debet dan kredit, maka neraca saldo setelah penyesuaian pun harus memiliki saldo yang seimbang antara debet dan kredit. Hal ini menunjukkan akurasi perhitungan. Peraga 4.8 menunjukkan hal yang demikian. Jumlah total debet dan kredit neraca saldo setelah koreksi seimbang, yakni Rp45.350.000.000. Pada kolom koreksi & penyesuaian, saldo debet dan kredit juga seimbang, yakni Rp3.300.000.000.

1-7-2015 12-15-15 PM

Disarikan dari buku: Akuntansi untuk Non-Akuntan, Penulis: Golrida Karyawati P, Hal: 73-80.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Proses SDM Berbelit-Belit

Selengkapnya →