Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Fakta dalam ASMS

Oleh   /   Jumat 25 September 2015  /   Tidak ada komentar

Dalam audit sosial dengan metode ASMS, setiap komponen penilaian akan memiliki satu pertanyaan kunci. Pertanyaan kunci tersebut harus relevan/mencerminkan tujuan dari komponen penilaian tersebut.

fakta dalam ASMS

Fakta dalam ASMS

Fakta dalam ASMS adalah keadaan-keadaan mengenai implementasi program bantuan sosial yang muncul dieksplorasi dalam proses audit sosial. Yang disebut fakta dalam audit sosial ini adalah keadaan-keadaan yang telah disepakati keberadaannya/kebenarannya oleh para peserta. Keadaan-keadaan yang dimaksud dapat berupa kasus, persoalan, praktek-praktek baik atau buruk, kebijakan-kebijakan yang baik atau buruk dan sebagainya. Fakta-fakta tersebut digali pada setiap komponen penilaian dari matriks tersebut.

Skor

Skor adalah nilai yang diberikan oleh peserta terhadap fakta-fakta pada setiap komponen penilaian. Skor dalam audit sosial merupakan suatu hasil consensus dari peserta setelah mereka melihat fakta-fakta yang ada dalam satu komponen penilaian. Dalam audit sosial ini skor membentang dari angka “1” hingga angka “4”. Angka “1” dianggap sebagai skor terendah, dimana peserta merasa tidak puas dengan keadaan (fakta) mengenai implementasi program bantuan sosial yang dinilainya.

Sedangkan angka “4” dianggap sebagai skor tertinggi, dimana peserta sangat puas dengan keadaan (fakta) dari implementasi program bantuan sosial yang dinilainya. Sementara angka “2” menyatakan peserta kurang puas dan angka “3” menyatakan bahwa peserta “agak puas” dengan keadaan implementasi program bantuan sosial yang dinilainya.

Perhatikan, dalam “skorsing” tidak ada angka tengah. Hal ini untuk mencegah peserta menilai “netral” dengan memilih skor tengah.

Pertanyaan Kunci

Pertanyaan kunci dalam suatu workshop adalah pertanyaan untuk memandu agar forum menghasilkan jawaban sesuai dengan tujuan dari suatu workshop. Karena itu, pertanyaan kunci harus merefleksikan tujuan dari workshop itu. Dalam audit sosial, khususnya Audit Sosial Multistakeholder (ASMS), pertanyaan kunci juga harus merefleksikan tujuan dari audit sosial tersebut. Dalam pelaksanaan audit sosial dengan metode ASMS, fasilitator pada dasarnya dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan kunci sesuai dengan konteks forum. Namun pertanyaan kunci harus mencerminkan tujuan dari ASMS yang dijelaskan di atas.

Dalam audit sosial dengan metode ASMS, setiap komponen penilaian akan memiliki satu pertanyaan kunci. Pertanyaan kunci tersebut harus relevan/mencerminkan tujuan dari komponen penilaian tersebut. Misalnya pada Komponen Penilaian Efektivitas Pelaksanaan Distribusi  pertanyaan kunci yang mungkin dimunculkan adalah “Bagaimana kemampuan penyedia pelayanan untuk melakukan pengalokasian dan distribusi dana bantuan?”.

Pertanyaan kunci umumnya menjadi pertanyaan awal untuk memulai suatu topik dalam diskusi. Dalam fasilitasi forum, pertanyaan kunci adalah jantung bagi sebuah diskusi. Pertanyaan kunci yang baik akan mengarahkan diskusi menjadi positif.

Kriteria dari pertanyaan kunci yang baik adalah:

  • Focus pada Komponen Penilaian: setiap pertanyaan kunci harus mengarah pada salah satu (dan hanya pada satu) Komponen Penilaian. Contoh pertanyaan misalnya adalah “bagaimana akses masyarakat terhadap hasil pelaporan penggunaan dana program?”. Pertanyaan kami tersebut tepat karena berfokus pada Komponen Penilaian: Pelaporan Akses Masyarakat.
  • Eksplorasi Fakta: setiap pertanyaan kunci harus mendorong terjadinya eksplorasi fakta, bukan mengarah pada satu jawaban tertutup (ya atau tidak). Misalnya pertanyaan kunci seperti “Apakah ada peraturan untuk transfer dana program?” akan membawa pada suatu jawaban “Ya” atau “tidak” saja. Sebaiknya pertanyaan itu diganti dengan pertanyaan yang lebih eksploratif seperti “Bagaimana kecukupan peraturan untuk transfer dana program?”.
  • Tidak Mengarahkan pada Judgement/Penghakiman: setiap pertanyaan kunci hendaknya tidak mengarahkan peserta untuk mengambil penilaian terlalu dangkal yang mengakibatkan judgement atau penghakiman atas peserta lain (mengingat ini adalah pertemuan multi-stakeholder). Pertanyaan seperti “Bagaimana penyelewengan yang terjadi dalam distribusi dana di tingkat desa” adalah pertanyaan yang sebaiknya tidak digunakan. Karena pertanyaan tersebut sudah mengcap ada penyelewengan dari awal.
  • Deskriptif: pertanyaan kunci harus mendorong peserta untuk mendeskripsikan fakta, oleh karena itu sebaiknya digunakan kata “bagaimana”, bukan “siapa”, “kapan”, “dimana” atau “apakah”.
    Pertanyaan Kunci
1 Transfer-Eksistensi Kebijakan Bagaimana tingkat kebaikan dari peraturan mengenai transfer dari dana program yang ada?
2 Transfer-Efektivitas Pelaksanaan Bagaimana efektivitas kebijakan transfer dari program tersebut?
3 Transfer-Akses Masyarakat Bagaimana tingkat kelengkapan dan ketepatan peraturan informasi mengenai transfer dana
4 Distribusi-Eksistensi Kebijakan Bagaimana tingkat kelengkapan dan ketepatan peraturan mengenai distribusi dana program?
5 Distribusi-Efektivitas Pelaksanaan Bagaimana kemampuan penyedia pelayanan untuk melakukan pengalokasian dan distribusi dana bantuan?
6 Distribusi-Akses Masyarakat Bagaimana kemudahan bagi masyarakat untuk terlibat dalam penentuan sasaran distribusi dan mendapat informasi tentang proses distribusi?
7 Pelaporan-Eksistensi Kebijakan Bagaimana tingkat kecukupan peraturan untuk memastikan adanya pelaporan dari penyedia pelayanan?
8 Pelapora-Efektivitas Pelaksanaan Bagaimana kapasitas dari lembaga penyedia pelayanan untuk melaksanakan pelaporan penggunaan dana program?
9 Pelaporan-Akses Masyarakat Bagaimana kapasitas dan ruang yang disediakan untuk masyarakat untuk mengakses laporan terkait program?

 

10 Mekanisme Komplain-Eksistensi Peraturan Bagaimana ketersediaan peraturan yang menjamin bagi masyarakat untuk dapat melakukan pengaduan jika terdapat ketidakpuasan atas layanan?
11 Mekanisme Komplain-Efektivitas Pelaksanaan Bagaimana kapasitas dari pemerintah/penyelenggara layanan untuk menangani komplain
12 Mekanisme Komplain-Akses Masyarakat Bagaimana kapasitas masyarakat untuk dapat melakukan complain atas layanan?

 

Disarikan dari buku: Manual Audit Sosial Multi Stakeholder, Penulis: Ilham Cendekia Srimarga, Muchammad, Hal: 36-39.

    Cetak       Email
  • Publish: 2 tahun ago on Jumat 25 September 2015
  • By:
  • Last Modified: Desember 17, 2015 @ 9:40 am
  • Filed Under: Artikel, Audit
  • Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Akuntansi untuk UKM: Tahap-tahap Akuntansi

Selengkapnya →