Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Umum  >  Artikel saat ini

Investasi: Faktor Pertumbuhan Reksa Dana di Indonesia

Oleh   /   Jumat 4 November 2011  /   Tidak ada komentar

Jika dilihat pertumbuhan jenis reksa dana yang ada di Indonesia maka reksa dana pendapatan tetap merupakan produk yang paling diminati oleh investor selain reksa dana pasar uang dan reksa dana saham.

keuangan LSM

Berdasarkan fakta selama ini, reksa dana di Indonesia yang mayoritas berbasis obligasi rekap merupakan instrumen investasi yang diciptakan untuk mengatasi lemahnya intermediasi perbankan di Indonesia

Oleh: Teddy Budiman Tjandra, S.E.,MM.

Jika dilihat pertumbuhan jenis reksa dana yang ada di Indonesia maka reksa dana pendapatan tetap merupakan produk yang paling diminati oleh investor selain reksa dana pasar uang dan reksa dana saham. Berdasarkan data Februari 2005, market share NAB reksa dana pendapatan tetap mencapai 89,1% dari total NAB reksa dana yang dikelola secara nasional dan apabila diamati lebih rinci penyebab melonjaknya NAB reksa dana pendapatan tetap adalah maraknya produk reksa dana berbasis obligasi rekap perbankan. Mulai maraknya reksa dana berbasis obligasi rekap perbankan pada 2002, padahal telah mulai diperdagangkan pada 1999, tidak terlepas dari dua penyebab. Pertama, penurunan suku bunga SBI pada waktu itu telah mendorong penurunan suku bunga deposito yang menyebabkan deposito semakin tidak menarik bagi nasabah. Kedua, penurunan suku bunga menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan nilai pasar obligasi sehingga momentum ini dimanfaatkan oleh bank-bank rekap untuk melepas obligasi rekapnya.

Salah satu kiat yang ditempuh bank agar deposan tidak pindah ke bank lain yang berani memberikan suku bunga lebih tinggi adalah dengan menawarkan produk deposito yang dikaitkan dengan obligasi rekap.

Di samping momentum yang tepat melalui penurunan suku bunga, keinginan bank rekap untuk melepaskan obligasi rekap secepat mungkin tidak terlepas dari masih terbatasnya kemampuan daya absorbsi pasar sekunder obligasi rekap, sulitnya menukarkan obligasi rekap dengan portofolio kredit yang cocok dari BPPN (asset to bond swap program), dan keinginan bank rekap untuk menata portofolio asetnya ke arah yang lebih produktif, yaitu yang berfokus pada pemberian kredit. Bagi bank yang intermediasi kreditnya berjalan dengan baik, penurunan suku bunga SBI tidak terlalu berpengaruh karena suku bunga pinjaman pada umumnya tidak ikut menurun dengan sendirinya mengikuti suku bunga SBI. Sebaliknya, bagi bank dengan porsi kredit yang relatif kecil di dalam asetnya, penurunan suku bunga SBI ini jelas akan semakin menurunkan pendapatan dari investasi yang suku bunganya terkait dengan SBI.

Adanya tekanan penurunan suku bunga pada sisi aktiva dan pasiva ini akan mengganggu posisi keuangan bank. Bagi bank yang mengalami penurunan hasil investasi akibat penurunan suku bunga SBI, harus terus berupaya menurunkan biaya bunga pada sisi liabilities, sekaligus tetap mempertahankan deposannya agar tidak pindah ke bank lain. Salah satu kiat yang ditempuh bank agar deposan tidak pindah ke bank lain yang berani memberikan suku bunga lebih tinggi adalah dengan menawarkan produk deposito yang dikaitkan dengan obligasi rekap.

Untuk meningkatkan return dari deposito yang dikaitkan dengan obligasi rekap yang ditawarkan (sesuai aturan Izin Perdagangan Obligasi Pemerintah pada BI sesuai dengan PBI No. 2/2/ PBI/2000 tentang Penatausahaan dan Perdagangan Obligasi Pemerintah Bab IV Pasal17), bank bekerja sama dengan manajer investasi membentuk unit reksa dana berbasis obligasi rekap agar memperoleh insentif pembebasan PPh final. Sedangkan untuk mengurangi risk dengan mengalihkan dana dari deposito ke reksa dana yang tidak dijamin pemerintah, bank melindungi nasabahnya dengan menciptakan klausul promise to buy back, juga biasa disebut repo, obligasi rekap yang dibeli perusahaan reksa dana jika pendapatan dari obligasi rekap sudah tidak menarik lagi.

Cerita menjadi terbalik, ketika suku bunga perbankan meningkat yang disebabkan inflation adjustment seperti saat ini. Return yang ditawarkan obligasi rekap (seperti halnya obligasi lainnya) relatif menjadi lebih rendah daripada suku bunga perbankan. Akibatnya nilai obligasi turun yang berdampak pada penurunan NAB reksa dana yang berbasis obligasi. Kondisi inilah yang memicu terjadinya redemption yang menyebabkan biaya bagi sektor perbankan yang melakukan penjaminan.

Berdasarkan fakta selama ini, reksa dana di Indonesia yang mayoritas berbasis obligasi rekap merupakan instrumen investasi yang diciptakan untuk mengatasi lemahnya intermediasi perbankan di Indonesia. Reksa dana berbasis obligasi rekap dianggap instrumen terbaik bagi bank untuk mempertahankan nasabah, menjaga likuiditas arus kas, dan menurunkan liabilities (karena NAB reksa dana tidak dicatat dalam pembukuan bank). Namun satu hal yang perlu digarisbawahi di sini bahwa reksa dana berbasis obligasi rekap hanya akan memiliki keunggulan komparatif terhadap investasi bentuk lain dan mampu menarik investor hanya jika terhadap perusahaan reksa dana tidak dikenakan pajak dan suku bunga obligasi rekap masih di atas suku bunga deposito perbankan.

Disarikan dari buku: Menjadi Kaya Melalui Reksa Dana, editor: Eko B. Supriyanto dan Randy Pangalila, halaman: 13-16.

    Cetak       Email
  • Publish: 8 tahun ago on Jumat 4 November 2011
  • By:
  • Last Modified: Januari 8, 2013 @ 9:06 am
  • Filed Under: Umum
  • Tagged With:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Membuat SDM Dihargai

Selengkapnya →