Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Fraud dan Fraud Examiner Di Masa yang Akan Datang

Oleh   /   Kamis 9 Agustus 2018  /   Tidak ada komentar

Melihat penomena fraud yang tak kunjung menurun, dengan jenis-modus fraud yang semakin pintar dan canggih, rasanya sudah saatnya bagi perusahaan untuk menerapkan sistim antisipasi fraud yang semakin dimutakhirkan.

keuanganLSM

Fraud dan Fraud Examiner Di Masa yang Akan Datang

Tentu saja, yang di atas hanya sebagian dari contoh modus fraud yang terjadi di dalam perusahaan. Kian hari, orang yang tidak bertanggungjawab kian kreatif dan cerdik. Ditambah lagi dengan kehadiran prianti berteknologi tinggi, ke depannya fraud akan semakin marak terjadi. Dengan semakin meningkatnya jumlah dan frekuensi transaksi berbasis internet, internal fraud mungkin akan mulai bergeser ke eksternal fraud; pencurian (uang, data, informasi bernilai tinggi) yang dilakukan oleh pihak luar perusahaan.

Melihat penomena fraud yang tak kunjung menurun, dengan jenis-modus fraud yang semakin pintar dan canggih, rasanya sudah saatnya bagi perusahaan untuk menerapkan sistim antisipasi fraud yang semakin dimutakhirkan (bukan sekedar sistim pengendalian intern yang usang).

Note (untuk adik-adik mahasiswa): Profesi ‘fraud examiner‘ ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan. Untuk sektor pemerintah, tentu sudah ada inspektorat jenederal (depkeu) dan bawasda (daerah), tetapi untuk sektor swasta sampai saat ini, fraud examiner di Indonesia masih langka (bahkan mungkin belum ada). Di luar sana, sertifikasi dan profesi fraud examiner sudah banyak tersedia. Saya belum tahu, apakah di Indonesia sudah ada. Jika sudah ada, coba pertimbangkan untuk mengambil pendalaman profesi ini (selain auditor laporan keuangan yang sudah umum). Lebih bagus lagi jika dikombinasikan dengan IT Forensic.

Tak kalah pentingnya, dari apa yang sudah saya lihat, seringkali perusahaan sudah memiliki sistim pengendalian intern yang efektif untuk mendeteksi fraud, SAYANGNYA BELUM memiliki ‘fraud respon system’ yang memadai. Akibatnya, fraud terdeteksi, tertangkap, tetapi tidak tahu harus memberlakukannya seperti apa. Tentu, fraud besar seperti yang dilakukan oleh Melinda D langsung diserahkan ke kepolisian untuk diproses ke pengadilan, bagaimana dengan fraud yang skalanya lebih kecil? Apakah pemecatan sudah/belum cukup? Sejauh ini belum ada standard operating procedure (SOP) yang pasti. Untuk itu, kehadiran ‘fraud respond system’ kiranya sudah semakin krusial bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia. Menurut anda?

Disarikan dari website: jurnalakuntansikeuangan, 29 Mei 2012

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (2/4)

Selengkapnya →