Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita Media  >  Artikel saat ini

“Grameen Bank” ala Kota Kendari

Oleh   /   Senin 28 November 2011  /   Tidak ada komentar

Kredit mikro ini merupakan program Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, untuk membantu permodalan usaha mikro, khususnya yang dijalankan kaum perempuan.

keuangan LSM

Petugas Badan Layanan Umum Daerah Kredit Mikro Kota Kendari (kanan), mencairkan pinjaman kepada salah satu nasabah.

Sumber: KOMPAS, Senin, 28 November 2011, Hal 24.

Oleh: Mohamad Final Daeng

Kredit mikro ini merupakan program Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, untuk membantu permodalan usaha mikro, khususnya yang dijalankan kaum perempuan.

 

Tiga tahun lalu tak pernah terbayang di benak Erniyati (30), usaha kue kecilnya akan berjalan lancar seperti sekarang. Pesanan selalu bisa dipenuhi, bahan baku melimpah, dan penghasilan meningkat tiga kali lipat. Hanya dengan ”sentuhan” modal Rp 500.000, ibu dua anak itu bisa menatap optimistis hidupnya.

Erni merupakan salah satu nasabah Badan Layanan Umum Daerah Kredit Mikro Harum yang dijalankan Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), sejak tahun 2008. Ia membuka usaha pesanan berbagai macam kue kering dan basah untuk menambah penghasilan suaminya yang bekerja sebagai penjahit.

”Kalau tidak ada pinjaman itu, entah bagaimana nasibnya usaha saya ini,” kata Erni, saat ditemui di rumahnya di Kecamatan Mandonga, Kendari, Kamis (20/10). Ia masih ingat bagaimana dulu memulai usaha dengan modal sangat minim. Saking minimnya, sering kali ia kesulitan membeli bahan-bahan seperti terigu, gula, dan telur untuk memenuhi pesanan pelanggan.

”Untuk beberapa kilogram terigu saja harus utang dulu sama pedagang yang sudah kenal di pasar, nanti kalau kuenya sudah dibayar baru saya lunasi,” ujarnya. Saat mendapat pesanan dalam jumlah besar, Erni malah kebingungan. Kadang pesanan itu terpaksa ditolak karena kesulitan modal tadi. Tak heran jika usahanya itu hanya berjalan di tempat.

Kini semua masalah itu tinggal kenangan. Pada 2008, Erni dianjurkan ketua rukun tetangganya mengajukan kredit usaha mikro yang baru diluncurkan Pemkot Kendari. Dengan membentuk kelompok beranggotakan 3-5 orang, nasabah memperoleh pinjaman sebesar Rp 500.000 per orang dan bisa ditingkatkan hingga maksimal Rp 3 juta jika pembayaran lancar.

Tidak seperti lembaga keuangan konvensional, pinjaman itu tak memerlukan jaminan apalagi membebani dengan bunga mencekik. Nasabah hanya dikenakan biaya jasa administrasi Rp 28.000 per pinjaman Rp 500.000. Jangka pengembalian selama 100 hari dengan sistem cicilan yang bisa disesuaikan sendiri oleh nasabah, yakni harian, mingguan, atau per 10 hari.

Dengan kredit itu, Erni bisa menjalankan bahkan mengembangkan usahanya. Saat ini plafon pinjamannya sudah mencapai Rp 3 juta. Dari keuntungan usahanya, ia kini sudah bisa menyicil sebuah sepeda motor. ”Alhamdulillah, sekarang kalau mengantar pesanan kue tak perlu lagi naik ojek,” ujarnya.

Karena modalnya menjadi lebih besar, Erni pun bisa meraup pendapatan lebih banyak. Sebelum ikut kredit mikro, penghasilan bersihnya hanya berkisar Rp 500.000 per bulan. ”Sekarang setiap bulan saya bisa mendapat penghasilan bersih Rp 1,5 juta,” katanya.

Inspirasi

Wali Kota Kendari Asrun mengatakan, gagasan kredit mikro ini terinspirasi Grameen Bank milik Muhammad Yunus di Banglades, pelopor lembaga kredit lunak bagi usaha mikro. Usaha mikro selalu terbentur permodalan karena tak memiliki jaminan untuk meminjam di bank. Di sisi lain, mereka juga kerap terjerat rentenir berbunga tinggi yang membuat usaha makin terpuruk.

Asrun pun bertekad menerapkan sistem Grameen Bank itu di Kendari yang memiliki ribuan usaha mikro dengan masalah serupa. Namun, niat itu sempat terkendala karena anggaran daerah tidak diperbolehkan dikelola dengan sistem pinjaman bergulir seperti Grameen Bank.

”Setelah kami mencari-cari solusinya ternyata ada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 61/2007 yang membolehkan bantuan dana bergulir dikelola melalui suatu Badan Layanan Umum Daerah (BLUD),” ujar Asrun.

Jadilah pada Mei 2008 BLUD Kredit Mikro Harum Kota Kendari didirikan. Pemkot menggelontorkan modal awal dari APBD sebesar Rp 1,5 miliar dan terus ditingkatkan hingga menjadi total Rp 2,75 miliar pada 2010.

Meski anggarannya terlihat kecil, faktanya hingga kini program itu telah menyalurkan kredit kepada lebih dari 7.000 usaha mikro mulai dari penjual sayuran, pedagang asongan, penjahit rumahan, warung kelontong, hingga pengusaha kue seperti Erni. Adapun total dana yang bergulir telah mencapai Rp 8 miliar.

Proses pengajuan kredit pun dipermudah mengingat sasarannya adalah kalangan masyarakat bawah. ”Saya minta tidak usah (pengajuan) pakai proposal. Cukup memiliki KTP Kendari saja dan memang memiliki usaha riil,” kata Asrun.

Pimpinan BLUD Kredit Mikro Kota Kendari Syahrir mengatakan, seluruh proses pengajuan, survei usaha, hingga akhirnya kredit dicairkan hanya memakan waktu maksimal satu minggu.

Seperti Grameen Bank, penyaluran kredit juga diprioritaskan kepada kaum perempuan karena dinilai lebih bertanggung jawab dibanding pria dalam mengelola keuangan keluarga. ”Saat ini, sekitar 85 persen nasabah adalah perempuan,” kata Syahrir.

Nasabah juga diharuskan berhimpun dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang agar bisa saling mendukung dan mengawasi dalam mengelola pinjaman. Saat pinjaman disetujui, pencairan dana diberikan terlebih dulu kepada tiga anggota kelompok. Dua anggota lainnya harus menunggu hingga dana tersebut dikembalikan.

Tujuannya, jika ketiga orang pertama itu tak lancar mengembalikan, dua anggota yang belum mendapat giliran pinjaman akan mendesak rekannya untuk melunasi. Anggota yang menerima pencairan pertama juga akan termotivasi melunasi karena nasib rekannya bergantung pada dirinya. ”Begitu terus selanjutnya,” kata Syahrir.

Dengan pola seperti itu, ia mengatakan tingkat kredit macet selama 3,5 tahun program berjalan selalu di bawah 10 persen. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa usaha mikro bisa mengembalikan pinjaman dengan baik jika diberi kepercayaan.

Nasabah yang mengalami macet bayar pun tidak langsung dicoret. Syahrir mengatakan, pihaknya akan mempelajari masalah si nasabah, lalu memberikan alternatif solusi. ”Tergantung dari masalahnya apa. Bisa jadi solusinya dengan penjadwalan ulang atau malah kreditnya ditambah supaya bisa mengembalikan,” katanya.

BLUD Kredit Mikro tidak menerapkan batasan berapa kali kelompok bisa mengajukan pinjaman. Selama angsuran lancar dan tepat waktu, kredit bisa terus digulirkan. Namun, besaran maksimal pinjaman hanya Rp 3 juta. ”Jika ada nasabah yang membutuhkan lebih dari itu, kami arahkan untuk mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) di perbankan,” kata Syahrir.

Asrun pun merencanakan, tahun 2012 nanti, BLUD Kredit Mikro itu akan menambah lagi kucuran modal dari APBD Rp 1 miliar, agar bisa menjangkau lebih banyak usaha mikro.

Bagi Erni dan ribuan pengusaha mikro lain di Kendari, kredit yang sesungguhnya bernominal kecil itu, ternyata sangat besar manfaatnya.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Perlu Serap Digital

Selengkapnya →