Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Instrumen Audit Sosial Multi-stakeholder

Oleh   /   Rabu 1 Agustus 2018  /   Tidak ada komentar

Pada sisi implementasi program bantuan sosial pemerintah, isu penggunaan dana (budget spending) merupakan suatu isu penting. Karena itu, ASMS ini akan menelusuri anggaran mulai dari uang ditransfer dari pemerintah ke pelaksana program/penyedia pelayanan, distribusi dan pembelanjaan anggaran tersebut.

keuanganLSM

Instrumen Audit Sosial Multi-stakeholder

Audit Sosial Multi-stakeholder (ASMS) adalah sebuah metode untuk memfasilitasi assesment terhadap implementasi program-program bantuan sosial pemerintah dengan pendekatan dialog multi-stakeholder. ASMS merupakan modifikasi dari model audit sosial yang banyak digunakan saat ini, yang berasal dari India. Modifikasi ini dilakukan karena, selain ada konteks lokal yang berbeda, juga terdapat tujuan yang berbeda dari audit sosial ASMS ini dengan audit sosial versi orisinal. Modifikasi tersebut dilakukan terutama dengan memasukkan multi-stakeholder (masyarakat, pemerintah dan penyedia pelayanan) sebagai pihak yang terlibat melakukan audit. Ini yang agak berbeda dengan audit sosial orisinal yang umumnya fokusnya lebih diarahkan kepada masyarakat sebagai kelompok penerima manfaat akhir suatu program/pelayanan.

Tujuan dari Audit Sosial Multi-stakeholder ini adalah melakukan penilaian atas implementasi suatu program bantuan sosial pemerintah. Jadi yang hendak dinilai adalah pada tingkat implernentasi atau bagaimana program itu dilaksanakan, bukan menilai hasil akhir atau dampak dari program itu. Pada sisi implementasi program bantuan sosial pemerintah, isu penggunaan dana (budget spending) merupakan suatu isu penting. Karena itu, ASMS ini akan menelusuri anggaran mulai dari uang ditransfer dari pemerintah ke pelaksana program/penyedia pelayanan, distribusi dan pembelanjaan anggaran tersebut, pelaporan penggunaan anggaran hingga isu mekanisme komplain atas kualitas layanan barang/jasa yang dihasilkan dari proses belanja tersebut.

ASMS ini juga bertujuan hendak memetakan pada komponen mana sistem implementasi program bantuan sosial pemerintah tersebut dianggap lemah, dianggap sedang dan dianggap kuat. Dengan diketahuinya hal tersebut, maka diharapkan perbaikan sistem implementasi program-program tersebut dapat lebih fokus. Selain itu ASMS ini dilakukan juga dengan tujuan membangun trust (kepercayaan) antar stakeholder program bantuan sosial. Seperti sering diberitakan saat ini, trust antar stakeholder tersebut saat ini lemah. Dengan ASMS ini, kami berharap bahwa dialog antar stakeholder berjalan lebih baik.

1. Prinsip Kerja

Prinsi kerja dari ASMS adalah:

  • Dialog multi-stakeholder. Dalam hal ini dialog tersebut harus melibatkan stakeholder setidaknya dari 3 kelompok stakeholder secara seimbang. Ketiga kelompok stakeholder tersebut adalah: kelompok pemerintah, kelompok penyedia pelayanan (misalnya: sekolah, penyalur bantuan, Puskesmas dll.) dan kelompok masyarakat (khususnya sasaran penerima manfaat dari bantuan sosial).
  • Melakukan penilaian atas implementasi dari program-program bantuan sosial pemerintah. Audit sosial ini menilai pada implementasi, bukan pada desain atau dampak dari program bantuan sosial pemerintah.
  • Bertujuan memahami peta kekuatan-kelemahan sistem implementasi program bantuan pemerintah, bukan bertujuan mengumpulkan kesalahan. Dalam hal ini, audit sosial berusaha menemukan mana titik lemah dari implementasi program bantuan sosial, dan merekomendasikan perbaikan di titik itu.
  • Eksplorasi fakta dan menghindari opini. Proses audit sosial dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap pendapat yang muncul dari peserta akan diperiksa oleh peserta lainnya. Pendapat yang dihasilkan adalah pendapat yang telah terverifikasi oleh forum.

2. Cakupan/Batasan

Metode Audit Sosial Multi-stakeholder memiliki cakupan sebagai berikut:

  • Metode ASMS ini digunakan untuk melakukan penilaian atas implementasi program-program bantuan sosial pemerintah. Perlu ditekankan bahwa cakupan audit sosial ini pada proses implementasi, bukan pada menilai hasil akhir (output, outcome dan impact) dari program-program bantuan sosial pemerintah.
  • Metode ASMS ini adalah untuk memperoleh pandangan umum yang sifatnya kualitatif dari multi stakeholder (baik/puas; agak baik/agak puas; kurang baik/kurang puas; tidak baik/tidak puas) dari para stakeholder. Bukan untuk memperoleh skor exact dari mereka. Skor yang digunakan disini, hanyalah sebagai media untuk memudahkan pengolahan atas pandangan umum tersebut.
  • Audit Sosial dengan metode ASMS ini bukan seperti audit konvensional yang berusaha menemukan kesalahan/penyelewengan dari suatu proyek/pekerjaan. Namun audit sosial ini adalah untuk memahami (melakukan diagnosa) pada komponen mana dari program yang lemah dan mana yang sudah berjalan baik.
  • Sebagai konsekuensi dari itu, audit sosial ini tidak berusaha menemukan siapa yang salah atau siapa yang benar dalam pelaksanaan program bantuan sosial. Namun audit sosial ini berusaha untuk melihat komponen program mana yang perlu ditingkatkan dan komponen program mana yang perlu dipertahankan.

3. Kerangka Kerja

Instrumen ASMS dibangun berdasar atas 3 kerangka kerja sebagai berikut:

  • Analisis Gap (jarak) Integritas
  • Kerangka Monitoring Integritas dan Akuntabilitas
  • Analisis Rantai Nilai

Disarikan dari buku: Manual Audit Sosial Multi Stakeholder, Penulis: Ilham Cendekia Srimarga, Muchammad Fahazza, Widi Heriyanto, Hal: 21-24.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (2/4)

Selengkapnya →