Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel Terbaru  >  Artikel saat ini

Jenis-jenis Bukti

Oleh   /   Kamis 2 Januari 2014  /   Tidak ada komentar

Dalam menentukan prosedur auditing mana yang digunakan, ada tujuh kategori bahan bukti yang dapat dipilih auditor. Kategori ini, dikenal sebagai jenis bahan bukti, akan disebutkan dibawah ini dan dibahas dalam bagian ini.

keuanganLSM

Jenis-jenis Bukti

Dalam menentukan prosedur auditing mana yang digunakan, ada tujuh kategori bahan bukti yang dapat dipilih auditor. Kategori ini, dikenal sebagai jenis bahan bukti, akan disebutkan dibawah ini dan dibahas dalam bagian ini.

1. Auditing Fisik

Auditing fisik adalah inspeksi atau perhitungan dalam membuat keputusan mengenai bahan bukti suatu auditing, harus mempertimbangkan baik kemampuan memberi kesimpulan maupun biasanya. Jarang sekali kalau hanya tersedia satu jenis bahan bukti untuk memverifikasi informasi. Kemampuan member kesimpulan dan biaya semua alternatif harus dipertimbangkan sebelum memilih satu atau beberapa jenis bahan bukti. Tujuan auditor adalah untuk memperoleh bahan bukti yang mencukupi, tepat waktu, andal yang relevan bagi informasi yang diverifikasi, dan melakukannya pada biaya yang paling rendah, dan paling mungkin.

2. Konfirmasi

Konfirmasi digambarkan sebagai penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen dalam memverifikasi akurasi informasi yang telah diminta oleh auditor. Agar dapat dipertimbangkan sebagai bahan bukti yang andal, konfirmasi harus diawasi oleh auditor sejak saat penyiapan sampai dikembalikan. Kalau klien yang mengawasi penyiapan konfirmasi, melaksanakan pengiriman, atau menerima jawabannya, auditor akan kehilangan kendala dan keindependenan bahan bukti tersebut dengan demikian keandalan bahan bukti menjadi berkurang.

3. Dokumentasi

Dokumentasi, biasanya disebut auditing dokumen (vouching), merupakan auditing atas dokumentasi dan catatan klien untuk menyokong informasi yang ada, atau seharusnya ada dalam laporan keuangan. Dokumen yang diperiksa oleh auditor adalah catatan yang digunakan klien untuk menyediakan informasi dalam melaksanakan usahanya dalam kondisi yang terorganisasi. Karena setiap transaksi dalam organisasi klien biasanya didukung oleh paling sedikit satu dokumen, akan ada sejumlah besar jenis bahan bukti yang tersedia. Misalkan, klien biasanya menyimpan pesanan pelanggan, dokumen pengiriman, dan “salinan” faktur penjualan bagi setiap transaksi penjualan. Dokumen yang sejenis ini merupakan bahan bukti yang bermanfaat untuk verifikasi oleh auditor atas akurasi pencatatan transaksi penjualan oleh klien. Dokumentasi merupakan bentuk bahan bukti yang digunakan secara luas, dalam setiap audit karena biasanya sudah tersedia bagi auditor dengan biaya yang relatif rendah.

4. Pengamatan

Pengamatan adalah penggunaan perasaan untuk menetapkan aktivitas dalam keseluruhan auditing, akan ada banyak kesempatan untuk melihat, mendengar, menyentuh dan mencium untuk mengevaluasi bermacam benda mungkin mengunjungi pabrik untuk memperoleh kesana umum tentang klien, mengamati apakah peralatan telah berkarat untuk mengevaluasi bermacam benda dan melihat orang-orang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk apakah orang yang diberikan tanggung jawab telah melaksanakannya akan tidak mencukupi bila tidak ditindaklanjuti. Diperlukan tindak lanjut atas kesan awal dengan bahan bukti lain menguatkan.

5. Tanya Jawab dengan Klien

Tanya jawab adalah upaya mendapatkan informasi tertulis atau lisan dengan menjawab pertanyaan dari auditor. Biasanya Tanya jawab tidak dapat diperlakukan sebagai bukti yang mampu memberikan kesimpulan jika didapat dari sumber yang tidak independen dan mungkin memihak klien.

6. Akurasi Mekanis

Pengujian akurasi mekanis mencakup pengecekan ulang sampel perhitungan dan perpindahan informasi yang dilakukankan klien selama periode. Pengecekan ulang perhitungan pengujian akurasi aritmatis klien, antara lain prosedur seperti mengecek perkalian dalam faktur penjualan dan persediaan, menjumlah jurnal dan buku tambahan dan mengecek beban penyusutan dan biaya dibayar di muka. Banyak auditor menyebut pengujian jenis ini sebagai prosedur pelaksanaan ulang.

7. Prosedur Analitis

Prosedur analitis adalah penggunaan perbandingan untuk menentukan apakah saldo perkiraan tersaji secara layak dengan cara membandingkan persentase tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Untuk perkiraan tertentu yang tidak material prosedur analitis merupakan satu-satunya prosedur yang diperlukan. Untuk perkiraan lain, jenis bahan bukti lain dapat dikurangi kalau prosedur analitis menunjukkan bahwa  perkiraan tersebut kelihatannya layak. Prosedur analitis sebaiknya dilaksanakan pada permulaan auditing untuk membantu dalam menentukan perkiraan mana yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Sumber: Auditing Pendekatan Sektor Publik dan Privat, Penulis: Sekar Mayangsari, Puspa Wandanarum, Hal: 37-40.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Membuat SDM Dihargai

Selengkapnya →