Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Koperasi Sebagai Lembaga atau Organisasi

Oleh   /   Rabu 13 Juli 2016  /   1 Komentar

Koperasi sebagai lembaga atau organisasi yang hidup harus menentukan cita-cita atau tujuan akhir yang ingin dicapai. Cita-cita atau tujaun akhir ini disebut Visi. Kazuo Wada menyebut visi sebagai.

Koperasi Sebagai Lembaga atau Organisasi1

Koperasi Sebagai Lembaga atau Organisasi

Dalam berbagai bacaan banyak sekali pendapat tentang Visi, namun bila dicermati, semua akan mengarah pada titik yang sama yakni tujuan akhir sebuah perjalanan yang amat panjang, yang penuh dengan harapan yang menyenangkan atau menggembirakan bagi operasi dan juga para pemangku kepentingan. Visi yang baik akan menjadi kekuatan, daya dorong dan semangat serta daya tarik seluruh anggota koperasi dan terutama pengelolaanya dan juga orang atau lrmbaga luar koperasi yang disebut pemangku kepentingan atau stakeholder. Visi yang baik akan menbangkitkan potensimenjadi kekuatan yang luar biasa.

Koperasi sebagai lembaga atau organisasi yang hidup harus menentukan cita-cita atau tujuan akhir yang ingin dicapai. Cita-cita atau tujaun akhir ini disebut Visi. Kazuo Wada menyebut visi sebagai; suatu cita-cita suatu mimpi mengenai masa depan yang semestinya. Kata “semestinya”, dalam arti memenuhi syarat yang memungkinkan untuk bisa dicapai atau diraih, bukan mimpi kosong, bukan ngayawara”. Setiap koperasi tentunya terlebih dahulu melakukan pembayangan jauh ke depan tentang apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara pencapaianya. Pembayangan jauh ke depan itu akan membuat koperasi.

Maka sikap masing masing personal dalam menjalankan misi koperasi untuk sampai ke visi tidak bisa semaunya dan seenaknya sendiri. Gambaran hidup di masa depan yang ingin diraih itulah yang dikenal dengan visi, seperti yang dikatakan Kazuo Wada. Menurut Mulyadi visi sebagai pengarah, menggambarkan masa depan, membari peluang anggota dan pemangku kepentingan untuk berkontribusi sesuai bidangnya dan membangun keyakinan.

Sudah banyak diketahui bahwa tujuan akhir koperasi adalah kesejahteraan anggota, hal itu bisa disebut visi besar atau visi umum berlaku bagi semua koperasi. Oleh sebab itu setiap primer koperasi harus mampu menetapkan dan menyatakan visi-nya sendiri yang lebih senafas dengan cita-citanya. Setiap periode rencana dan program kerja harus ditetapkan “visi baru” yang lebih nyata, apa yang akan diwujudkan menjadi sebuah kenyataan dalam satuan waktu periode program kerja jangka panjang terbatas dan jangka pendek. Visi jangka penjang terbatas biasanya dicantumkan dalam masterplan untuk kurun waktu tertentu, misalnya 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun atau lebih, bisa 25 tahun.

Dalam Bahasa Indonesia masterplan sering digantikan dengan istilah rencana induk strategis ada yang menyebut (RINSTRA), ada yang menyebut rencana induk pengembangan disingkat (R.I.P) ada yang menyebut (RENATA) kepanjangan dari rencana lima tahun dan lain-lain. Negara kita pernah memiliki rencana pembangun Lima Tahun ayau (REPELITA). Visi jangka panjang harus diturunkan menjadi visi jangka pendek dan diwujudkan dalam rencana program kerja tahunan. Program kerja ini akan menjadi “ukuran“ pencapaian tujuan maka harus ada jalan bagaimana cara menuju visi yang disebut misi yakni upaya atau cara mewujudkan visi. Dari berbagai upaya akan ditentukan beberapa strategi dan ebijakan program kerja.

Visi Sebagai Pengarah

Visi sebagai pengarah, maksudnya bahwa visi harus mampu memberikan arah dasar ke mana koperasi akan dibawa atau diarahkan. Dari visi dasar yang telah ditetapkan akan diterjemahkan dalam berbagai program kegiatan atau rencana kerja yang kongkrit. Semua potensi, aktivitas diarahkan untuk keberhasilan program kerja, maka program kerja harus jelas menuju ke satu arah yang sama dalam berbagai kegiatan yang berbeda tetapi saling mendukung, terpadu atau terintegrasi serta berkelanjutan dengan pengarah meka sekurang-sekurangnya harus mampu;

  • memacu kreativitas
  • membangun kepercayaan dan harapan
  • membangun kebersamaan
  • membentuk perilaku

Tentu saja bila para pembaca inginmenambah fungsi yang lain menjadi lebih banyak tidak menjadi masalah sepanjang tidak keluar dari batasan (determinasi) yang ada. Sebab bisa saja terjadi, penambahan itu hanya mengulang hal yang sama dalam Bahasa yang berbeda atau tidak ada perbedaan esensial.

Disarikan dari buku: Mengembangkan Koperasi, Penulis: H. Soetjopto, Hal: 39-41.

    Cetak       Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Struktur Organisasi dan Administrasi Desa

Selengkapnya →