Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Referensi  >  Referensi Buku  >  Artikel saat ini

Kredit Mikro: Alternatif bagi Si Miskin

Oleh   /   Kamis 18 Juli 2013  /   Tidak ada komentar

Selain buku Credit Union yang dibahas Revrisond Baswir, setidaknya ada dua buku yang juga mengangkat tema dasar serupa. Yang pertama, buku Revolusi Kredit Mikro yang diterbitkan Dian Rakyat (2008).

keuanganLSM

Kredit Mikro: Alternatif bagi Si Miskin

Selain buku Credit Union yang dibahas Revrisond Baswir, setidaknya ada dua buku yang juga mengangkat tema dasar serupa. Yang pertama, buku Revolusi Kredit Mikro yang diterbitkan Dian Rakyat (2008). Buku kedua berjudul Berkelit dari Rentenir dengan Sistem Grameen Bank, ditulis Moch Yunus tahun 2005, hasil Proyek Kerja Sama Teknis untuk Proyek Regional Development Policies for Local Government (Proyek RDPLG) antara JICA dan Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama tujuh bappeda.

Isi kedua buku tersebut tidak membahas Credit Union, tetapi lebih menyoroti masalah kredit mikro. Meski berbeda, baik dari sisi sejarah maupun perkembangannya, keduanya memiliki persamaan mendasar, yaitu sebagai jalan membantu atau memberdayakan masyarakat miskin agar memiliki modal untuk menyejahterakan masyarakat.

Buku pertama yang ditulis Maria Nowak bernada kritis terhadap struktur ekonomi yang tidak adil. Perhatiannya terfokus pada bagaimana kredit mikro dapat menolong orang miskin keluar dari kubangan kemiskinan sebagai korban ketidakadilan pembangunan ekonomi dan arus besar globalisasi atau kapitalisme global.

Urgensi menghadirkan kredit mikro dalam pandangan Nowak adalah membuka akses modal untuk rakyat banyak tanpa mempersoalkan distribusi kekayaan yang dapat memancing pertentangan dengan kalangan berpunya. Artinya, memilih melakukan perubahan dengan jalan damai dan menghormati sesama manusia. Nowak ingin mengajak pembaca merobohkan dinding-dinding prasangka yang membangun batas-batas finansial di balik ketidakadilan sosial pembangunan yang mengejar pertumbuhan. Sebagai seorang pakar ekonomi pembangunan, Nowak ingin menawarkan gagasan mendasar, yaitu kebijakan finansial yang berlandaskan pada etika dan ekonomi pasar yang peduli pada relasi sosial.

Berbeda dengan buku karya Nowak, terbitan RDPLG membahas praktik kredit mikro. Penerbitan salah satu bagian dari delapan seri RDPLG textbook ini lebih banyak menceritakan keberhasilan Yayasan Mitra Karya Malang menerapkan kredit mikro dengan sistem Grameen Bank, lembaga keuangan yang didesain khusus untuk permodalan orang miskin. Sistem Grameen Bank menjadi alternatif solusi agar orang miskin tak menjadi korban incaran rentenir. Beberapa prinsip sistem permodalan ini adalah kredit yang disalurkan hanya untuk orang miskin; kredit modal harus digunakan untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif; kredit diberikan tanpa jaminan; dan tidak ada sanksi hukum apabila nasabah tidak mampu mengangsur/mengembalikan pinjaman.

Yayasan Mitra Karya didirikan pada tahun 1993 dengan modal awal Rp 7 juta dan 10 orang anggota. Kini, dana yang diputar berkembang menjadi Rp 4,2 miliar dengan 14.452 anggota. Program permodalan ini digagas Dr Djumilah Zain yang berkesempatan langsung mendalami Grameen Bank di Banglades. Awalnya, program ini dilakukan di Desa Tangkil, Kabupaten Blitar, dan sekarang berkembang di Malang, Ponorogo, Kebumen, dan Pulau Moyo (Sumbawa) dengan mengibarkan semangat membebaskan orang miskin dari jeratan praktik rentenir. Baik Maria Nowak maupun RDPLG menyoroti Grameen Bank sebagai alternatif membangun sistem permodalan alternatif. (Yohanes Krisnawan, Litbang Kompas)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Akuntansi Desa

Selengkapnya →