Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita Media  >  Artikel saat ini

Kredit Mikro Ramai

Oleh   /   Jumat 18 Januari 2013  /   Tidak ada komentar

Persaingan bank dalam mengucurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah akan ramai tahun ini. Kondisi ini berkenaan dengan kewajiban bank mengucurkan kredit UMKM dalam porsi tertentu. Suku bunga dasar kredit mikro juga harus dipublikasikan.

keuangan LSM

Untuk tahap awal, pengembangan kredit mikro memang membutuhkan biaya besar.

Sumber: KOMPAS, rabu, 9 Januari  2013, Halaman: 19.

Pangsa Pasarnya Masih Besar

Jakarta, Kompas – Persaingan bank dalam mengucurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah akan ramai tahun ini. Kondisi ini berkenaan dengan kewajiban bank mengucurkan kredit UMKM dalam porsi tertentu. Suku bunga dasar kredit mikro juga harus dipublikasikan.

Rencana Bank Indonesia, porsi kredit UMKM pada tahun ke-1 dan ke-2 masih bebas. Namun, pada tahun ke-3, porsi kredit UMKM sekitar 5 persen dari total kredit bank tersebut. Porsi 20 persen diperkirakan akan dicapai dalam 6 tahun mendatang.

Adapun publikasi suku bunga dasar kredit (SBDK) mikro itu mengikuti aturan serupa yang sudah diterapkan Bank Indonesia untuk kredit konsumsi, ritel, dan korporasi.

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja, Selasa (8/1), menyatakan, kredit UMKM di BCA cukup banyak. Ditanya soal pemenuhan porsi kredit UMKM sebesar 20 persen, Jahja menjawab, ”Masa transisinya lama.”

Bagi bank yang sudah lama bergerak di segmen UMKM, ketentuan ini tidak memberatkan. Sebaliknya, perlu usaha keras untuk bank yang biasa bergerak di sektor korporasi, untuk memenuhi porsi kredit UMKM.

Wakil Presiden Direktur Bank PT Bank Jasa Jakarta (BJJ) Lisawati mengakui, tidak masalah bagi BJJ untuk mencapai porsi kredit UMKM 20 persen. ”Kami memang bergerak di kredit kecil-kecil itu. Kalau kredit UMKM kami sudah di atas 20 persen,” jelas Lisawati.

Hal senada disampaikan Sekretaris Perusahaan Bank Syariah Bukopin (BSB) Evy Yulia. Menurut Evy, selama ini fokus kredit BSB memang ke segmen ritel dan UMKM.

”Jadi, tidak berat bagi kami untuk mengalokasikan kredit UMKM sesuai porsi yang ditentukan BI,” tambah Evy.

Perihal kredit mikro yang juga diperkirakan meningkat persaingannya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk siap menghadapi. Bank BRI biasa bergerak di sektor mikro.

”Pasarnya masih luas. Kalau ada di daerah tertentu yang persaingannya agak ketat, di daerah lain masih banyak kesempatan,” kata Direktur Keuangan Bank BRI Achmad Baiquni kepada Kompas.

Saat ini, porsi kredit mikro di Bank BRI sekitar 31 persen dari total kredit.

Optimisme Bank BRI, kata Baiquni, didukung jaringan kantor di wilayah Indonesia. Bahkan, 2 tahun belakangan, Bank BRI lebih banyak mengembangkan jaringan kantor di luar Pulau Jawa, yang pertumbuhan produk domestik brutonya cukup tinggi.

Ekonom Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Mirza Adityaswara, berpendapat, untuk tahap awal, pengembangan kredit mikro memang membutuhkan biaya besar. Misalnya untuk membuka jaringan, pemasaran, analisa, dan penagihan.

Padahal, jumlah kreditnya kecil. Dengan demikian, kredit mikro baru menghasilkan keuntungan bagi bank jika jumlah debiturnya banyak.

”Bank yang sudah punya skala ekonomi seharusnya bisa menurunkan suku bunga kredit mikro,” kata Mirza.

Dalam sistem ekonomi pasar, kompetisi akan membuat suku bunga kredit turun. Maka, jumlah bank yang fokus ke kredit mikro harus ditambah. (IDR)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Kontribusi Koperasi ke Ekonomi Indonesia Capai Rp 508,5 Triliun

Selengkapnya →