Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Referensi  >  Referensi Buku  >  Artikel saat ini

Krisis Keuangan di Indonesia Dapatkah Diramalkan?

Oleh   /   Kamis 18 Agustus 2011  /   Tidak ada komentar

Usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) yang sebenarnya menjadi tulang punggung perekonomian pada masa krisis masih kurang mendapat perhatian pemerintah sebagaimana mestinya.

keuangan LSM

Krisis Keuangan di Indonesia Dapatkah Diramalkan?

Penulis: Dr. Muhammad Handry Imansyah
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, 2009

Usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) yang sebenarnya menjadi tulang punggung perekonomian pada masa krisis masih kurang mendapat perhatian pemerintah sebagaimana mestinya.

Memang, pemerintah telah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2007 bulan Juni yang lalu tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Rill dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang memberikan angin segar bagi pelaku ekonomi di sektor UMKM.

Inpres tersebut meliputi; Perbaikan Iklim Investasi, Reformasi Sektor Keuangan, Percepatan Pembangunan Infrastruktur, dan Pemberdayaan UMKM. Dari 141 aksi dalam Inpres tersebut 60 di antaranya merupakan tanggung jawab menteri keuangan untuk pengimplementasiannya.

Sebagian besar dari 60 aksi tersebut berkaitan dengan tugas dan fungsi perpajakan, bea dan cukai, dan Bapepam-LK di antaranya mengenai peningkatan kecepatan arus barang, perbaikan pelayanan pajak untuk mempercepat stabilitas sektor keuangan, Insentif Fiskal untuk perusahaan Go Publik, Sistem Peringatan Dini (Early Warning System), Infrastructure fund and Guarantee, dan Secondary Market Facility. Dan sistem peringatan dini (early warning system) merupakan salah satu aksi yang diperlukan dalam Inpres tersebut. Berbagai pengaturan dan kebijakan telah banyak dikeluarkan, namun selalu tersendat dalam tahapan implementasi. Dengan demikian, hasilnya masih jauh dari harapan kita semua.

Selain itu, safe guard di bidang keuangan yang dilakukan BI pada saat ini, juga terdapat kerja sama antarnegara ASEAN dalam rangka Chiang Mai Initiative menyediakan penyangga cadangan devisa ASA (ASEAN swap arrangement) yang tersedia 2 miliar dolar serta BSA (bilateral swap arrangement) dengan negara lainnya dalam ASEAN plus 3 yaitu Jepang yang menyediakan 6 miliar dolar, China menyediakan 4 miliar dolar dan Korea menyediakan 2 miliar dolar. Tersedianya berbagai instrumen pengaman terhadap potensi gejolak di sektor keuangan dan perbankan akan adanya tekanan dari luar tidak menjamin bahwa Indonesia akan terbebas dari krisis atau tekanan.

Apalagi semakin dekatnya pelaksanaan secara penuh dari API (Arsitektur Perbankan Indonesia) yang dititikberatkan pada masalah permodalan saja dengan mengabaikan aspek lainnya, sehingga potensi terjadinya kegoncangan di perbankan juga menjadi sangat besar. Karena, bank-bank kecil diharuskan untuk menambah modalnya atau merger atau diakui sisi oleh bank lain. Padahal, merger atau akuisisi bagi bank-bank tertentu akan mengakibatkan hilangnya kontrol dan terdapatnya perbedaan budaya perusahaan menjadi hambatan tersendiri pula.

Buku yang berisi berbagai model peramalan dalam memperkirakan krisis keuangan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi kepada berbagai kalangan bahwa krisis keuangan sebenarnya dapat dideteksi sejak dini dengan model-model yang tepat. Dalam kaitan itulah kami sangat menghargai terbitnya buku mengenai bagaimana meramalkan krisis keuangan di Indonesia.

Kami yakin bahwa model-model yang dikembangkan dalam buku ini akan sangat bermanfaat bagi kalangan luas, karena model-model yang ada dalam buku dimulai dengan model sederhana yang dapat dengan mudah dikembangkan oleh kalangan praktisi di pasar keuangan, sehingga para pemain pasar dan pemerintah memiliki informasi yang seimbang, dan semua pihak tidak memanfaatkan ketidaktahuan pihak lainnya (asimetic information) untuk mendapatkan keuntungan.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Akuntansi Desa

Selengkapnya →