Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Likuiditas Akan Longgar hingga Akhir Tahun

Oleh   /   Senin 27 Juli 2015  /   Tidak ada komentar

Pelambatan pertumbuhan kredit terjadi akibat turunnya daya beli masyarakat. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah penghasil komoditas, seperti di Kalimantan dan Sumatera.

keuanganLSM

Likuiditas Akan Longgar hingga Akhir Tahun

Sumber: Kompas, 20 juli 2015.

Likuiditas perbankan Indonesia diperkirakan akan longgar hingga akhir tahun. Dana pihak ketiga tumbuh lebih tinggi dibandingkan kredit sebagai dampak dari pelambatan pertumbuhan ekonomi.

Dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan Indonesia pada Mei 2015 tumbuh 13,1 persen selama setahun menjadi Rp 4.135 triliun. Adapun kredit hanya tumbuh 10,3 persen menjadi Rp 3.792,8 triliun.

Pelambatan pertumbuhan kredit sudah terjadi sejak akhir tahun 2014 dan kemungkinan berlanjut hingga akhir semester I-2015. Dengan kredit yang tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan DPK, likuiditas perbankan menjadi lebih longgar. Pada April 2015, rasio kredit terhadap simpanan (LDR) hanya 87,94 persen. LDR industri perbankan ini jauh lebih longgar dibandingkan dengan LDR pada Juni 2014 yang mencapai 92,19 persen.

Kepala Ekonom dan Riset PT Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih menjelaskan, dalam kondisi pertumbuhan ekonomi melambat, simpanan dana nasabah di perbankan cenderung meningkat.

”Dengan aktivitas ekonomi yang lesu, kebutuhan dana tunai berkurang, demikian juga dengan permintaan. Nasabah biasanya akan menempatkan dana sebagai simpanan di bank, terutama pada jenis deposito,” tutur Lana, Senin (20/7).

PERTUMBUHAN SIMPANAN DEPOSITO

  • Total sertifikat deposito per Mei 2015
    281 rekening
  • Pertumbuhan rekening sertifikat deposito dibandingkan April 2015
    14,69 persen (MoM)
  • Total nominal sertifikat deposito per Mei 2015
    Rp 7.515 miliar (Mei 2015)
  • Pertumbuhan nominal sertifikat deposito dibandingkan April 2015
    58,21 persen (MoM)

Peningkatan DPK terutama ditopang oleh pertumbuhan deposito. Statistik Perbankan Indonesia April 2015 yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan pada Juni lalu menunjukkan, deposito tumbuh 22,29 persen selama setahun dari Rp 1.684 triliun menjadi Rp 2.059,88 triliun. Giro hanya tumbuh 12,9 persen selama setahun dari Rp 845 triliun menjadi Rp 954 triliun.

Pertumbuhan deposito itu antara lain terjadi karena nasabah memindahkan tabungan ke deposito. Hal ini terlihat dari pertumbuhan tabungan yang hanya 3,2 persen selama setahun dari Rp 1.165 triliun menjadi Rp 1.203,65 triliun.

Peningkatan komposisi deposito pada DPK meningkatkan beban bunga industri perbankan. Padahal, dalam kondisi pertumbuhan kredit yang melambat, pendapatan bunga bank juga cenderung melambat.

Tumbuh 18 persen

Pendapatan bunga industri perbankan pada April 2015 hanya tumbuh 18,066 persen selama setahun dari Rp 178 triliun menjadi Rp 210 triliun. Adapun beban bunga meningkat 47,36 persen selama setahun dari Rp 90 triliun menjadi Rp 113 triliun. Pendapatan bunga bersih, yakni selisih dari beban bunga dan pendapatan bunga, hanya tumbuh 10,5 persen dari Rp 87 triliun menjadi Rp 96 triliun.

Ekonom Senior Standard Chartered Bank Indonesia Eric Alexander Sugandi menuturkan, pelonggaran likuiditas industri perbankan tahun 2015 berbeda jauh dengan kondisi pada 2014. Tahun lalu, bank-bank berlomba mendapatkan DPK dengan menaikkan suku bunga deposito. Namun, likuiditas perbankan hanya terkonsentrasi di bank-bank besar.

”Pelambatan pertumbuhan kredit terjadi akibat turunnya daya beli masyarakat. Hal ini terutama terjadi di daerah-daerah penghasil komoditas, seperti di Kalimantan dan Sumatera. Harga komoditas jatuh sehingga menyebabkan pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor komoditas juga berkurang,” papar Eric.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Perlu Serap Digital

Selengkapnya →