Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Manajemen Laba Bank Menghadang “Hantu” Kredit Macet

Oleh   /   Senin 31 Agustus 2015  /   Tidak ada komentar

Dalam membaca laporan keuangan bank, tidak bisa hanya dilihat dari jumlah rupiah laba yang diperoleh. Paling tidak harus dilihat pula berapa besar bank tersebut membentuk pencadangan untuk mengantisipasi kredit yang memburuk, yang lazim disebut dengan Non-Performing Loan.

keuanganLSM

Manajemen Laba Bank Menghadang “Hantu” Kredit Macet

Sumber: Kompasiana, 19 Agustus 2015.

Tanpa perlu mengutip angka-angka, secara umum bank-bank di negara kita tengah menghadapi kondisi yang kurang bagus secara bisnis. Perolehan laba sebahagian besar bank di negara kita di semester I 2015 menunjukkan pertumbuhan yang menurun. Maksudnya, kalau di tahun lalu terjadi kenaikan laba double digit, yakni 10% atau lebih dalam setahun, maka tahun ini bank-bank masih menuai laba tapi kenaikannya hanya single digit. Bahkan beberapa bank labanya tumbuh negatif, dalam arti laba saat ini tidak sebesar laba tahun lalu.

Hal itu menunjukkan bahwa ada masalah dari pertumbuhan kredit yang diberikan bank kepada nasabahnya. Sebagaimana kita ketahui, mayoritas pendapatan bank berasal dari pendapatan bunga atas kredit yang diberikan bank. Jika kredit tidak tumbuh, pasti pendapatan bunga juga tidak tumbuh. Bisa juga kredit tumbuh, namun pengembalian dari nasabahnya mengalami keterlambatan atau bahkan macet.

Dalam membaca laporan keuangan bank, tidak bisa hanya dilihat dari jumlah rupiah laba yang diperoleh. Paling tidak harus dilihat pula berapa besar bank tersebut membentuk pencadangan untuk mengantisipasi kredit yang memburuk, yang lazim disebut dengan Non-Performing Loan (NPL). Laba yang besar tapi tidak diikuti pencadangan yang memadai, akan membuat bank tersebut terhuyung bila kredit macetnya bertambah secara signifikan. Laba yang kecil tapi pencadangannya terlalu besar, bisa juga menjadi mubazir, atau malah diinterpretasikan sebagai “menyembunyikan” laba.

Nah, “manajemen laba” bank seharusnya bisa menampilkan laba yang wajar dengan pencadangan yang juga wajar. Pencadangan tersebut dalam terminologi akuntansi bank disebut sebagai “Cadangan Kerugian Penurunan Nilai” (CKPN). Perbandingan antara CKPN terhadap jumlah NPL disebut sebagai “NPL Coverage Ratio”, yang merupakan salah satu indikator apakah jumlah pencadangan bank sudah wajar atau belum. Ratio di bawah 100% mengindikasikan bank lebih mementingkan laba tahun ini, tapi mengorbankan laba di masa datang. Sebaliknya ratio di atas 200% mengindikasikan bank lebih mementingkan laba di masa datang, dan “membiarkan” laba saat ini kecil dari yang seharusnya. Jadi, sebaiknya NPL coverage ratio berada di kisaran 100 sampai 200%.

Manajemen laba bank penting untuk dicermati karena terkait dengan pengakuan prestasi manajemen puncak. Tim manajemen yang mempublikasikan laba yang besar selama periode kepemimpinannya, tentu mendapat apresiasi. Bahwa manajemen penggantinya harus menghadapi kredit macet bawaan manajemen lama, itu cerita lain. Makanya tidak heran ketika manajemen bank berganti, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan “general check up” atas kondisi perkreditan yang ada. Bila banyak nasabah peminjam yang “batuk-batuk” lebih baik manajemen baru menambah jumlah pencadangan dengan membiarkan perolehan laba yang kecil. Toh kalau akhirnya peminjam yang batuk-batuk tadi bisa disembuhkan, pencadangan tersebut bisa menjadi laba di masa yang akan datang. Kalaupun kondisi demikian buruknya, nasabah gak bisa disembuhkan, malah harus diamputasi (dalam terminologi perbankan disebut “write off” alias penghapus-bukuan kredit macet), maka tidak lagi mengganggu laba yang akan datang, karena sudah ada pencadangannya.

Demikian sekelumit paparan sederhana tentang “manajemen laba bank”. Di tengah kondisi perekonomian yang berat seperti sekarang ini, yang ditandai dengan pelemahan rupiah yang tajam, tentu juga menjadi “hantu” bagi perbankan yang berpotensi menggerek naik posisi NPL mereka. Makanya, kita perlu melihat laba bank secara komprehensif. Laba yang besar dengan CKPN yang memadai adalah kondisi yang paling ideal, dan sepertinya sulit untuk saat ini. Kondisi yang paling tidak nyaman dan membuat bankir tidur tidak nyenyak adalah laba yang kecil dengan CKPN yang juga kecil.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Kreatif, Koperasi di Garut Ini Olah Sampah Plastik Jadi BBM

Selengkapnya →