Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel Terbaru  >  Artikel saat ini

Membangun Check and Balance dalam Hubungan antara Board dengan Eksekutif

Oleh   /   Rabu 26 Februari 2014  /   Tidak ada komentar

Di dalam pengertian governance, pemerintah bukanlah satu-satunya aktor pembangunan sebab ada juga sektor swasta dan OMS yang biasanya disebut sebagai pemangku kepentingan (stakeholders).

keuanganLSM

Membangun Check and Balance dalam Hubungan antara Board dengan Eksekutif

…The judicial, legislative and executive branches of governmet must check and balance each other. But other non state institutions must participate in this important system of checks and balances as well. These checking institutions include the academy, the media, religious institutions and NGOs – Alan Dershowitz

Menjelang dan pada awal reformasi wacana utama yang disuarakan organisasi masyarakat sipil (OMS) adalah membangun good governance atau tata-pemerintahan yang baik. Dengan good governance dimasudkan sebagai proses pengambilan keputusan dan cara keputusan itu dilaksanakan. Proses pengambilan dan pelaksanaan keputusan yang baik haruslah didasarkan kepada beberapa prinsip seperti : demokratis, partisipatif, berorentasi konsensus, akuntabel, transparan, responsif, efektif, efisien, mengikuti aturan hukum, serta saling mengawasi dan mengimbangi (check and balance).

Di dalam pengertian governance, pemerintah bukanlah satu-satunya aktor pembangunan sebab ada juga sektor swasta dan OMS yang biasanya disebut sebagai pemangku kepentingan (stakeholders). Sebagai aktor yang selalu menuntut agar pemerintah menerapkan prinsip-prinsip tata-pemerintahan yang baik, hal itu tentunya berlaku juga bagi OMS)/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). LSM juga membutuhkan pengelolaan internal organisasi yang baik, sehingga diharapkan akan tercapai efektivitas, efisiensi, kredibilitas dan kelangsungan hidup organisasi LSM tersebut.

Saling mengawasi dan mengimbangi haruslah ada didalam organisasi LSM. Di dalam setiap organisasi LSM seyogianya ada badan yang merumuskan dan mengawasi kebijakan organisasi yang dalam bahasa Inggris biasa disebut Board. Ada yang disebut dengan badan atau dewan Pembina, Pengawas, Pengurus, Pengarah, Penyantun atau nama-nama lain yang setara. Sebagai Board pengururs LSM mempunyai dua tanggungjawab utama: (1) mencari, melindungi, mengembangkan dan menjamin keberlanjutan keuangan dan organisasi; dan (2) membuat  organisasi bekerja untuk memenuhi misi dan tujuan organisasi agar dapat dicapai dan menjamin bahwa sumber daya organisasi digunakan untuk mencapai misi tersebut. Untuk itu Board diberi wewenang menyetujui rencana strategis jangka panjang (strategic plan), program dan anggaran tahunan, memantau dan mengevaluasi efektivitas program dan keuangan untuk melihat apakah organisasi telah memenuhi tujuan dan sasaran yang digariskan dalam rencana. Menjadi kewajiban Board untuk selalu menjaga apakah organisasi berjalan dijalur yang benar.

Idealnya Board terdiri dari sejumlah orang dengan berbagai latar belakang, kapasitas dan keahlian. Misalnya tokoh yang dapat memberikan pemikiran, mempunyai kemampuan keuangan, mempunyai relasi yang luas; tapi juga keahlian dalam tugas-tugas spesifik seperti: capacity building, merumuskan strategi jangka panjang untuk memperkuat profesionalisme dan efektivitas organisasi. Anggota Board secara kolektif menjaga kepentingan organisasi tetapi juga menjamin bahwa organisasi akan tunduk kepada kewajiban-kewajibannya sesuai dengan anggaran dasar, misi, nilai-nilai dan etika organisasi; juga membantu dalam penggalangan dana (fundraising).

Untuk mencapai misinya, Pengurus mempekerjakan chief operating officer (seringdisebut Direktur Eksekutif) yang harus sangat berkomitmen untuk mewujudkan misi yang ditetapkan. Tugas utama Direktur Eksekutif adalah memimpin dan mengelola organisasi, mengalokasikan seluruh sumberdaya untuk memastikan bahwa program dan efektif dengan kualitas yang baik, dan relevan dengan visi dan misi organisasi. Seorang Direktur Eksekutif juga diharapkan menjadi pemimpin dengan menetapkan standar yang tinggi dan menanamkan harapan padarekan kerja, membuat keputusan teknis dan terlibat dalam persoalan-persoalan komunitas yang menjadi partisipasi program.

Perbedaan pokok antara pekerjaan Board dengan Eksekutif adalah bahwa Board berurusan dengan pengambilan keputusan dengan mengambil keputusan mengenai misi, kebijakan, pengawasan, monitoring dan evaluasi organisasi (governance) sementara Direktur fokus pada pengelolaan organisasi dan sumberdaya (management).

Namun demikian gambaran ideal mengenai hubungan antara Board dengan Eksekutif untuk LSM Indonesia dalam banyak hal masih jauh dari kenyataan. Adanya check and balance dalam bentuk pemisahan antara Pengurus dan Badan Pelaksana belum sepenuhnya dilakukan LSM. Suatu studi yang dilakukan Kelompok Kerja untuk Akuntabilitas OMS pada tahun 2009 menemukan sekitar 40% LSM yang berbentuk Yayasan masih merangkap jabatan Pengurus dan Badan Pelaksana. UU No.16 Tahun 2001 yang diubah dengan UU No. 28 Tahun 2004 tentang Yayasan misalnya mencantumkan bahwa ‘Yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina, Pengurus, dan Pengawas’ (Pasal 2). Dalam kenyataan baru sekitar 15% yang menyesuaikan dirinya dengan undang-undang tersebut.

Jurnal Akuntabilitas Edisi 2 ini memuat sejumlah tulisan dan hasil wawancara yang berhubungan dengan internal governance LSM. Methodius Kusumahadi menulis mengenai Pengembangan Kelembagaan dengan Manajemen Strategis 3R Yayasan SATUNAMA. Eko Kumara tentang Akuntabilitas Keuangan Pengendalian Internal dan Pengelolaan Keuangan Organisasi Nirlaba. Ada pula artikel terjemahan Marijana Trivunovic Melawan Korupsi LSM; Mengkaji Ulang Pendekatan Konvensional dan Potret Praktik Tata Pengurusan Internal dan Prinsip-prinsip Etik di LSM; Studi Kasus Hasil Assessment 18 Lembaga Anggota Konsil LSM Indonesia oleh Lily Pulu. Beberapa tokoh LSM telah diwawancarai seperti Erna Witoelar, Johanes Danang Widoyoko dan Wicaksono Sarosa.

Disarikan dari buku: Jurnal Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil, Penulis: Rustam Ibrahim, Hal: 2-4.

Jurnal Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil, Edisi 2, Februari – Juni 2014, dapat dilihat di web http://konsillsm.or.id/.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Membuat SDM Dihargai

Selengkapnya →