Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Issu Transparansi dan Akuntabilitas  >  Artikel saat ini

Mencermati Idealitas dan Mekanisme Kinerja Ornop

Oleh   /   Kamis 7 Juli 2011  /   Tidak ada komentar

Dalam rentang waktu tahun 1950-an hingga rentang waktu 1960-an, peran Ornop secara umum terbatas pada upaya mengatasi krisis kelaparan dan karenanya pendekatan yang dominan adalah aktivitas “karitatif atau sinterklas”.

keuangan LSM

Di Indonesia, sejarah kelahiran dan peran Ornop terlihat dalam berbagai variasi karakteristik sekaligus menjadi identitas tersendiri untuk generasinya

Oleh: Pahir Halim

Di Indonesia, sejarah kelahiran dan peran Ornop terlihat dalam berbagai variasi karakteristik sekaligus menjadi identitas tersendiri untuk generasinya. Dalam rentang waktu tahun 1950-an hingga rentang waktu 1960-an, peran Ornop secara umum terbatas pada upaya mengatasi krisis kelaparan dan karenanya pendekatan yang dominan adalah aktivitas “karitatif atau sinterklas”. Dengan demikian, Ornop yang lahir di era itu akrab disebut sebagai generasi pertama.

Pendekatan partisipatif menuju perwujudan kemandirian rakyat, menjadi tawaran strategis sebagai respon kritis terhadap dominannya keterlibatan negara dalam semua aspek kehidupan rakyat. Akan halnya pendekatan bottom up, juga dipandang jawaban yang pas untuk mengganti pendekatan sentralisir (top down) dalam merancang bangun kebijakan-kebijakan pembangunan. Di era itu, keberadaan Ornop lazim disebut sebagai generasi kedua.

Dalam rentang waktu tersebut, terlihat booming kelahiran Ornop yang secara umum watak gerakan-gerakannya lebih meluas, meliputi kritik tajam terhadap hancurnya lingkungan hidup, tirani kekuasaan sampai kepada pelanggaran HAM dan kesetaraan gender. Warna dasar gerakan Ornop di era ini, adalah bagaimana tercipta suatu transformasi sosial. Ornop yang lahir di era ini, oleh David Korten (1990), disebut sebagai Ornop generasi ketiga.

Subur dan berkembanganya Ornop generasi ketiga juga tidak terlepas dari dukungan donor-donor internasional yang mengucurkan dana cukup besar secara langsung kepada aktivis Ornop. Bersamaan dengan itu, kritik pedas terhadap Ornop tak terelakkan lagi.Tudingan demi tudingan dialamatkan kepada Ornop, mulai dari vonis penjual kemiskinan, agen-agen kapitalis sampai kepada perampok-perampok intelek, dating bergelombang tiada henti.

Ornop dituntut oleh publik agar menerapkan sikap dan perilaku yang transparan dan akuntabel. Kalau tidak, maka Ornop yang bersangkutan tidak akan pernah membawa manfaat untuk rakyat dan karenanya tidak layak menamakan diri sebagai Ornop.

 

Kecenderungan Ideologis dan Cakupan Aktivitas

Secara ideologis, M Billah (1999) membagi keberadaan Ornop di Indonesia ke dalam tiga jenis, yaitu: Ornop developmentalis atau kompromistis, Ornop reformatoris atau profesional dan Ornop transformatoris.

Ornop developmentalis atau kompromistis

Dalam situasi normal di mana demokrasi dalam pengertian yang esensial mulai berjalan, maka jenis Ornop seperti ini cenderung memposisikan diri sebagai pendukung setia pemerintah dengan istilah yang lebih akrab disebut “mitra”. Jika terjadi benturan antara kepentingan rakyat dengan Negara, maka Ornop developmentalis ini lebih memihak kepada pemerintah (negara). Alasannya, negara telah berada pada posisi yang benar, sehingga rakyatlah yang harus menyesuaikan diri dengan tatanan yang ditetapkan oleh negara.

Ornop reformatoris atau profesional

Ornop dalam kategori reformatoris adalah suatu Ornop yang bekerja secara profesional dalam arti pemihakan kerakyatannya jelas. Dengan begitu, ketika terjadi benturan kepentingan antara pemerintah dan rakyat, maka Ornop ini akan memantapkan pemihakan kepada rakyat yang menjadi kelompok dampingannya. Namun demikian, Ornop ini tidaklah menutup mata atas kelemahan rakyat yang dibelanya, tetapi tetap bertindak sebagai mediator yang rasional dan bukan sekedar memobilisasi apalagi memprovokasi tanpa reserve.

Ornop transformatoris

Ornop yang memiliki ideology ini, dalam situasi apa pun selalu memasang jarak dengan pemerintah sembari melancarkan kritik-kritik tajam secara terus-menerus. Ornop jenis ini berpendapat bahwa struktur, hubungan dan bahkan budaya, adalah suatu konstruksi secara sepihak yang ditentukan oleh negara melalui perangkat-perangkatnya tanpa pernah secara sungguh-sungguh memperjuangkan kepentingan rakyat.

Sedangkan berdasarkan peran dan fungsi Ornop terhadap pemberantasan kemiskinan dan keterbelakangan, Herdi (1999) mengklasifikasikan Ornop setidaknya dalam empat spektrum pendekatan yaitu:

Pertama, Pendekatan pembangunan (welfare), yaitu memberikan pelayanan kepada kelompok-kelompok yang berpendapatan rendah, golongan lemah atau rakyat kecil.

Kedua, Pendekatan pembangunan (developmentalis), dimana tekanan program adalah dukungan proyek-proyek untuk meningkatkan produktivfitas dan kemandirian kaum miskin, sebagai upaya mengatasi keterbelakangan ekonomi, politik dan cultural.

Ketiga, Pendekatan pemberdayaan (empowerment), yaitu pendekatan yang melihat kemiskinan sebagai suatu proses politik.

Keempat, Pendekatan transformative, yaitu pendekatan yang berorientasi pada transformasi sosial secara mendasar melalui aksi pendampingan, pemberdayaan dan advokasi sebagai langkah efektif bagi penyadaran rakyat dan mengagresasikannya sebagai kekuatan kolektif bagi perubahan melalui pengorganisasian masyarakat yang adil, demokratis dan beradab.

 

Kontrol Internal: Sebuah Gagasan

Dalam konteks transformasi dan akuntabilitas kinerja Ornop, tidaklah terbatas pada aspek dana saja, tapi juga meliputi aspek manajemen, program, visi, misi dan bahkan rekrutmen staf sebuah lembaga yang bernama Ornop. Dengan begitu, kontrol yang bersifat internal menjadi sangat penting dengan suatu asumsi bahwa kekuasaan cenderung korup, sedangkan kekuasaan yang mutlak pasti korup.

Dengan cara pandang seperti itu, maka aspek-aspek yang perlu dicermati terhadap keberadaan suatu Ornop, adalah sebagai berikut:

Pengurus nepotisme

Ornop yang sehat jika dipandang dari aspek pengurus adalah, yang bersangkutan tidak menempatkan orang-orang yang memiliki hubungan kekeluargaan sebagai pengurus inti. Misalnya, suami istri sebagai direktur dan sekretaris, bendahara adik ipar. Alasannya, komposisi pengurus seperti itu, akan sangat sulit diukur transparasi dan pertanggungjawaban.

Tumpang tindih program aksi

Ornop yang programnya tumpang tindih dalam arti, visi programnya, kelompok sasaran, waktu pelaksanaan, sama sementara sumber dananya lebih dari satu, maka hal tersebut juga dipandang tidak sehat. Pasalnya, dalam kondisi demikian itu, program cenderung mubazir, sementara kelompok sasaran lain menjadi tertutup peluangnya karena pelatihan terfokus pada satu kelompok sasaran.

Penutup

Pada prinsipnya esensi kehadiran Ornop adalah untuk menjadi “pengimbang” dominasi negara dalam semua aspek kehidupan. Asumsinya, jika dominasi negara dibiarkan, maka dimensi keadilan, demokratisasi dan partisipasi akan cenderung dinegasikan oleh penguasa. Pada posisi sebagai “pengimbang”, maka Ornop dituntut setiap saat agar merefleksikan positioning-nya sesuai dengan perubahan paradigma negara dan perubahan sosial yang terjadi.

Urgensi transparansi dan akuntabilitas Ornop, tidak hanya meliputi dimensi “keuangan/dana”, tetapi meliputi wilayah manajemen, program, visi, misi, dan rekrutmen pengurus. Tentang proses dan mekanismenya perlu pembahasan melalui diskusi yang spesifik dan komprehensif.

Dalam upaya mengefektifkan control internal terhadap Ornop, selain pengurus, independensi dan programnya terjamin demokratis dan berkeadilan, maka aturan main (misalnya Standar Operasional/SOP) menjadi suatu keharusan. Melalui “SOP” akan dapat dikontrol, siapa melakukan apa sampai kepada batas hak dan tanggungjawab setiap personil pada suatu Ornop.

Disarikan dari: Buku Kritik dan Otokritik LSM, Membangun Kejujuran Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat  Indonesia (Hamid Abidin & Mimin Rukmini, Halaman 46-53

Untuk versi lengkapnya dengan judul Mencermati Idealitas dan Mekanisme Kontrol Kinerja Ornop Pahir Halim dapat diunduh pada halaman Download kategori Isu Transparansi dan Akuntabilitas, bisa dilihat di sini.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

16 Prinsip Kode Etik Konsil LSM Indonesia

Selengkapnya →