Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Issu Transparansi dan Akuntabilitas  >  Artikel saat ini

Mengapa Koruptor Tak Pernah Jera?

Oleh   /   Senin 5 Desember 2011  /   Tidak ada komentar

Jawaban atas pertanyaan dari judul tulisan ini adalah karena kita tidak memiliki pemimpin yang dapat menjadi panutan: pemimpin yang berjiwa prajurit, prasojo, jujur, dan irit. Orang yang prasojo atau sederhana tidak akan mau berbuat korupsi karena tidak punya kebutuhan untuk melakukan hal itu.

keuangan LSM

Jawaban atas pertanyaan dari judul tulisan ini adalah karena kita tidak memiliki pemimpin yang dapat menjadi panutan

Jawaban atas pertanyaan dari judul tulisan ini adalah karena kita tidak memiliki pemimpin yang dapat menjadi panutan: pemimpin yang berjiwa prajurit, prasojo, jujur, dan irit. Orang yang prasojo atau sederhana tidak akan mau berbuat korupsi karena tidak punya kebutuhan untuk melakukan hal itu. Pakaian, makanan, dan cara hidupnya tidak mendorong ia untuk berbuat korupsi. Pakaian sederhana terbuat dari bahan yang tidak mahal, makanan hanya tahu-tempe dan sayuran, juga cara hidup yang tidak neko-neko tidak memerlukan biaya mahal.

Orang yang jujur juga tidak perlu berbuat korupsi karena dia tahu betul bahwa korupsi itu nyolong duit negara. Juga orang yang irit tidak mau berbuat korupsi karena dia tidak membutuhkan berbuat demikian, dia tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk tujuan tidak perlu.

Pemimpin yang memiliki sifat-sifat demikian itulah yang tidak kita miliki. Padahal, rakyat biasanya patuh kepada pemimpin dengan sifat-sifat yang demikian itu. Mereka akan hormat, segan, dan bahkan sayang.

Jangankan menghujat, menggosip (ngrasani) saja tidak bakal karena tidak ada bahan untuk diomongkan. Apalagi sampai melanggar peraturan negara seperti berbuat korupsi.

 

Tidak adanya pemimpin yang bisa dijadikan panutan membuat orang jadi tidak segan berbuat sewenang-wenang seperti lepas kendali. Tak ada yang disegani.

 

Jadi Sewenang-wenang

Artinya, mereka melakukan secara terang-terangan seperti menantang: mau apa kamu, nanti perkaranya toh dihentikan karena aku anggota partai atau punya hubungan pribadi atau hubungan khusus dengan orang yang berkuasa. Pejabat-pejabat pemerintah, wakil-wakil rakyat—baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan—tidak takut akan ketahuan berbuat korupsi.

Kalau sampai perkaranya diteruskan, aku bisa minta hukuman sesuai keinginanku, atau aku bisa masuk penjara yang kamarnya bisa dibuat seperti hotel. Ironisnya hal ini terjadi di semua lapisan birokrasi: polisi, jaksa, hakim, petugas penjara, dan orang-orang yang punya kekuasaan mengambil keputusan. Sulit sekali memberantasnya.

Itulah beberapa penyebab koruptor tidak jera. Dicoba dipermalukan, tidak berhasil. Mereka tidak malu, bahkan bangga. Dicoba lagi agar mereka dimiskinkan dengan cara merampas uang hasil korupsi juga tidak berhasil. Uang itu sudah disembunyikan di beberapa tempat di luar negeri, di bank-bank asing, dan di rekening saudara-saudara atau sahabat-sahabatnya.

Lalu bagaimana cara jitu untuk membuat koruptor jera? Ada yang mengusulkan agar dijatuhi hukuman berat, misalnya hukuman mati. Hukuman mati memang bisa membuat koruptor jera, tetapi berapa besar jumlah uang yang dikorupsi dan berapa besar pula akibat kesengsaraan yang ditimbulkan terhadap rakyat agar bisa dijatuhi hukuman mati belum ada patokannya.

Di antara para hakim terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini. Memang penjatuhan hukuman mati bisa membuat koruptor jera.

Sebaiknya Mahkamah Agung memikirkan penjatuhan hukuman mati bagi koruptor ini dengan mengajak para hakim membahas patokan pemidanaan khusus bagi koruptor, antara lain penjatuhan hukuman mati tersebut. Ini cara kedua untuk membuat koruptor jera.
 

Keteladanan

Sekali lagi, untuk membuat koruptor jera pun harus ada pemimpin yang bisa jadi panutan. Pemimpin yang bisa jadi panutan tadi sudah dijelaskan di atas: memiliki sifat-sifat prajurit yang berarti prasojo, jujur, dan irit. Selain itu, harus tegas mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi atau partainya. Dia harus berani pula bertindak tanpa pandang bulu dengan risiko tidak mendapat dukungan dari teman-temannya. Bertindak tegas tanpa mengulur-ulur waktu supaya tidak terkesan ragu-ragu.

Dia juga selalu memikirkan nasib rakyat miskin yang menggantungkan hidupnya dengan mengais sampah, mengajak mereka bicara secara langsung dan terbuka. Dan, pemimpin panutan selalu bertindak adil dan tidak pilih kasih.

Itu yang pertama. Kedua, para hakim harus berani menjatuhkan hukuman berat bagi koruptor, khususnya hukuman mati. Untuk itu Mahkamah Agung agar mengajak para hakim membahas soal patokan pemidanaan bagi koruptor. Hal ini perlu agar tidak terjadi disparitas pemidanaan bagi koruptor seperti yang terjadi pada masa lalu. Pada kesempatan itu penting pula dibahas syarat-syarat menjatuhkan hukuman mati yang sudah waktunya ada hakim yang berani menjatuhkan.

Dengan dua hal tersebut, insya Allah, para koruptor akan menjadi jera dan negara kita akan bebas dari korupsi.

Adi Andojo Soetjipto, Mantan Ketua Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sumber: KOMPAS, Rabu, 30 November 2011, Halaman: 6.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Akuntabilitas dan Tranparansi LSM: Perspektif Pemerintah Daerah

Selengkapnya →