Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Issu Transparansi dan Akuntabilitas  >  Artikel saat ini

Mengapa LSM Lebih Memilih Dana Hibah?

Oleh   /   Jumat 25 Oktober 2013  /   Tidak ada komentar

Alasan lain mengapa LSM-LSM belum mencurahkan perhatian yang cukup terhadap potensi penggalangan dana masyarakat lokal adalah karena pengembalian investasi pada pencarian hibah dari pemerintah atau lembaga donor yang sangat tinggi.

keuanganLSM

Mengapa LSM Lebih Memilih Dana Hibah?

Alasan lain mengapa LSM-LSM belum mencurahkan perhatian yang cukup terhadap potensi penggalangan dana masyarakat lokal adalah karena pengembalian investasi pada pencarian hibah dari pemerintah atau lembaga donor yang sangat tinggi, beberapa minggu penulisan proposal dapat menghasilkan hibah untuk bertahun-tahun. Penggalangan dana dari masyarakat merupakan proses yang panjang dan sulit, yang mensyaratkan banyak perubahan-perubahan organisasi dan mendapatkan hasil dan investasi yang relatif sedikit untuk kurun waktu yang lebih lama. Lagi pula, cara ini berisiko secara finansial.

Dengan adanya keterbatasan staf dan anggaran, keharusan menjaga biaya administrasi yang rendah, sikap skeptic terhadap kemungkinan hasil dan kurangnya pengalaman, banyak LSM telah memperhitungkan bahwa pencarian hibah (dari lembaga donor) merupakan mekanisme penggalangan dana terbaik. Terdapat sedikit akuntabilitas, hampir tidak ada penekanan pada tata kelola LSM dan pengembalian investasi. Ketergantungan LSM pada hibah terjadi tidak secara kebetulan. Hal ini merupakan hasil analisis rasional dan tanggapan terhadap sinyal-sinyal pasar derma.

Apakah Pendanaan Asing Berkelanjutan?

Ada pertanyaan, apakah pendanaan asing berkelanjutan? Bantuan publik dan swasta asing berkurang dan mengalir sesuai dengan perubahan prioritas donor eksternal. Sejalan dengan kemampuan negara-negara Asia Tenggara dalam mencapai kemajuan ekonomi, mereka pun akhirnya akan ‘diwisuda’ dari program bantuan asing, sebagaimana tetangga-tetangga mereka di Asia Barat Laut beberapa tahun lalu. Sejalan dengan penurunan bantuan asing yang tidak terelakkan, LSM-LSM akan semakin bersikap mengandalkan pada tiga sumber primer lain pendanaan yang tersedia untuk LSM diseluruh dunia: earned income, termasuk bayaran jasa, penjualan dan pendapatan investasi; sumbangan filantropi dari individu-individu lokal, yayasan-yayasan dan perahan; serata subsidi dan pembayaran pemerintah dalam negeri, langsung dalam bentuk hibah dan kontrak, serta tidak langsung melalui hak khusus dalam perpajakan. Dengan perjalanan waktu, keberlanjutan finansial LSM akan kian bergantung pada kualitas hubungan yang LSM sanggup kembangkan dengan opini publik dinegara mereka sendiri dan dengan pemerintah mereka sendiri. Dalam proses ini, LSM-LSM harus menjadi lebih akuntabel dan transparan terhadap donor-donor baru yang lebih banyak tuntutan.

Melangkah ke Depan

Pada sebagian besar kasus, organisasi-organisasi filantropi mendukung pengembangan kapasitas untuk staf. Beberapa mendukung pengembangan Dewan Pengurus dan menyewa konsultan. Tetapi hanya sedikit saat ini yang menggalakkan dan mendukung penggalangan dana dari masyarakat. Kegagalan melakukan ini mungkin betul-betul akan mengancam prospek tata kelola dan akuntabilitas yang lebih baik di kalangan LSM. Dalam banyak kasus, kesepakatan hibah donor mencakup ketentuan bahwa ‘LSM yang bersangkutan akan melakukan penjaminan keberlanjutan finansial proyek’. Dalam kenyataan, baik donor maupun LSM, tidak memberikan butir-butir anggaran khusus untuk kegiatan penggalangan dana.

Selama beberapa tahun terakhir, beberapa organisasi filantropi pelopor semisal Ford Foundation dan Ashoka (sebagai bagian the Citizens Base Initiative), telah menggulirkan program-program untuk mempersipkan LSM penerima hibah mereka untuk menggalang dana dari masyarakat lokal. Komponen-komponen program meliputi:

  • Pelatihan staf pada penggalangan dana dan bantuan teknis untuk mengembangkan rencana penggalangan dana dan kampanye.
  • Pengembangan Dewan Pengurus untuk melakukan orentasi ulang, menggirahkan dan melakukan transformasi partisipasi dan keterlibatan Dewan Pengurus.
  • Implementasi lapangan terkait dengan biaya-biaya kampanye penggalangan dana seperti software, komputer, biaya pos, acara retreat Dewan Pengurus, acara khusus, dsb.

Di India, GIVE Foundation sedang mempelopori sebuah upaya yang secara eksplisit mengaitkan penggalangan dana dengan tata kelola dan akuntabilitas. Yayasan ini menyelenggarakan portal pelaporan dan derma on line. Untuk menerima donasi, LSM-LSM India harus memenuhi kualifikasi melalui proses penapisan ketat. Menurut GIVE, ‘akuntabilitas dan transparansi serta kemauan untuk menyedikan umpan balik terhadap individu donor tentang cara penggunaan uang mereka merupakan kunci kriteria seleksi LSM.’ Hasil-hasil eksperimen ini membesarkan hati. Penggalangan dana tentu bukan sekedar uang. Disamping penggalangan sumber daya yang diperlukan guna memenuhi misi LSM, hal ini menyediakan peningkatan informasi untuk publik dan advokasi terhadap masalah sosial dan penyelesaiannya. Ini merupakan satu tanda paling jelas terbangunnya konstituen. Dan sebagai satu piranti memperbaiki tata-kelola dan akuntabilitas LSM, hal ini menyediakan sebuah tempat bagi suara-suara lain dikalangan masyarakat untuk didengar oleh LSM-LSM.

Disarikan pada buku: Peluang dan Tantangan Akuntabilitas LSM, Pengarang: Zaim Saidi, Hal: 40-43.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Gaya Penulisan Proposal Permohonan Dana

Selengkapnya →