Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita Media  >  Artikel saat ini

Menimba Ilmu dari Koperasi Jepang Beromzet Rp 270 Triliun

Oleh   /   Rabu 11 Januari 2017  /   Tidak ada komentar

Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) studi banding ke Japanese Consumer Cooperative Union (JCCU), sebuah koperasi beromzet Rp 270 triliun dengan anggota 28 juta orang.

menimba-ilmu-dari-koperasi-jepang-beromzet-rp-270-triliun

Menimba Ilmu dari Koperasi Jepang Beromzet Rp 270 Triliun

Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUMKM) studi banding ke Japanese Consumer Cooperative Union (JCCU), sebuah koperasi beromzet Rp 270 triliun dengan anggota 28 juta orang.

Kepala Dinas KUMKM Provinsi Jabar, Dudi Sudradjat Abdurachim, mengatakan maksud kunjungannya selain studi, juga menjajaki kemungkinan kerja sama ke depannya dengan koperasi terbesar di Negeri Sakura itu.

“Kami harapkan ke depannya koperasi-koperasi di Jawa Barat bisa kerja sama ke depan dengan JCCU, terutama tentang pengembangan bisnis dan sistem manajemen koperasi yang sudah sedemikian maju dan berdampak kesejahteraan anggotanya,” katanya melalui Kasubag Humas Pemprov Jabar Aziz Zulficar dari Shibuya, Tokyo, Kamis (24/11).

Menurut Dudi, jumlah penduduk Jabar yang 46 juta atau 20% dari penduduk Indonesia adalah aset yang sangat besar dibandingkan dengan anggota JCCU. Hanya saja diperlukan optimalisasi dan pembinaan berkelanjutan agar KUMKM di Jabar bisa memberi dampak sehebat JCCU.

“Jabar sudah punya KPSBU (Koperasi Petani Susu Bandung Utara) yang sudah maju dan memiliki 5000 anggota. Studi banding ini memberikan wawasan baru, agar pengembangan ke depan lebih baik,” ujar Dudi.

Provinsi Jawa Barat juga mencatat sejarah koperasi pertama berdiri di Indonesia yakni di Tasikmalaya tahun 1947, sehingga sudah selayaknya menjadikan koperasi sebagai basis perekonomiannya.

Sekilas saja, kata Dudi, kunci keberhasilan JCCU yang harus diadopsi pihaknya adalah optimalisasi pelayanan kepada anggota. Komunikasi dan relasi bisnis dengan anggota menjadi fokus semua pelayanan yang dilakukan.

“Dengan memanfaatkan teknologi informasi sistem pelayanan delivery order ke rumah-rumah anggota menjadi unggulan.Terbukanya informasi mengenai produk baik dari sisi ketersediaan dan kualitas membuat puluhan juta anggota koperasi konsumen di Jepang menjadi sangat loyal dan tidak bergeser ke toko-toko privat yang lain,” sambungnya.

Sumber: liputan6.com.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pemda Jangan Hanya Andalkan DAU-DAK

Selengkapnya →