Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Menjaga SBY- JK

Oleh   /   Jumat 4 Maret 2016  /   Tidak ada komentar

APA yang terjadi jika SBY-JK pecah kongsi dan jalan sendiri-sendiri? Inilah pertanyaan paling panas yang kini sedang menjadi buah bibir komunitas politik. Yang jelas, keduanya tidak bisa dipecat oleh MPR hanya karena pecah kongsi.

Menjaga SBY- JK

Menjaga SBY- JK

APA yang terjadi jika SBY-JK pecah kongsi dan jalan sendiri-sendiri? Inilah pertanyaan paling panas yang kini sedang menjadi buah bibir komunitas politik. Yang jelas, keduanya tidak bisa dipecat oleh MPR hanya karena pecah kongsi. Namun sudah hampir pasti pemerintahan yang ada tidak akan berjalan efektif. Kita segera aaemasuki kondisi negara yang gagal. Kian hari kehidupan publik :jan terpuruk secara politik dan ekonomi. Jika SBY-JK pecah kongsi, DPR dan MPR segera bergolak dan memainkan kartu truf masing-masing. Isu besar yang ada menjadi semakin besar.

Kesepakatan RI-Aceh dipersoalkan kembali. Isu kenaikan BBM dijadikan amunisi membakar kemarahan publik bias. Pengangguran yang kritis akan terus diangkat. Partai politik, purnawirawan, politisi, pengusaha, pengamat, mahasiswa, LSM, buruh dan para ibu rumah tangga segera mengambil jurusnya masing-masing. Politik nasional gunjang-ganjing. Tidak ada yang untung kecuali spekulan politik. Belakangan ini ada banyak fenomena yang membuat .‘omunitas politik bergunjing mengenai hubungan dua tokoh itu. JK tidak hadir dalam banyak sesi rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh SBY melalui telekonferensi dari AS. Mengapa SBY

perlu melakukan serial rapat kabinet ketika ada wakil presiden di dalam negri? Aneka spekulasi merebak. Sebelumnya, SBY menyatakan akan mengevaluasi kabinetnya yang terbukti tidak bisa kerja sama. Pernyataan SBY segera memberikan kesan akan ada reshuffie kabinet. Namun kemudian JK membuat pernyataan bahwa tidak ada reshujile kabinet. SBY menyatakan akan menaikan BBM setelah kompensasi terbukti jalan. Ketika proses data kemiskinan sendiri belum rapih, JK membuat pernyataan bahwa BBM akan naik tanggal 1 Oktober. Idealnya, jika negara Indonesia adalah mobil, JK adalah gas dan SBY adalah rem.

Karakter JK memang seperti gas: mendorong ,cmobil Indonesia” untuk bertindak cepat agar tidak terjadi akumulasi persoalan yang tidak selesai. Karakter SBY seperti rem: menjaga “mobil Indonsia” tidak mengebut melanggar rambu-rambu, serta tidak tabrak sana dan tabrak sini. Jika dua tokoh ini bersatu dan harmoni, “mobil Indonesia” akan berjalan seimbang, cepat namun tertib. Lingkaran terdekat dan elit politik yang tidak ingin Indonesia menjadi negara gagal memang harus menjaga hubungan dua tokoh ini, SBY-JK.

Berbeda dengan wapres era Soeharto, JK adalah wapres yang dipilih langsung dan pemimpin partai terbesar. Secara ketatanegaraan, SBY punya otoritas paling besar karena ia yang menjadi presiden. Namun dalam riel politik, pengaruh JK tidak kalah besarnya karena ia yang dapat “menjinakan” parlemen dan memobilisasi pengusaha. Dua tokoh ini dapat belajar dari alam. Bahwa hanya ada satu matahari dan satu bulan bagi bumi. Memang tidak boleh ada matahari kembar.

Disarikan dari buku: Para Politisi dan Lagunya, Penulis: Deny J.A, Hal: 9-10.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Pelaporan Keuangan Harus Mampu Menyediakan Informasi

Selengkapnya →