Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Metode Pendekatan “System Base”

Oleh   /   Selasa 20 Mei 2014  /   Tidak ada komentar

Fungsi dari system Base adalah untuk menentukan tingkat kepercayaan atas informasi yang terdapat dalam data akuntansi dengan cara melakukan testing (uji petik) terhadap transaksi operasional.

keuanganLSM

Metode Pendekatan “System Base”

1. Fungsi System Base

Untuk menentukan tingkat kepercayaan atas informasi yang terdapat dalam data akuntansi dengan cara melakukan testing (uji petik) terhadap transaksi operasional. Adapun, transaksi operasional ini didasarkan pada fakta yang terdapat dalam sistem pengawasan yang ada dengan tujuan untuk menghindari pemeriksaan yang lebih luas. Sistem ini umumnya digunakan apabila:

  • Pengendalian intern memadai/kuat
  • Jumlah transaksi banyak

2. Pencatatan dan Penegasan Secara Operasional dan Sistem Akuntansi

a. Hal yang perlu diutamakan dari sistem dasar pendekatan audit:

  • Pencatatan dan kebenaran operasional dan sistem akuntansi
  • Evaluasi atas operasional dan sistem akuntansi
  • Melaksanakan tes secara compliance
  • Melaksanakan tes secara subtantif atas aset, liabilities, P/L item

b. Yang perlu diperhatikan ketika hendak mengevaluasi kegiatan operasional dan sistem akuntansi secara lebih tajam adalah bahwa sistem yang ada harus didokumentasikan sebagai berikut:

  • Daftar Perkiraan (Chart of Account): sangat berguna sebagai pedoman untuk identifikasi transaksi bagi akuntansi.
  • Catatan-catatan  tertulis (Narative Note): berguna untuk suatu sistem pencatatan yang sedikit atau pengawasan harta yang tidak bergerak
  • Bagan Alur (Flow of Document): sangat berguna untuk menggambarkan transaksi dari operasional yang kompleks dan sistem akuntansi.

c. Sistem dalam audit file akan terdiri dari beragam jenis dokumen. Sedapat mungkin sistem flowchart digunakan untuk menggambarkan transaksi operasi dan sistem akuntansi, dan hal ini akan mempunyai nilai tambah, yaitu:

  • Pembuatan lebih cepat
  • Sangat membantu dan memudahkan untuk review dan follow up.
  • Sangat fleksibel dan mudah di-update
  • Secara umum, lebih akurat dan mudah dipahami di bandingkan dengan cara tertulis
  • Pembagian tugas dalam pengendalian intern terlihat jelas

d. Untuk menyatukan seluruh informasi yang ada, diperlukan penyusunan flowchart guna menyelidiki suatu sistem dengan pertanyaan atas sistem itu sendiri, siapa yang mengawasi pelaksanaan sistem tersebut. Dalam pelaksanaannya, diperlukan penandatanganan terhadap beberapa dokumen dan catatan-catatan yang ada dari orang yang diberi tanggung jawab untuk melakukan /menjalankan sistem tersebut, dengan pengertian bahwa yang bersangkutan mengerti dengan baik keuntungan yang diperoleh dari sistem tersebut.

e. Setelah gambaran kasar flowchart dibuat, sangat penting untuk mengonfirmasi sistem dengan cara melakukan uji coba langsung. Hal ini dikarenakan sistem tidak hanya dijadikan sebagai pedoman saja, tetapi juga karena ada kecenderungan dari staf pelaksanaan untuk melakukan jalan pintas atas prosedur yang ada. Lakukan tes transaksi yang berlangsung dengan memilih beberapa transaksi yang terkait langsung dengan operasional dan sistem akuntansi. Sangat bermanfaat jika dapat berdiskusi langsung dengan pejabat yang diberi tanggung jawab pada bidang akuntansi dan operasional, dengan tujuan untuk meyakinkan bahwa suatu sistem telah dicatat/dibuat dengan benar.

f. Pada pelaksanaan pemeriksaan berikutnya diperlukan konfirmasi kembali bahwa sistem dan prosedur (flowcharts) yang berkaitan dengan operasional masih berlangsung seperti semula. Jika ada perubahan sistem, hal itu harus dijelaskan berdasarkan pengujian yang dilakukan. Jika terdapat kelemahan, harus diusulkan saran perbaikan pada sistem dan prosedur. Demikian juga hanya sebelum sistem dan prosedur ditambah atau disesuaikan, salinan atas sistem dan prosedur yang lama harus disimpan dan dibuat catatan sebagai hasil evaluasi dan uji petik (audit test) telah dilakukan.

 

3. Evaluasi atas Sistem Akuntansi dan Operasional

a. Tujuan evaluasi:

  • Sistem akuntansi adalah untuk mengukur tingkat kepercayaan atas sistem pengendalian intern, sehingga dapat menghindari munculnya kesalahan dan kecurangan. Juga menentukan tingkat dapat kepercayaan terhadap data-data yang tercermin pada catatan akuntansi sebagai sumber informasi.
  • Sistem operasional adalah alat untuk meyakinkan praktis tidaknya operasional perusahaan ditinjau dari segi efisiensi, efektivitas, dan ekonomis.

b. Metode yang umum digunakan untuk mengevaluasi sistem akuntansi dan operasional adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan atas pengendalian intern perusahaan yang berlangsung (Internal Control Evalution Questionarie = ICEQ standard).

c. ICEQ digunakan untuk mengevaluasi bagian dari sistem operasional dan akuntansi dengan mengajukan pertanyaan terhadap bagian yang paling kritis dari prosedur, dan yang terkesan ada kejanggalan/kesalahan sistem. Berdasarkan jawaban yang diterima dapat diidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari sistem tersebut.

d. Sebelum menetapkan pertanyaan atas pengendalian yang ada atas sistem yang sedang di-review, sistem tersebut harus dipecah menjadi beberapa subsistem operasional dan sasaran terhadap masing-masing subsistem tersebut harus dapat diidentifikasi.

Pertanyaan yang diajukan harus terarah pada objek tersebut, “bagaimana sasaran tersebut dapat dicapai?” Karena sering kali ada beberapa sasaran dalam satu subsistem.

e. Fungsi ICEQ adalah untuk menanyakan langsung pada inti pengadilan intern dan sebagai alat tanya-jawab. Inti pengendalian intern merupakan isyarat untuk memikirkan semua aspek tentang luasnya audit yang akan dilakukan. Sering kali, didapatkan bahwa internal control baik/kuat secara keseluruhan, tetapi beberapa sistem lainnya lemah. Adalah penting untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan sistem prosedur yang ada secara detail. Dengan begitu, kita akan mengetahui bagian mana yang harus diperiksa atau dicocokan kembali dengan sistem dan prosedur yang telah baku.

f. Setiap kunjungan pemeriksaan (audit) sistem yang ada harus dievaluasi. Jika ada perubahan terkait dengan masalah pengendalian intern, ICEQ harus di update. Tujuannya adalah agar perubahan pengendalian intern dapat dinilai dengan benar dan meyakinkan, bahwa staf yang melakukan evaluasi telah memahami sistem tersebut dengan baik.

g. Kekuatan yang dapat diidentifikasi dalam suatu sistem, berikut dengan jenis dan luasnya compliance test, harus direncanakan agar dapat dijadikan dasar untuk melaksanakan kerjaan dan mengawasi pekerjaan dan mengawasi proses yang berlangsung. Kelemahan atas tidak dilaksanakannya compliance test akan berakibat pada sistem akuntansi. Jika ditemukan beberapa kelemahan, hal itu harus dicatat pada kertas/kolom lain untuk mengetahui dengan jelas luasnya pengujian secara subtantif. Juga, untuk mengetahui kelemahan yang ada dalam sistem internal control secara lebih jelas.

 

4. Compliance Test

a. Dapat dipercayanya pengendalian intern tidak dapat dijadikan dasar untuk mengabaikan evaluasi awal, yang sebenarnya dapat mengidentifikasi sasaran dari pengendalian intern yang berlangsung. Tes secara compliance perlu dilakukan untuk meyakinkan bahwa pengendalian intern harus dirancang dan disesuaikan dengan kondisi perusahaan.
b. Fungsi compliance test adalah untuk menentukan apakah operasional yang berlangsung dan dokumen-dokumen akuntansi telah menyatu dengan sistem yang ada dan memenuhi standar pengendalian intern. Jika test dilakukan secara compliance, kebenaran atas pelaksanaan operasional dan accounting control procedure dapat diketahui dengan diyakinkan, diterapkan, dan untuk menguji bahwa auditor yang melaksanakan tugas tersebut memahami sistem yang berlaku.
c. Tes secara compliance diperlukan jika secara operasional dan accounting control dapat dipercaya dan ditentukan sifat,waktu, serta luasnya substantive test yang akan dilakukan.
d. Tes transaksi secara compliance berkaitan langsung dengan operasional dan sistem akuntansi. Namun, tes tersebut hanya memperhatikan bagian-bagian penting dari pengendalian intern dengan tingkat kepercayaan yang telah tertanam. Jika ada penambahan tes objek yang berbeda, maka akan langsung dilakukan pada:

  • Bagian-bagian yang spesifik
  • Banyaknya transaksi yang diambil sebagai sampel (jumlah transaksi yang dites harus cukup untuk meyakinkan auditor dalam menarik kesimpulan).
  • Mengambil beberapa periode audit dengan asumsi pengendalian telah dilaksanakan

e. Pengendalian intern tidak hanya dibutuhkan untuk prosedur tertentu, tetapi juga harus ada secara keseluruhan dan harus independen/bebas, tidak terpengaruh oleh kepentingan orang tertentu. Dengan demikian, tes secara compliance juga disertai beberapa pertanyaan berikut:

  • Prosedur seperti apa yang diperluakan?
  • Dimana diperlukan prosedur?
  • Oleh siapa prosedur tersebut diperlukan?
  • Apakah secara konsisten prosedur dijalakan?

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil compliance test bahwa evaluasi telah dilakukan dengan benar dan pengendalian yang dinilai berkaitan dengan hasil evaluasi. atau, bisa juga evaluasi yang dilakukan tidak benar dan pengendalian intern yang ada tidak berfungsi sepenuhnya dalam praktik kerja yang sehat.

f. Jika dalam compliance test yang dilakukan tidak terdapat hal yang perlu dikomentari, maka hal itu dapat berarti bahwa pengendalian intern yang dites berfungsi dengan baik pada bagian tersebut. Demikian juga sebaliknya, jika ternyata ada kelemahan yang perlu diungkapkandari hasil tes tersebut atas pengendalian intern, maka hal itu berarti fungsi pengendalian tidak dijalankan dengan sebagaimana mestinya. Bisa juga terjadi bahwa terdapat kesalahan atau kelemahan pada sistem pencatatan akuntansi atau prosedur operasional. Jika penjelasan yang diterima bersumber dari suatu bagian yang tidak jelas disebabkan oleh sistem tersebut, maka perlu dilakukan “TES” lebih lanjut untuk meyakinkan kebenaran atas masalah tersebut. Jika dari hasil tes tersebut dapat disimpulkan bahwa pengendalian intern tidak berfungsi dengan baik pada periode tersebut, maka, secara umum sistem dan prosedur yang berjalan tidak dapat dipercaya. Karenanya perlu dipersiapkan rencana untuk melakukan substantive test.

g. Dalam memilih banyaknya sampel untuk melakukan compliance test, luasnya pengujian harus ditentukan terlebih dahulu agar kesepakatan untuk menemukan kesalahan/kegagalan terbuka lebar. Pada umumnya, diambil 30-60 transaksi secara acak untuk periode yang ditentukan atau periode pencatatan akuntansi yang berlangsung. Luasnya area pengujian bisa berubah, tergantung dari:

  • Pentingnya pengendalian yang diuji
  • Sifat transaksi yang sedang diuji
  • Besarnya populasi transaksi
  • Kualitas staf yang menjalankan operasi

Disarikan dari buku: Pedoman Audit Internal, Penulis: Alfred F. Kaunang, Halaman: 76-84.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Sangat Perlu Dukungan Akses Pembiayaan

Selengkapnya →