Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Nasabah yang Jujur dan Setia

Oleh   /   Jumat 1 April 2011  /   Tidak ada komentar

Apa yang membuat Bank BRI selama enam tahun berturut-turut sukses mencetak laba terbesar di antara bank-bank umum? Menurut Komisaris Utama Bank BRI Bunasor Sanim adalah karena 80 persen bisnis bank ini melayani kredit mikro, kecil, dan menengah.

keuanganLSM

Nasabah yang Jujur dan Setia

Sumber, KOMPAS, Jumat, 1 April 2011, Halaman 45

Apa yang membuat Bank BRI selama enam tahun berturut-turut sukses mencetak laba terbesar di antara bank-bank umum? Menurut Komisaris Utama Bank BRI Bunasor Sanim adalah karena 80 persen bisnis bank ini melayani kredit mikro, kecil, dan menengah.

Meskipun kredit yang disalurkan kecil-kecil—KUR mikro pagu kreditnya Rp 20 juta—tetapi para nasabah kredit mikro adalah mereka yang taat mengembalikan pinjaman. “Nonperforming loan (NPL, kredit macet) kredit mikro di BRI kurang dari 1 persen, kredit kecil sekitar 2 persen, yang menengah 3-4 persen, dan korporat di atas 5 persen,” kata Bunasor.

Bukan hanya jujur, para nasabah kecil itu juga rajin menabung dan mereka bukan jenis nasabah yang akan berpindah-pindah bank. Keadaan ini berbeda dari nasabah besar, seperti korporasi atau badan usaha milik negara. Para nasabah besar dengan cepat akan memindahkan dana simpanannya apabila di bank lain ada iming-iming bunga lebih tinggi 1-2 persen.

Potensi kredit mikro juga memikat bank swasta, seperti Danamon. Senior Executive Vice President Bank Danamon Minhari Handikusuma mengatakan, setiap tahun bank ini memperluas jaringan layanan untuk UMK. Tahun ini rencananya ada tambahan 159 kantor, menambah jumlah 1.110 kantor khusus layanan UMK yang sudah ada. Dengan setiap unit melayani 400-800 nasabah, Danamon memiliki 479.000 nasabah mikro dan kecil. “Semua di perdagangan, tetapi kami akan masuk juga ke pertanian, industri rumahan, atau masuk juga ke pinggir kota dan pedesaan,” kata Minhari.

Nasabah BRI sebagian besar adalah dari sektor mikro, jumlahnya sekitar 25 juta orang dari sekitar 30 juta nasabah, sementara nasabah korporasi hanya ratusan nasabah. Hingga Desember 2010, jumlah kredit yang disalurkan Rp 71,178 triliun atau 29,5 persen dari total kredit yang juga termasuk kredit ritel (46 persen), menengah (6 persen), dan korporasi (18,5 persen).

Dari kredit mikro, 57 persennya untuk Kredit Usaha Pedesaan (Kupedes) Komersial dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro yang merupakan kredit untuk kegiatan produktif dan sisanya untuk Kupedes Golongan Berpenghasilan tetap (GBT) yang digolongkan sebagai kredit konsumsi. “Meskipun ada juga yang dipakai untuk beli motor oleh pegawai negeri, lalu dipakai ngojek atau dipakai istrinya untuk buka warung. Jadi, produktif juga,” papar Bunasor.

Pendampingan

Meskipun nasabah mikro memiliki karakter khusus karena keadaan sosial ekonominya, BRI dan Danamon melihat hal itu bukan hambatan. Danamon setiap hari mendatangi nasabahnya. “Kalau ditagih bulanan dan angkanya jutaan rupiah, dia akan kaget. Tetapi, kalau setiap hari didatangi dan dia menyetor Rp 100.000, selain melatih nasabah disiplin menabung juga melatih menyisihkan uang,” kata Minhari.

BRI mendatangi nasabahnya dengan menggunakan alat eketronik portabel. “Kami mendatangi nasabah di pusat-pusat kegiatan, misalnya pedagang di pasar basah, melalui program Teras. Dua orang BRI unit desa datang membawa alat elektronik, lalu mencatat setoran dan sisa pinjaman nasabah. Dia bisa lihat langsung sisa pinjamannya. Ini mengadopsi sistem kredit ala orang Ciamis dan Tasik,” kata Bunasor.

Potensi kredit mikro terklihat dari Danamon Simpan Pinjam yang tumbuh 24 persen tahun lalu. Kredit MKM yang disalurkan rata-rata di bawah Rp 75 juta, dengan kisaran bunga 0,8-2,5 persen per bulan. Minhari mengakui, biaya operasional yang tinggi dan faktor risiko menjadi penyebab bunga kredit relatif tinggi karena Danamon memiliki 1.000 unit UMKM di kabupaten dan kecamatan dan satu-dua masuk ke desa selama tujuh tahun terakhir.

Apabila data yang disinyalir Bank Dunia benar, yaitu baru 50 persen dana di masyarakat tersentuh perbankan, serta data Kementerian Koperasi dan UMKM bahwa ada 52 juta unit usaha mikro adalah benar, hal tersebut mengindikasikan potensi bisnis dengan efek ganda ke berbagai sektor ekonomi menurunkan jumlah orang miskin. (NINUK M PAMBUDY/SUHARTONO).

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Perlu Serap Digital

Selengkapnya →