Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Internal

Oleh   /   Senin 4 Januari 2016  /   Tidak ada komentar

Berbagai keperluan pelaksanaan pemeriksaan lainnya, seperti jangka waktu pelaksanaan pemeriksaan, luas, periode yang akan diperiksa, dan perkiraan saat selesainya pemeriksaan, haruslah ditentukan.

Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Internal

Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Internal

Pemeriksa internal (Internal Auditor) bertanggungjawab untuk merencanakan dan melaksanakan tugas pemeriksaan, yang harus disetujui dan ditinjau atau direview oleh pengawas.

Perencanaan Pemeriksaan

Perencanaan pemeriksaan internal harus didokumentasikan dan meliputi hal-hal berikut ini:

  1. Penetapan tujuan pemeriksaan dan lingkup pekerjaan.
  • Tujuan pemeriksaan adalah pernyataan paling luas yang dihasilkan oleh pemeriksa internal dan menyebutkan berbagai hal yang ingin dicapai dalam pelaksanaan pemeriksaan. Berbagai tujuan dan prosedur pemeriksaan secara bersama-sama akan menyatakan lingkup pekerjaan pemeriksaan internal.
  • Tujuan dan prosedur pemeriksaan haruslah ditujukan pada berbagai risiko yang berhubungan dengan kegiatan yang akan diperiksa. Istilah risiko merupakan kemungkinan bahwa suatu peristiwa atau perbuatan dapat menimbulkan akibat buruk terhadap kegiatan yang akan diperiksa. Pedoman yang terdapat pada Bab VII, nomor 4 haruslah dipergunakan oleh pemeriksa dalam melakukan perkiraan risiko bagi tugas pemeriksaan yang dilakukan.
  • Tujuan pemeriksaan risiko yang dilakukan pada tahap persiapan adalah untuk menentukan area yang penting dalam kegiatan yang akan diperiksa.
  1. Memperoleh informasi dasar (background information) tentang kegiatan yang akan diperiksa.

1. Peninjauan atau review terhadap informasi dasar haruslah dilakukan untuk menentukan dampaknya terhadap pemeriksaan. Hal-hal tersebut mencakup hal-hal berikut.

  • Pernyataan tentang tugas, sasaran dan rencana.
  • Informasi organisasional, misalnya jumlah dan nama para pegawai, pegawai yang memiliki kedudukan penting, pembagian kerja, kebijaksanaan dan petunjuk-petunjuk tentang prosedur serta perincian tentang berbagai perubahan yang baru terjadi dalam organisasi, termasuk perubahan sistem yang pokok.
  • Informasi anggaran, hasil-hasil kegiatan, dan data keuangan tentang kegiatan yang akan diperiksa.
  • Kertas kerja pemeriksaan yang sebelumnya.
  • Hasil-hasil dari pemeriksaan lainnya, termasuk pekerjaan dari pemeriksaan eksternal (external auditor), yang telah selesai atau sedang dikerjakan.
  • File-file pembanding (correspondence file) untuk menentukan persoalan-persoalan pemeriksa penting yang potensial.
  • Literatur-literatur teknis dan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang, yang sesuai dengan kegiatan yang akan diperiksa.

2. Berbagai keperluan pelaksanaan pemeriksaan lainnya, seperti jangka waktu pelaksanaan pemeriksaan, luas, periode yang akan diperiksa, dan perkiraan saat selesainya pemeriksaan, haruslah ditentukan. Harus pula dipertimbangkan bentuk laporan pemeriksaan yang final.

  1. Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan.
  • Jumlah dan tingkat pengalaman staf pemeriksa yang diperlukan haruslah didasarkan pada evaluasi sifat dan tingkat kesulitan dari tugas pemeriksaan, batas waktu penyelesaian, dan tenaga yang tersedia.
  • Pengetahuan, kecakapan, dan disiplin ilmu dari staf pemeriksa haruslah dipertimbangkan dalam pemilihan pemeriksa yang akan ditugaskan.
  • Latihan yang dibutuhkan oleh para pemeriksa harus pula dipertimbangkan karena tiap-tiap tugas pemeriksaan akan berfungsi sebagai dasar tercapainya perkembangan yang dibutuhkan oleh bagian audit internal.
  • Pertimbangan penggunaan tenaga eksternal apabila terdapat kebutuhan akan pengetahuan, kecakapan, dan disiplin ilmu tambahan.
  1. Pemberitahuan kepada para pihak yang dipandang perlu.

1. Haruslah dilakukan rapat dengan manajemen yang bertanggungjawab kegiatan yang akan diperiksa. Hal-hal yang didiskusikan dapat mencakup:

  • Berbagai tujuan dan lingkup kerja pemeriksaan yang direncanakan;
  • Waktu pelaksanaan pemeriksaan;
  • Para pemeriksa yang akan ditugaskan;
  • Proses pembicaraan selama pemeriksaan, termasuk metode yang digunakan, susunan waktu dan individu-individu yang akan bertanggungjawab;
  • Keadaan dan pelaksanaan usaha pada kegiatan yang akan diperiksa, termasuk berbagai perubahan yang baru saja terjadi dalam manajemen atau sistem yang pokok;
  • Berbagai perhatian atau permintaan kepada manajemen;
  • Hal-hal yang merupakan kepentingan khusus atau menjadi perhatian pemeriksa internal;
  • Gambaran tentang berbagai prosedur pelaporan dan proses tindak lanjut oleh bagian audit internal.

2. Rangkuman hal-hal yang didiskusikan pada rapat dan berbagai kesimpulan yang dihasilkan haruslah dibuat, didistribusikan kepada individu-individu yang memerlukan, dan disimpan dalam kertas kerja pemeriksaan.

  1. Melaksanakan survai secara tepat untuk lebih mengenali kegiatan yang diperlukan, risiko-risiko, dan pengawasan-pengawasan, untuk mengidentifikasi area yang ditekankan dalam pemeriksaan, serta untuk memperoleh berbagai ulasan dan sasaran dari pihak yang akan diperiksa.

1. Survai merupakan suatu proses untuk mendapatkan informasi, tanpa melakukan verifikasi secara terperinci, tentang kegiatan yang akan diperiksa. Tujuan utama survai adalah untuk:

  • Memahami kegiatan yang ditinjau.
  • Mengidentifikasi berbagai area penting yang memerlukan penekanan khusus.
  • Memperoleh informasi yang akan dipergunakan dalam melaksanakan pemeriksaan, dan
  • Menentukan apakah perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

2. Suatu survai akan menghasilkan berbagai keterangan yang akan dipergunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan dan pemeriksaan, serta merupakan suatu alat yang efektif bagi penentuan penggunaan sumber daya bagian pemeriksaan internal secara efektif.

3. Focus suatu survai bermacam-macam, tergantung pada sifat atau keadaan pemeriksaan.

4. Lingkup pekerjaan dan waktu yang diperlukan bagi pelaksanaan survai bermacam-macam. Hal yang mempengaruhi adalah kemampuan dan pengalaman para pemeriksa internal, pengetahuan tentang kegiatan yang sedang diteliti, jenis pemeriksaan yang akan dilakukan, dan apakah survai tersebut merupakan bagian dari tugas yang telah dilakukan berulang kali ataukah tugas baru. Waktu yang diperlukan akan dipengaruhi pula oleh ukuran dan tingkat kesulitan kegiatan yang akan diteliti, serta oleh penyebaran kegiatan secara geografis.

5. Suatu survai meliputi penggunaan prosedur-prosedur berikut ini, yaitu:

  • Diskusi dengan pihak yang akan diperiksa,
  • Wawancara dengan individu-individu yang terpengaruh oleh kegiatan yang akan diperiksa, misalnya para pemakai hasil dari kegiatan,
  • Observasi lapangan,
  • Peninjauan atau review terhadap laporan dan penelitian yang dilakukan oleh manajemen,
  • Prosedur pemeriksaan analitis,
  • Pembuatan bagan arus atau flow charting,
  • Melakukan pengujian terhadap pelaksanaan pekerjaan tertentu dari awal hingga selesai (functional “walk-thru”),
  • Mendokumentasikan aktivitas kunci pengendalian.

6. Pada akhir survai haruslah dibuat suatu risalah tentang hasil survai, yang isinya harus mengidentifikasikan:

  • Persoalan pemeriksaan yang penting dan alasan melaksanakan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkapkan persoalan tersebut secara lebih mendalam;
  • Berbagai informasi yang berhubungan dengan persoalan yang diperoleh selama pelaksanaan survai;
  • Tujuan pemeriksaan, prosedur pemeriksaan, dan pendekatan khusus seperti teknik-teknik pemeriksaan yang didukung oleh pengguna komputer;
  • Titik-titik pengawasan yang kemungkinan besar berada dalam keadaan kritis, ketidaksempurnaan pengawasan, dan atau pengawasan yang berlebihan;
  • Perkiraan sementara tentang waktu dan tenaga yang diperlukan;
  • Perubahan tanggal bagi tahap pelaporan dan penyelesaian pelaksanaan pemeriksaan;
  • Apabila disimpulkan berdasarkan hasil, alasan-alasan untuk tidak meneruskan pemeriksaan.
  1. Penulisan program pemeriksaan Program pemeriksaan haruslah
  • Membuktikan prosedur pemeriksaan dalam pengumpulan, analisis penafsiran, dan penyimpangan informasi yang diperoleh selang pemeriksaan;
  • Menetapkan tujuan pemeriksaan;
  • Menyatakan lingkung dan tingkat pengujian yang diperlukan untuk mencapai tujuan pemeriksaan;
  • Mengidentifikasi aspek-aspek teknis, risiko, proses, dan transaksi yang akan diteliti;
  • Menetapkan sifat dan luas pengujian yang diperlukan;
  • Merupakan persiapan bagi awal pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dan perubahan, bila dipandang perlu, selama pelaksanaan pemeriksaan.
  1. Menentukan bagaimana, kapan, dan kepada siapa hasil-hasil pemeriksaan akan disampaikan. Pimpinan audit internal bertanggungjawab menentukan bagaimana, kapan, dan kepada siapa hasil pemeriksaan akan disampaikan. Hasil penentuan tersebut haruslah didokumentasikan, dapat dibuktikan, dan diberitahukan kepada manajemen, dalam lingkup yang didasarkan pada pertimbangan praktis selama tahap persiapan pemeriksaan. Berbagai perubahan yang terjadi kemudian, yang mempengaruhi waktu pelaksanaan atau pelaporan hasil pemeriksaan, harus pula diberitahukan kepada manajemen, apabila dianggap perlu.
  1. Memperoleh persetujuan bagi rencana kerja pemeriksaan.
  • Rencana kerja pemeriksaan haruslah disetujui secara tertulis oleh pimpinan audit internal atau orang yang ditunjuk sebelum awal pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan.
  • Berbagai penyelesaian terhadap rencana kerja pemeriksaan haruslah disetujui dalam waktu yang tepat. Pada awalnya, suatu persetujuan dapat diperoleh secara lisan apabila terdapat berbagai hal yang menghalangi perolehan persetujuan tertulis sebelum pekerjaan pemeriksaan dimulai.

Disarikan dari buku: Standar Profesional Audit Internal (Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan Internal), Penulis: Hiro Tugiman, Hal: 53-59.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pemda Jangan Hanya Andalkan DAU-DAK

Selengkapnya →