Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Pemeriksaan Internal harus Dilaksanakan secara Ahli dan dengan Ketelitian Profesional

Oleh   /   Rabu 2 Desember 2015  /   Tidak ada komentar

Pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan haruslah menugaskan orang-orang yang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan.

Pemeriksaan Internal harus Dilaksanakan secara Ahli dan dengan Ketelitian Profesional

Pemeriksaan Internal harus Dilaksanakan secara Ahli dan dengan Ketelitian Profesional

Kemampuan profesional merupakan tanggungjawab bagian audit internal dan setiap auditor internal. Pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan haruslah menugaskan orang-orang yang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas.

Unit Audit Internal Personalia

Bagian audit internal haruslah memberikan jaminan atau kepastian bahwa teknis dan latar belakang pendidikan para pemeriksa internal telah sesuai bagi pemeriksaan yang akan dilaksanakan.

  1. Pimpinan audit internal harus menetapkan kriteria pendidikan dan pengalaman yang sesuai dalam mengisi jabatan-jabatan di bagian audit internal, dengan mempertimbangkan pula lingkup pekerjaan dan tingkat tanggungjawabnya.
  2. Harus pula diperoleh kepastian yang pantas dan masuk akan tentang kualifikasi dan kemampuan setiap calon pemeriksa.

Pengetahuan dan kecakapan

Bagian audit internal haruslah memiliki atau mendapatkan pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggungjawab pemeriksaan.

  1. Staff audit internal secara keseluruhan atau kolektif haruslah memiliki pengetahuan dan kecakapan yang penting bagi pelaksanaan praktek profesi di dalam organisasi. Sifat-sifat ini mencakup kemampuan dalam menerapkan standar pemeriksaan, prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan.
  2. Bagian audit internal harus memiliki pegawai atau bila perlu menggunakan jasa konsultan yang memiliki kualifikasi dalam berbagai disiplin ilmu seperti akuntansi, ekonomi, keuangan, statistik, pemrosesan data elektronik, teknik, perpajakan, dan hukum.

Pengawasan

Bagian audit internal haruslah memberikan kepastian bahwa pelaksanaan pemeriksaan internal akan diawasi sebagaimana mestinya.

  1. Pimpinan audit internal bertanggungjawab melakukan pengawasan pemeriksaan yang pantas. Pengawasan merupakan suatu proses yang berkelanjutan, dimulai dengan perencanaan dan diakhiri dengan penyimpulan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
  2. Pengawasan mencakup:
  • Memberikan instruksi-instruksi secukupnya kepada para pemeriksa atau pelaksanaan pada awal pemeriksaan dan persetujuan-persetujuan terhadap program-program pemeriksaan.
  • Melihat apakah program pemeriksaan yang telah disetujui dilaksanakan, kecuali bila terdapat penyimpangan atau deviasi yang dibenarkan atau disahkan.
  • Menentukan apakah kertas kerja pemeriksaan telah cukup untuk mendukung temuan pemeriksaan, kesimpulan-kesimpulan dan laporan hasil pemeriksaan.
  • Meyakinkan apakah laporan pemeriksaan tersebut akurat, objektif, jelas, ringkas, konstruktif, dan tepat waktu.
  • Menentukan apakah tujuan pemeriksaan telah dicapai.
  1. Bukti-bukti yang tepat tentang pemeriksaan harus didokumentasikan dan disimpan dengan baik.
  2. Perluasan pemeriksaan yang diperlukan akan tergantung pada kemampuan para pemeriksa dan tingkat kesulitan pemeriksaan yang ditugaskan.
  3. Seluruh tugas pemeriksaan internal, baik yang dilaksanakan oleh maupun untuk bagian audit internal, tetap merupakan tanggungjawab pimpinan audit internal.

Audit Internal Kesesuaian dengan Standar Profesi

Para pemeriksa standar profesi dan menetapkan dasar bagi pelaksanannya. Kode etik menghendaki standar yang tinggi bagi kejujuran, sikap objektif, ketekunan, dan loyalitas, yang harus dipenuhi oleh pemeriksa internal.

Pengetahuan dan Kecakapan

Para pemeriksa internal harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan berbagai disiplin ilmu yang penting dalam pelaksanaan pemeriksaan. Setiap pemeriksa internal harus memiliki pengetahuan dan kecakapan sebagai berikut:

  1. Keahlian pemeriksa internal dalam menerapkan berbagai standar, prosedur, dan teknik pemeriksaan yang diperlukan dalam pelaksanaan pemeriksaan. Keahlian berarti kemampuan dalam menerapkan pengetahuan pada persoalan yang umumnya dihadapi dan menyelesaikan pada persoalan yang umumnya dihadapi dan menyelesaikan persoalan tersebut tanpa perlu memperlajari kembali secara luas dan bantuan atau asistensi yang berarti dari pihak lain.
  2. Keahlian dalam prinsip-prinsip dan teknik-teknik akuntansi yang diperlukan oleh pemeriksa yang pekerjaannya secara luas berhubungan dengan berbagai catatan dan laporan keuangan.
  3. Memahami prinsip-prinsip manajemen yang diperlukan untuk mengenali dan mengevaluasi dari penyimpangan atau deviasi dalam praktek usaha yang baik. Pemahaman berarti kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang luas dalam situasi yang umumnya dihadapi dan mampu melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mendapatkan pemecahan atau solusi yang tepat.
  4. Diperlukan pula pemahaman terhadap dasar dari berbagai pengetahuan, seperti akuntansi, ekonomi, hukum, perdagangan, perpajakan, keuangan, metode-metode kuantatif, dan sistem informasi yang dikomputerisasi. Pemahaman di sini berarti kemampuan untuk mengetahui berbagai persoalan yang ada atau mungkin timbul, dan untuk memecahkan lebih lanjut yang akan dilakukan atau bantuan yang akan diperoleh.

Hubungan Antarmanusia dan Komunikasi

Para pemeriksa internal haruslah memiliki kemampuan untuk menghadapi orang lain dan berkomunikasi secara efektif.

  1. Para pemeriksa haruslah memahami hubungan antarmanusia dan mengembangkan hubungan baik dengan pihak yang diperiksa.
  2. Para pemeriksa haruslah memiliki kecakapan dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga mereka dapat secara jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal seperti tujuan pemeriksaan, evaluasi, kesimpulan, dan rekomendasi.

Pendidikan Berkelanjutan

Para pemeriksa internal harus meningkatkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan yang berkelanjutan.

Para pemeriksa berkewajiban meneruskan pendidikannya dengan tujuan meningkatkan keahliannya. Mereka harus berusaha memperoleh informasi tentang kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik-teknik audit. Pendidikan lebih lanjut dapat diperoleh melalui keanggotaan dan partisipasi dalam perkumpulan profesi, kehadiran dalam berbagai konferensi, seminar, kursus yang diadakan oleh suatu universitas, program pelatihan yang dilaksanakan oleh organisasi (in-house training programs) dan partisipasi dalam proyek penelitian.

Ketelitian Profesional

Para pemeriksa internal harus melaksanakan ketelitian professional yang sepantasnya dalam melaksanakan pemeriksaan.

A. Ketelitian professional sepantasnya menghendaki penerapan ketelitian dan kecakapan yang secara patut diduga akan dilakukan oleh seorang pemeriksa yang bijaksana dan berkompeten, dalam keadaan yang sama atau mirip. Karenanya, ketelitian professional harus sesuai dengan tingkat kesulitan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan. Dalam menerapkan ketelitian profesional yang sepantasnya, pemeriksa internal harus mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan atau error, kelalaian, ketidakefektivan, pemborosan, ketidakefisienan, dan konflik kepentingan. Mereka harus mengidentifikasi pengendalian yang lemah dan merekomendasikan perbaiakan untuk menciptakan kesesuaian dengan berbagai prosedur dan praktek yang sehat.

1. Kecurangan atau fraud meliputi suatu susunan ketidakberesan dan perbuatan illegal yang merupakan suatu muslihat yang dilakukan untuk keuntungan atau kerugian organisasi, yang dilakukan oleh orang di luar dan atau di dalam organisasi.

2. Kecurangan yang bertujuan menghasilkan keuntungan bagi organisasi pada umumnya menghasilkan suatu keuntungan secara tidak jujur atau tidak wajar yang mungkin dapat pula menimbulkan kerugian bagi pihak lain di luar organisasi. Pelaku jenis kecurangan ini memperoleh keuntungan secara tidak langsung, karena pada umumnya keuntungan pribadi akan bertambah bila organisasi mendapatkan bantuan atau keuntungan.

Beberapa contoh adalah sebagai berikut:

  • Penjualan atau penyerahan harta fiktif atau yang digambarkan secara keliru.
  • Pembayaran-pembayaran yang sepantasnya tidak dilakukan seperti kontribusi politik yang illegal, penyuapan, pembayaran-pembayaran komisi gelap (kick backs), dan pembayaran upah (pay off) kepada pejabat pemerintah, pelanggan atau rekanan.
  • Penyajian atau penilaian terhadap transaksi, harta, kewajiban atau pendapatan yang dilakukan dengan sengaja dilakukan secara tidak benar.
  • Penetapan harga pengalihan yang dengan sengaja dilakukan dengan tidak benar, misalnya penilaian terhadap barang-barang yang diberikan di antara organisasi-organisasi yang saling berkaitan. Ini dilakukan dengan menggunakan teknik penyusunan harga secara tidak tepat sehingga manajemen dapat meningkatkan hasil operasional organisasi yang terlibat dalam transaksi dan menimbulkan kerugian bagi organisasi lainnya, yang dengan sengaja dilakukan.
  • Transaksi antara pihak yang saling berkaitan yang dengan sengaja dilakukan secara tidak benar sehingga salah satu pihak mendapatkan keuntungan yang tidak dapat diperoleh dalam suatu transaksi antara para pihak yang tidak memiliki keterkaitan (arm’s-length transaction).
  • Kesengajaan untuk mengubah catatan-catatan atau dokumen atau memberikan suatu informasi penting yang tidak benar untuk meningkatkan gambaran keuangan organisasi kepada pihak di luar organisasi.
  • Kegiatan yang terlarang seperti kegiatan yang bertentangan dengan undang-undang, hukum, peraturan atau kontrak.
  • Kecurangan pajak.

3. Kecurangan yang menimbulkan suatu kerugian bagi organisasi pada umumnya dilakukan untuk keuntungan secara langsung dan atau tidak langsung bagi pegawai, individu di luar organisasi atau organisasi lain. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:

  • Penerimaan suap atau komisi gelap.
  • Pengambilan suatu transaksi yang potensial menghasilkan keuntungan, yang pada umumnya memberikan keuntungan bagi perusahaan oleh pegawai atau pihak di luar organisasi.
  • Penggelapan yang merupakan penyalahgunaan uang atau barang milik organisasi dan melakukan pemalsuan catatan untuk menutupi perbuatan dan mempersulit dideteksi.
  • Kesengajaan menyembunyikan atau menyajikan data atau keadaan secara tidak benar.
  • Mengajukan tuntutan pembayaran atas berbagai barang atau jasa yang sesungguhnya tidak diberikan kepada organisasi.

4. Pencegahan kecurangan terdiri atas berbagai tindakan yang dilakukan untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kecurangan, membatasi atau memperkecil kerugian yang mungkin timbul bila terjadi kecurangan. Mekanisme utama pencegahan kecurangan atau pengawasan tanggungjawab yang utama untuk menetapkan dan mengembangkan pengawasan yang terletak pada manajemen.

5. Para pemeriksa internal bertanggungjawab mendukung pencegahan kecurangan, dengan cara menguji dan mengevaluasi kecukupan dan keefektivan sistem pengendalian internal, sesuai dengan tingkat kerugian atau risiko yang potensial dalam berbagai segmen kegiatan organisasi. Dalam melaksanakan tanggungjawab ini, para pemeriksa berdasarkan keahliannya harus menentukan, misalnya hal-hal berikut ini.

  • Apakah lingkungan atau situasi organisasi membantu mengembangkan kesadaran pangawasan?
  • Apakah tujuan dan sasaran organisasi yang realistis telah ditetapkan?
  • Apakah telah terdapat suatu kebijaksanaan tertulis, misalnya dalam bidang kepegawaian yang menggambarkan berbagai perbuatan yang boleh dilakukan dan tindakan yang akan dikenakan bila terjadi pelanggaran?
  • Apakah kebijaksanaan yang tepat tentang otoritas berbagai transaksi telah ditetapkan dan dilaksanakan?
  • Apakah kebijaksanaan, pelaksanaan, prosedur, laporan, dan berbagai mekanisme lainnya telah dikembangkan untuk memonitor berbagai kegiatan dan melindungi berbagai harta, khususnya di area yang memiliki risiko tinggi?
  • Apakah jalur-jalur komunikasi dapat menyediakan informasi yang cukup dan tepat kepada manajemen?
  • Apakah perlu dibuat berbagai rekomendasi untuk menegakkan dan meningkatkan pengendalian keefektivan biaya untuk mencegah terjadinya kecurangan?

B. Ketelitian yang selayaknya menghendaki suatu ketelitian yang kompeten bukanlah pelaksanaan yang harus sempurna, tanpa ada kesalahan, atau hasilnya luar biasa. Ketelitian yang selayaknya mewajibkan pemeriksa internal melakukan pengujian dan melakukan pemeriksaan secara mendetail atau terperinci terhadap seluruh transaksi. Karenanya, pemeriksa tidak dapat memberikan jaminan mutlak bahwa di dalam organisasi tidak terdapat suatu ketidaksesuaian atau ketidakberesan. Walau demikian, kemungkinan terjadinya ketidakberesan atau ketidaksesuaian secara material haruslah dipertimbangkan atau diperhatikan pada saat pemeriksa internal melaksanakan tugas pemeriksaan.

1. Pendeteksian kecurangan terdiri atas pengidentifikasian berbagai indikator kecurangan yang cukup untuk menjamin rekomendasi pelaksanaan suatu penyelidikan. Indikator-indikator ini mungkin ditemukan sebagai hasil dari berbagai pengendalian yang ditetapkan oleh manajemen, berbagai pengujian yang dilakukan oleh pemeriksa, dan berbagai sumber lain, baik di dalam maupun di luar organisasi.

2. Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, tanggungjawab pemeriksa internal dalam pendeteksian kecurangan adalah sebagai berikut:

  • Memiliki pengetahuan memadai tentang kecurangan sehingga dapat mengidentifikasi berbagai indikator kemungkinan terjadinya suatu kecurangan. Pengetahuan ini mencakup pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengetahui karakteristik kecurangan, teknik-teknik yang biasa digunakan dalam melakukan kecurangan, dan jenis-jenis kecurangan yang berkaitan dengan kegiatan yang sedang diperiksa.
  • Mewaspadai berbagai kesempatan, seperti kelemahan-kelemahan pengendalian yang memungkinkan dilakukannya kecurangan. Apabila kelemahan pengawasan yang penting telah dideteksi, pengujian tambahan yang dilakukan oleh pemerintah internal haruslah mencakup pengujian yang ditujukan terhadap indentifikasi berbagai indikator kecurangan. Beberapa contoh indikator adalah transaksi yang tidak disahkan, pengabaian pengawasan, pengurangan harga yang tidak dapat dijelaskan atau tidak berdasar, dan kerugian produk yang luar biasa besar. Pemeriksa internal haruslah menyadari bahwa semakin banyak indikator yang terdapat dalam suatu pemeriksaan, semakin besar pula kemungkinan telah dilakukannya kecurangan.
  • Mengevaluasi berbagai indikator yang menunjukkan kemungkinan telah terjadinya kecurangan dan menentukan apakah perlu dilakukan tindakan lebih lanjut atau apakah perlu untuk direkomendasikan untuk dilakukannya suatu penyelidikan.
  • Memberitahukan kepada pejabat dalam organisasi bahwa terdapat cukup indikator perbuatan kecurangan untuk merekomendasikan suatu penyelidikan.

3. Para pemeriksa internal tidak diharuskan memiliki pengetahuan yang setingkat dengan orang-orang yang memiliki tanggungjawab utama untuk mendeteksi dan menyelidiki kecurangan. Selain itu, berbagai prosedur pemeriksaan, bahkan bila dilakukan dengan ketelitian professional sekalipun, tidak menjamin akan terdeteksinya suatu kecurangan.

C. Apabila pemeriksa internal mencurigai atau menduga telah terjadi pelanggaran, pejabat yang berwenang di dalam organisasi/haruslah diberitahu. Pemeriksa dapat merekomendasikan apakah perlu melakukan penyelidikan atas keadaan tersebut. Kemudian, pemeriksa harus mereview atau meninjau untuk meyakinkan apakah tanggungjawab bagian audit internal telah dipenuhi.

1. Penyelidikan kecurangan terdiri dari berbagai prosedur dan perluasan pelaksanaan pemeriksaan yang diperlukan untuk menentukan apakah kecurangan, sebagaimana diduga, berdasarkan berbagai indikator telah dilakukan. Ini mencakup usaha untuk memperoleh berbagai informasi yang cukup tentang detail-detail atau spesifikasi kemungkinan terjadinya kecurangan yang ditemukan. Pemeriksa internal, ahli hukum, penyelidik, personel, keamanan dan berbagai ahli dari dalam maupun luar organisasi adalah pihak-pihak yang pada umumnya bertindak atau berpartisipasi dalam penyelidikan kecurangan.

2. Pada saat penyelidikan terhadap kecurangan, pemeriksa internal harus melakukan hal-hal berikut ini.

  • Memperkirakan tingkat kemungkinan dan keterlibatan kecurangan dalam organisasi. Ini akan sangat penting bagi pemeriksa untuk menghindari pemberian informasi kepada atau memperoleh informasi yang salah dari orang yang sesungguhnya terlibat dalam kecurangan.
  • Menentukan pengetahuan kecakapan dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk menjalankan penyelidikan secara efektif. Perkiraan tentang kualifikasi dan kecakapan pemeriksa internal dan berbagai ahli lainnya yang diperlukan dalam penyelidikan haruslah meyakinkan bahwa penyelidikan tersebut dilakukan oleh berbagai orang yang memiliki jenis dan tingkat pengalaman yang tepat. Hal tersebut harus meliputi jaminan dalam berbagai hal, seperti keterangan yang menyatakan tentang keahlian, syarat izin atau lisensi, reputasi, serta tidak memiliki hubungan keluarga dengan pihak yang akan diselidiki, dengan para pegawai atau manajemen organisasi.
  • Menentukan berbagai prosedur untuk mengidentifikasi pelaku kecurangan, lingkung kecurangan, teknik yang dipergunakan, dan sebab-sebab kecurangan.
  • Mengkoordinasi kegiatan dengan personel manajemen, penasihat hukum, dan berbagai ahli lainnya yang diperlukan selama pelaksanaan penyelidikan.
  • Menyadari hak-hak orang yang dinyatakan sebagai pelaku kecurangan dan para personel dalam lingkup pelaksanaan penyelidikan serta reputasi organisasi itu sendiri.

3. Setelah hasil penyelidikan kecurangan disimpulkan, pemeriksaan internal harus melakukan penilaian terhadap berbagai fakta yang diketahui dengan tujuan untuk:

  • Menentukan apakah pengendalian perlu dilaksanakan atau ditingkatkan untuk mengurangi berbagai kelemahan yang ada.
  • Menetapkan pengujian pemeriksaan atau audit tes untuk membantu pengungkapan keberadaan kecurangan yang sejenis pada waktu yang akan datang.
  • Membantu terpenuhinya tanggungjawab pemeriksa internal untuk mengembangkan pengetahuan yang memadai tentang kecurangan sehingga dapat mengidentifikasi berbagai indikator kecurangan pada waktu yang akan datang.

4. Pelaporan tentang kecurangan terdiri atas berbagai laporan lisan atau tertulis, pemberitahuan sementara atau final kepada manajemen sehubungan dengan situasi dan hasil penyelidikan kecurangan.

5. Suatu laporan terdahulu atau laporan final mungkin perlu dilakukan pada saat berakhirnya tetap penemuan. Laporan tersebut harus menyertakan kesimpulan pemeriksa tentang cukup atau tidaknya informasi yang ada bagi pelaksanaan penyelidikan berbagai temuan yang akan digunakan sebagai dasar bagi suatu keputusan.

6. Bagian 6.3 dari standar profesi memberikan berbagai interpretasi yang dapat diterapkan pada berbagai laporan pemeriksaan internal yang diterbitkan sebagai hasil penyelidikan tentang kecurangan.

Pedoman interpretasi tambahan yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Apabila luas pengaruh suatu kecurangan yang berarti telah ditetapkan secara cukup pasti, manajemen senior dan dewan direksi haruslah diberitahu.
  • Hasil penyelidikan terhadap kecurangan tersebut sebelumnya telah pula menimbulkan akibat merugikan yang berpengaruh terhadap posisi keuangan dan hasil operasional organisasi selama satu tahun atau lebih di mana pernyataan keuangan (financial statement) untuk tahun tersebut telah dikeluarkan. Pemeriksaan internal harus memberitahukan temuan ini pada manajemen senior dan dewan.
  • Pada saat berakhirnya tahap penyelidikan, haruslah dibuat suatu laporan tertulis. Isi laporan ini mencakup seluruh temuan, kesimpulan, rekomendasi, dan tindakan korektif yang perlu dilakukan.
  • Naskah laporan tentang kecurangan yang akan diajukan harus terlebih dahulu diserahkan pada bagian hukum untuk ditinjau atau direview. Dalam hal di mana pemeriksa ingin meminta berbagai pihak, seperti seorang klien, haruslah dibuat pertimbangan agar bagian hukum memusatkan perhatiannya pada laporan tersebut.

D. Melaksanakan ketelitian profesional yang selayaknya berarti menggunakan kecakapan dan penilaian pemeriksaan yang pantas pada saat melakukan pemeriksaan. Dalam hal ini pemeriksa internal harus mempertimbangkan:

  • Luas atau lingkup dari pekerjaan pemeriksaan yang diperlukan untuk mencapai berbagai tujuan pemeriksaan.
  • Materialitas dari persoalan, di mana prosedur-prosedur pemeriksaan diterapkan.
  • Kecukupan dan keefektivan pengendalian, dan
  • Biaya pemeriksaan sehubungan dengan keuntungan yang mungkin didapat dari pemeriksaan tersebut.

E. Ketelitian profesional yang selayaknya mencakup mengadakan evaluasi atas standar pekerjaan atau operasi yang telah ditetapkan dan menentukan apakah standar tersebut diterima dan dapat dipenuhi. Apabila suatu standar dianggap samar atau tidak jelas, harus segera dilakukan penafsiran oleh pihak yang berwenang. Apabila berwenang menafsirkan atau menentukan standar pekerjaan atau operasi, pemeriksa internal harus membuat kesepakatan dengan pihak yang diperiksa tentang standar yang akan dipergunakan untuk mengukur pelaksanaan operasi atau pekerjaan.

Disarikan dari buku: Standar Profesional Audit Internal (Pemeriksaan Internal harus Dilaksanakan secara Ahli dan dengan Ketelitian Profesional), Penulis: Hiro Tugiman, Hal: 27-40.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (3/4)

Selengkapnya →