Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Pemeriksaan Internal Harus Dilaksanakan Secara Ahli dan Teliti (3/5)

Oleh   /   Senin 1 Oktober 2018  /   Tidak ada komentar

Para pemeriksa haruslah memiliki kecakapan dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga mereka dapat secara jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal seperti tujuan pemeriksaan, evaluasi, kesimpulan, dan rekomendasi.

keuanganLSM

Pemeriksaan Internal Harus Dilaksanakan Secara Ahli dan Teliti (Bag 3/5)

Hubungan Antarmanusia dan Komunikasi

Para pemeriksa internal haruslah memiliki kemampuan untuk menghadapi orang lain dan berkomunikasi secara etektif.

  1. Para pemeriksa haruslah memahami hubungan antarmanusia dan mengembangkan hubungan baik dengan pihak yang diperiksa.
  2. Para pemeriksa haruslah memiliki kecakapan dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga mereka dapat secara jelas dan efektif menyampaikan berbagai hal seperti tujuan pemeriksaan, evaluasi, kesimpulan, dan rekomendasi.

Pendidikan Berkelanjutan

Para pemeriksa internal harus meningkatkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan yang berkelanjutan.

Para pemeriksa berkewajiban meneruskan pendidikannya dengan tujuan meningkatkan keahliannya. Mereka harus berusaha memperoleh informasi tentang kemajuan dan perkembangan baru dalam standar, prosedur, dan teknik-teknik audit. Pendidikan lebih lanjut dapat diperoleh melalui keanggotaan dan partisipasi dalam perkumpulan profesi, kehadiran dalam berbagai konferensi, seminar, kursus yang diadakan oleh suatu universitas, program pelatihan yang dilaksanakan oleh organisasi (in-house training programs) dan partisipasi dalam proyek penelitian.

Ketelitian Profesional

Para pemeriksa internal harus melaksanakan ketelitian professional yang sepantasnya dalam melaksanakan pemeriksaan.

Ketelitian profesional sepantasnya menghendaki penerapan ketelitian dan kecakapan yang secara patut diduga akan dilakukan oleh seorang pemeriksa yang bijaksana dan berkompeten, dalam keadaan yang sama atau mirip. Karenanya, ketelitian profesional haruslah sesuai dengan tingkat kesulitan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan. Dalam menerapkan ketelitian profesional yang sepantasnya, pemeriksa internal harus mewaspadai berbagai kemungkinan terjadinya pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja, kesalahan atau error, kelalaian, ketidakefektivan, pemborosan, ketidakefisienan, dan konflik kepentingan. Mereka harus mengindentifikasi pengendalian yang lemah dan merekomendasikan perbaikan untuk menciptakan kesesuaian dengan berbagai prosedur dan praktek yang sehat.

1) Kecurangan atau fraud meliputi suatu susunan ketidakberesan dan perbuatan ilegal yang merupakan suatu muslihat yang dilakukan untuk keuntungan atau kerugian organisasi, yang dilakukan oleh orang di luar dan atau di dalam organisasi.

2) Kecurangan yang bertujuan menghasilkan keuntungan bagi organisasi pada umumnya menghasilkan suatu keuntungan secara tidak jujur atau tidak wajar yang mungkin dapat pula menimbulkan kerugian bagi pihak lain di luar organisasi. Pelaku jenis kecurangan ini memperoleh keuntungan secara tidak langsung, karena pada umumnya keuntungan pribadi akan bertambah bila organisasi mendapatkan bantuan atau keuntungan.

Beberapa contoh adalah sebagai berikut:

  • Penjualan atau penyerahan harta fiktif atau yang digambarkan secara keliru.
  • Pembayaran-pembayaran yang sepantasnya tidak dilakukan, seperti kontribusi politik yang ilegal, penyuapan, pembayaran-pembayaran komisi gelap (kick backs),dan pembayaran upeti (pay off) kepada pejabat pemerintah, pelanggan atau rekanan.
  • Penyajian atau penilaian terhadap transaksi, harta, kewajiban atau pendapatan yang dilakukan dengan sengaja dilakukan secara tidak benar.
  • Penetapan harga pengalihan yang dengan sengaja dilakukan dengan tidak benar, misalnya penilaian terhadap barang-barang yang diberikan di antara organisasi-organisasi yang saling berkaitan. Ini dilakukan dengan menggunakan teknik penyusunan harga secara tidak tepat sehingga manajemen dapat meningkatkan hasil operasional organisasi yang terlibat dalam transaksi dan menimbulkan kerugian bagi organisasi lainnya, yang dengan sengaja dilakukan.
  • Transaksi antara pihak yang saling berkaitan yang dengan sengaja dilakukan secara tidak benar sehingga salah satu pihak mendapatkan keuntungan yang tidak dapat diperoleh dalam suatu transaksi antara para pihak yang tidak memiliki keterkaitan (arm’s-length transaction).
  • Kesengajaan untuk mengubah catatan-catatan atau dokumen atau memberikan suatu informasi penting yang tidak benar untuk meningkatkan gambaran keuangan organisasi kepada pihak di luar organisasi.
  • Kegiatan yang terlarang seperti kegiatan yang bertentangan dengan undang-undang, hukum, peraturan atau kontrak.
  • Kecurangan pajak.

3) Kecurangan yang menimbulkan suatu kerugian bagi organisasi pada umumnya dilakukan untuk keuntungan secara langsung dan atau tidak langsung bagi pegawai, individu di luar organisasi atau organisasi lain.

Sebagai contoh adalah sebagai berikut:

  • Penerimaan suap atau komisi gelap.
  • Pengambilan suatu transaksi yang potensial menghasilkan keuntungan, yang pada umumnya memberikan keuntungan bagi perusahaan oleh pegawai atau pihak di luar organisasi.
  • Penggelapan yang merupakan penyalahgunaan uang atau barang milik organisasi dan melakukan pemalsuan catatan untuk menutupi perbuatan dan mempersulit dideteksi.
  • Kesengajaan menyembunyikan atau menyajikan data atau keadaan secara tidak benar.
  • Mengajukan tuntutan pembayaran atas berbagai barang atau jasa yang sesungguhnya tidak diberikan kepada organisasi.

Disarikan dari buku: Standar Profesional Audit Internal, Penulis: Hiro Tugiman, Hal: 31-34.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (2/4)

Selengkapnya →