Memuat...
Anda di sini:  Beranda  >  Tanya Jawab  >  Artikel (di bawah) ini

Tentang Pelaporan dalam Mata Uang Asing

Oleh   /   Rabu 29 Desember 2010  /   1 Tanggapan

keuangan LSM

Secara umum laporan keuangan donor tidak disajikan dengan keterangan laba (rugi) selisih kurs, kecuali donor meminta syarat khusus.

(Tanya jawab ini disarikan dari diskusi komunitas di mailing list keuanganLSM)
Gabung Milis KeuanganLSM.

Q:

Kami harus melaporkan keuangan dalam USD setiap bulan, dan memiliki bank account USD).

  1. Bagaimana cara menghitung saldo akhir setiap bulan? Apabila dalam satu bulan ada beberapa kali kiriman dana dalam USD dan diterima dalam IDR. Karena umumnya saldo akhir bulan dihitung dari kurs tengah, kalau ada 3 kali kiriman, apakah berarti harus 3 rate tersebut kemudian dibagi 3 untuk mencari kurs tengah atau ada formula yang lain?
  2. Untuk setiap transaksi dalam sebulan sebaiknya memakai currency rate yang mana? Apakah sesuai dengan datangnya dana pada tanggal tersebut atau menggunakan currency rate pada akhir bulan (kurs tengah)?

A:

Sebelum diskusi tentang topik ini lebih lanjut, berarti selain account USD, organisasi tersebut juga memiliki account IDR kah ? Dan bahkan beberapa penerimaan yg berasal dari kurs USD diterimanya malah pada akun IDR tersebut. Benarkah begitu ?

Kemudian, tampaknya sebagian besar transaksi pengeluaran biaya juga terjadi/dilakukan dalam mata uang IDR. Begitukah ?

Terakhir, pelaporan dalam ekuivalen USD, untuk keperluan siapa ? Donor pemberi dana dalam USD tadi, atau sebagai basis pelaporan keuangan/akuntansi general ? Karena jika untuk general financial report, yang harus diacu mungkin adalah PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing.

Q:

Iya, organisasi ini memiliki account bank dalam USD maupun IDR, dan kadang-kadang menerima transfer di rekening USD organisasi juga.

Laporan ini digunakan selain ke donor, juga dipakai untuk laporan ke kantor pusat, dan juga laporan untuk diaudit. Harus mengacu dimana sebaiknya?

Kalau PSAK 10 mengenai transaksi dalam mata uang asing, apakah bisa diterapkan untuk yayasan juga? Kebetulan organisasi ini bernaung di bawah yayasan.

A:

Untuk PSAK 10 Transaksi dalam Mata Uang Asing atau SFAS 10 Transactions in Foreign Currencies, bisa di download di web Keuangan LSM halaman unduh ini.

Mengenai apakah Yayasan bisa mengacu PSAK 10, lepas dari perubahan akibat konvergensi yg sedang dilakukan atas PSAK menyesuaikan dengan IFRS (standar internasional), maka selama ini memang untuk pelaporan keuangan organisasi nirlaba disyaratkan untuk mengacu pada PSAK 45. Tetapi PSAK 45 ini hanya mengatur format pelaporan keuangan organisasi nirlaba saja.

Sedangkan mengenai aspek perlakuan akuntansi organisasi nirlaba, tetap harus mengacu pada PSAK nomor-nomor yang lain yang relevan. Misalnya untuk Aktiva Tetap, maka yang harus diacu adalah PSAK 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain. Atau kalau mau, kini bisa juga organisasi nirlaba mengacu ke SAK ETAP yang berlaku mulai 1 Januari 2011 dan merangkum semua perlakuan akuntansi di dalam satu buku khusus bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Dokumennya juga ada di web Keuangan LSM.

A:

Mengenai pertanyaan, tentang bagaimana menetapkan rate rata2 (kurs tengah) dan rate mana yang akan digunakan bagi pembukuan transaksi:

Untuk laporan keuangan akuntansi lembaga (general purposes financial report):

Bisa mengacu pada PSAK45 dan perlakuan akuntansinya bisa mengacu pada PSAK lain yg relevan, atau sepenuhnya mengacu pada SAK ETAP. Untuk laporan ini organisasi biasanya akan menyajikan laporan keuangan dalam IDR, sehingga kemungkinan besar akan muncul akun Laba (Rugi) selisih kurs atau Gain (Loss) on foreign currency exchange.

Nah yang perlu diingat disini, laba atau rugi ini dihitung bukan berdasarkan berapa selisih riil penerimaan yang kita peroleh dibandingkan dengan anggaran donor di agreement. Ini yang sering terjadi, misalnya kita punya agreement dengan donor senilai 1,000 USD, namun di bank kita masuknya dana hanya sebesar 999 USD, ini bukan kerugian selisih kurs, namun harus dibukukan sebagai bank administration charge/cost.

Atau misalnya anggaran kita yang disepakati dengan donor sebesar 1,000 USD atau ekuivalen Rp 9.500.000, dengan kurs di proposal kita 1 USD = Rp 9.500; sedangkan penerimaan riil di bank IDR kita senilai Rp 9.300.000, maka selisihnya juga tidak boleh dibukukan sebagai kerugian selisih kurs. Kita harus membukukan penerimaan dari donor A tadi sebesar penerimaan aktualnya yaitu Rp 9.300.000.

Lantas kapan laba (rugi) selisih kurs terjadi ? Yang perlu diingat, penilaian atas laba atau rugi selisih kurs tsb harus diperhitungkan pada wilayah entitas organisasi kita, bukan pada transaksi dengan donor. Misalnya gini. Kita menerima dana dari donor 1,000 USD pada tanggal 1 Jan 2010, kurs transaksi pada saat itu adalah 1 USD = Rp 9.300, sehingga kita bukukan jurnal Bank USD lawan Penerimaan Donor A sebesar Rp 9.300.000.

Jurnal :

Bank USD 9.300.000
Penerimaan Donor A 9.300.000

Nah, sepuluh hari kemudian, kita cairkan sebagian dana sebesar 500 USD, dari rekening USD tersebut ke rekening IDR atau langsung dalam bentuk kas. Kurs transaksi pada tgl 10 Jan 2010 adalah 1 USD = Rp 9.100. Maka disinilah terjadi pengakuan kerugian selisih kurs sebesar (9.300 – 9.100) X 500 USD

Jurnal :

Bank IDR/Kas 4.550.000 (500 USD X Rp 9.100)
Kerugian Selisih Kurs 100.000 (500 USD X (Rp 9.300 – Rp 9.100)
Bank USD 4.650.000 (500 USD X Rp 9.300)

Jadi yang dapat diperhitungkan menjadi laba atau rugi selisih kurs itu, sekali lagi, adalah transaksi yang terjadi pada wilayah pengelolaan organisasi.

Maka beberapa donor yang tidak mau terjadi adanya selisih kurs ini, akan meminta kita untuk langsung memberikan rekening dalam IDR. Dan memang sebaiknya itu yang kita lakukan, dengan langsung menerima donasi dari donor dalam rekening IDR, atau paling tidak memindahkan sesegera mungkin penerimaan dalam mata uang asing tersebut, sepenuhnya di transfer ke rekening IDR.

Kecuali memang ada pengeluaran-pengeluaran yang direncanakan akan dilakukan dalam mata uang asing tertentu, maka sebaiknya kita memelihara saldo tersebut dalam rekening mata uang asing terkait (misalnya : pembayaran tiket international route, dll).

Bagaimana untuk laporan keuangan donor ?

Secara umum laporan keuangan donor tidak disajikan dengan keterangan laba (rugi) selisih kurs, kecuali donor meminta syarat khusus. Artinya donor tidak mengakui selisih kurs yang terjadi.

Laporan donor tetap harus disusun dalam basis mata uang IDR. Hanya saja biasanya dalam kolom sebelah kanannya, kita akan tampilkan keterangan Ekuivalen USD (atau mata uang asing lainnya).

Ekuivalen tidak berarti ‘sama dengan (absolut)’. Sehingga biasanya kita punya ruang untuk membangun formula ekuivalensi tersebut sesuai kebijakan organisasi atau juga sesuai dengan syarat yang diminta secara khusus oleh donor. Masing-masing donor bisa saja berbeda tata cara / formula ekuivalensi-nya.

Bagaimana rumus umum menetapkan kurs/rate ekuivalen tersebut ? Dengan mengambil rata2 dalam periode pelaporan tertentu. Jika pelaporan kita mulai dari 1 Jan 2010 – 31 Dec 2010, misalnya, maka total penerimaan kita dalam IDR akan dibagi total penerimaan dalam USD, maka ketemu kurs / rate rata2 sebagai basis penyandingan kolom ekuivalen-nya. Jadi komponen biaya dalam IDR nya juga bisa di bawa ke ekuivalen USD dengan kurs ini. Pointnya adalah mendefinisikan periode pelaporan, jika tiga bulan ya kita akan hitung transaksi penerimaan dalam 3 bulan tersebut.

Saldo akhir dana akan menjadi saldo awal periode berikutnya dengan kurs yang sudah di rata2 tadi. Jadi untuk periode 1 Jan 2011 hingga 31 Dec 2011, misalnya; saldo akhir 2010 akan dibawa dalam perhitungan total penerimaan IDR 2011 dibagi dengan total penerimaan USD 2011.

Beberapa donor punya cara perhitungan ekuivalensi khusus. Beberapa donor meminta kita melaporkan dalam lapisan-lapiran (layers) sesuai tahap penerimaan dana yg kita terima.

Terakhir, membukukan transaksi pengeluaran hariannya, kita bisa membukukan dengan nilai transaksi IDR nya, dan nilai ekuivalennya menggunakan kurs yang ditetapkan sementara dulu. Nanti di ujung periode pelaporan, kita harus menghitung kurs rata-rata dengan cara di atas, dan baru nilai ekuivalen per masing-masing transaksi / per komponen biaya akan dapat disesuaikan ekuivalensinya dengan menggunakan basis kurs rata-rata tersebut.

    Cetak       Email

1 Tanggapan

  1. Dinna mengatakan:

    Saya agak rancu dengan penggunaan kurs untuk penerimaan dan pengeluaran dalam bentuk mata uang asing. Berdasrkan apa yang sya baca dlam artikel ini, berarti kita menggunakan rate rata2x bukan mid rate BI sedangkan auditor kami menghendaki kami supaya menggunakan kurs yang punya nilai jual dan nilai beli, sperti mid rate BI. dan itu harus konsisten.

    Mohon pencerahannya moderator. Karena saya memeiliki 2 mata uang untuk operasional (AUD dan IDR) serta 3 mata uang untuk 3 rekening koran (AUD, USD dan EUR)

    Terima Kasih.
    Dinna

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anda Mau Membaca Ini, Mungkin?

keuanganLSM

Teknik Pencatatan Debet-Kredit

Lanjutkan membaca →