Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Penyiapan Transaksi: Pengidentifikasian

Oleh   /   Jumat 3 Oktober 2014  /   Tidak ada komentar

Pada prinsipnya bukti transaksi harus dirancang dengan baik agar perekaman transaksi dapat berjalan dengan cepat, ringkas, terhindar dari kesalahan, dan bermanfaat untuk pengendalian. Ketidak-cermatan dalam perancangan bukti transaksi dapat berakibat ketidak-akuratan data yang akan diolah akutansi.

keuanganLSM

Identification

Peristiwa bisnis dibagi menjadi 2 (dua), yaitu peristiwa ekonomi (transaksi) dan peristiwa non-ekonomi (non-transaksi). Peristiwa bisnis disebut transaksi jika memenuhi 2 (dua) kriteria sebagai berikut:

  1. Bersifat keuangan, dan
  2. Menyebabkan perubahan di elemen-elemen laporan keuangan

Akuntansi hanya memproses transaksi. Oleh karena itu, perusahaan harus mengidentifikasi peristiwa bisnis yang terjadi, apakah memenuhi kriteria sebagai transaksi atau non-transaksi.

Peraga Jenis Transaksi

Peraga Jenis Transaksi

Agar akuntansi berjalan lancar, perusahaan lazimnya merekam peristiwa bisnis yang merupakan transaksi ke dokumen yang disebut bukti transaksi. Bukti transaksi berfungsi untuk:

  1. Merekam transaksi
  2. Mengurangi kemungkinan kesalahan
  3. Menetapkan tanggung jawab atas timbulnya transaksi
  4. Menyampaikan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan

Bukti transaksi digunakan sebagia dasar untuk proses akuntansi selanjutnya. Sebagai contoh, bukti transaksi digunakan sebagai dasar untuk penjurnalan. Bukti transaksi dapat berupa kertas maupun elektronik. Pada prinsipnya bukti transaksi harus dirancang dengan baik agar perekaman transaksi dapat berjalan dengan cepat, ringkas, terhindar dari kesalahan, dan bermanfaat untuk pengendalian. Ketidak-cermatan dalam perancangan bukti transaksi dapat berakibat ketidak-akuratan data yang akan diolah akutansi. Konsekuensinya, informasi keuangan menjadi tidak berkualitas bagi pengguna akuntansi.

Dilihat dari asal pembuatannya, bukti transaksi dapat berasal dari:

  1. Internal; bukti yang dibuat oleh perusahaan sendiri. Contohnya bukti pembayaran honorarium, dan surat tagihan ke pelanggan (disebut faktur penjualan).
  2. Eksternal; bukti yang dibuat oleh pihak eksternal dan diterima oleh perusahaan. Contohnya surat tagihan dari rekanan (disebut faktur pembelian) dan bukti pelunasan utang dari pelanggan.

Dilihat dari peranannya untuk pencatatan akuntansi, bukti transaksi diklarifikasi menjadi 2 (dua), yaitu:

  1. Dokumen sumber (source document); bukti transaksi yang digunakan sebagai dasar untuk pencatatan. Contohnya adalah faktur pembelian dan faktur penjualan yang digunakan sebagai dokumen utama untuk pencatatan transaksi pembelian dan penjualan.
  2. Dokumen pendukung (supporting document); bukti transaksi yang digunakan untuk mendukung keberadaan dokumen sumber. Contohnya, surat pesana dari pelanggan digunakan untuk mendukung faktur penjualan, dan surat permintaan barang dari departemen yang membutuhkan barang yang digunakan untuk mendukung faktur pembelian.

Disarikan dari buku: Akuntansi itu Ternyata Logis dan Mudah, Penulis: Dr. Sony Warsosno, MAFIS, Akuntan, Arif Darmawan, SE, M. Arsyadi Ridha, SE, Hal: 73-75.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Karakteristik LSM

Selengkapnya →