Memuat...
Anda di sini:  Beranda  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel (di bawah) ini

Metode Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

Oleh   /   Senin 21 Januari 2013  /   45 Tanggapan

Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.

keuangan LSM

Salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap

Penyusutan (depresiasi) merupakan salah satu konsekwensi atas penggunaan aktiva tetap, dimana aktiva tetap akan mengalami ke-aus-an atau penurunan fungsi.

Apa Itu Penyusutan (depresiasi) aktiva tetap?

Logika umum: Penyusutan merupakan cadangan yang nantinya digunakan untuk membeli aktiva baru untuk menggantikan aktiva lama yang sudah tidak produktif lagi.

Bandingkan dengan yang dibawah ini:

Logika Akuntansi : Penyusutan (Depreciation) adalah Harga Perolehan Aktiva Tetap yang di alokasikan ke dalam Harga Pokok Produksi atau Biaya Operasional akibat penggunaan aktiva tetap tersebut, atau; Cost/Exepenses yang diperhitungkan (dibebankan) dalam Harga Pokok produksi atau biaya operasional akibat pengunaan aktiva di dalam proses produksi dan operasional perusahaan secara umum.

Pencatatan (Jurnal) Atas Penyusutan:

Bentuk Jurnalnya:
[-Debit-]. Depreciation = xxxx
[-Credit-]. Accumulated Depreciation = xxxx

Saat pencatatan:
Biasanya dicatat (dibukukan) pada saat penutupan buku (entah: akhir bulan, akhir kwartal, akhir tahun buku).

Besar-nya:
Dicatat sebesar nilai penyusutannya, tergantung berbagai faktor (lebih rincinya, lanjutkan ke sub pokok bahasan berikut ini…).
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Biaya Penyusutan

  1. Harga Perolehan (Acquisition Cost)
    Harga Perolehan adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap biaya penyusutan. Mengenai “Harga Perolehan” telah kita bahas secara rinci pada artikel sebelumnya, yang belum membaca, silahkan [-baca-]
  2. Nilai Residu (Salvage Value)
    Merupakan taksiran nilai atau potensi arus kas masuk apabila aktiva tersebut dijual pada saat penarikan/penghentian (retirement) aktiva. Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.
  3. Umur Ekonomis Aktiva (Economical Life Time)
    Sebagian besar, aktiva tetap memiliki 2 jenis umur, yaitu:
    - Umur fisik: Umur yang dikaitkan dengan kondisi fisik suatu aktiva. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fisik apabila secara fisik aktiva tersebut masih dalam kondisi baik (walaupun mungkin sudah menurun fungsinya).
    - Umur Fungsional: Umur yang dikaitkan dengan kontribusi aktiva tersebut dalam penggunaanya. Suatu aktiva dikatakan masih memiliki umur fungsional apabila aktiva tersebut masih memberikan kontribusi bagi perusahaan. Walaupun secara fisik suatu aktiva masih dalam kondisi sangat baik, akan tetapi belum tentu masih memiliki umur fungsional. Bisa saja aktiva tersebut tidak difungsikan lagi akibat perubahan model atas produk yang dihasilkan, kondisi ini biasanya terjadi pada aktiva mesin atau peralatan yang dipergunakan untuk membuat suatu produk. Atau aktiva tersebut sudah tidak sesuai dengan jaman (not fashionable), kondisi ini biasanya terjadi pada jenis aktiva yang bersifat dekoratif (misalnya: furniture/mebeler, hiasan dinding, dsb). Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.
  4. Pola Penggunaan Aktiva
    Pola penggunaan aktiva berpengaruh terhadap tingkat ke-aus-an aktiva, yang mana untuk mengakomodasi situasi ini biasanya dipergunakan metode penyusutan yang paling sesuai.

Nilai residu tidak selalu ada, ada kalanya suatu aktiva tidak memiliki nilai residu karena aktiva tersebut tidak dijual pada masa penarikannya alias di jadikan besi tua, hingga habis terkorosi. Tentu saja ini tidak dianjurkan, alangkah bagusnya jika di daur ulang.

Metode-metode Penyusutan (Depreciation Method)

Ada berbagai metode penyusutan, hanya beberapa metode saja yang biasa dipergunakan.

Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling banyak dipergunakan, karena paling mudah dan paling relevan dengan perlakuan akuntansi.

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Konsep dasarnya:

Metode ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunaannya, sehingga aktiva tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode hingga aktiva diarik dari penggunaannya.

Metode ini termasuk yang paling luas dipakai. Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode garis lurus dipergunakan untuk menyusutkan aktiva-aktiva yang fungsionalnya tidak terpengaruh oleh besar kecilnya volume produk/jasa yang dihasilkan. Misalnya: bangunan, peralatan kantor.

Formula:

image001.jpg

Atau dengan menggunakan rate prosentase, dengan formula:

image002.jpg

Contoh Kasus:

Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 1 Januari 2007 dengan harga Rp 8,000,000 ditaksir memiliki umur ekonomis 8 tahun, dan apabila nanti ditarik diperkirakan besi tuanya dapat dijual seharga Rp 150,000. Tambahan informasi: Perusahaan menggunakan metode garis lurus.

Beban penyusutan untuk tahun 2007, dihitungan dengan cara:

Depreciation Cost = 12/12 x [(Rp 8,000,000-150,000) : 8] = Rp 981,250,-

Jika aktiva tetap tersebut diperoleh pada tanggal 05 Pebruari 2007, maka dihitung dengan cara = 11/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) : 8]

Jika diperoleh pada tanggal 20 Pebruari 2007, maka dihitung 10/12 x [(Rp 8,000,000 - 150,000) : 8]

…….dan seterusnya

Jika tanpa nilai residu, maka variable nilai residu tidak diperhitungkan (lihat formula di atas).

Atas pembebanan penyusutan ini dicatat sebagai berikut:

[-Debit-]. Depreciation = Rp 981,250,-
[-Credit-]. Accumulated Depreciation = Rp 981,250,-

Jika aktiva tersebut diperoleh di awal tahun (01~14 Januari), maka tabel “Jadwal Penyusutan Aktiva ” selama umur ekonomisnya, akan menjadi sebagai berikut:

image003.jpg

Bandingkan kedua tabel di atas : Bagian mana yang berbeda?

Pada tabel pertama (dengan memperkirakan adanya salvage value), di akhir tahun ke-8, terlihat masih ada NILAI BUKU (Book Value) aktiva sebesar Rp 150,000, INILAH YANG DISEBUT NILAI RESIDU (Salvage Value) dimana jika aktiva tersebut dijual pada akhir penggunaannya nanti diperkirakan akan laku seharga Rp 150,000,-. Di sisi lainnya, biaya penyusutan yang dibebankan tidak sepenuhnya Rp 1,000,000 per tahunnya.

Pada tabel kedua (dengan tidak memperkirakan adanya salvage value), pada akhir tahun ke-8, NILAI BUKU (Book Value) benar-benar Nihil (nol), artinya : perusahaan memperkirakan aktiva tersebut tidak akan menghasilkan arus kas (tidak bisa dijual) pada akhir masa penggunaannya nanti. Di sisi lain, penyusutan dibebankan sepenuhnya Rp 1,000,000 setiap tahunnya.

2. Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

Konsep Dasarnya:

Aktiva tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesar pada periode diawal-awal masa penggunaanya, dan akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang semakin besar di periode berikutnya seiring dengan semakin berkurangnya umur ekonomis atas aktiva tersebut.

Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aktiva tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aktiva mesin produksi.

Formula:

image004.jpg

Contoh Kasus:

Mempergunakan contoh kasus sebelumnya…..

Cari “rate penyusutan (d%)” terlebih dahulu, perhatikan perhitungan dibawah:

image005.jpg

Dengan menggunakan rate di atas, yaitu sebesar 39%, “Jadwal Penyusutan” menggunakan Declining Balance Method dapat dibuat, seperti dibawah:

image006.jpg

Memperhatikan table di atas, dapat dilihat bahwa dengan menggunakan Metode Saldo menurun (Declining Balance Method), salvage value di akhir tahun ke delapanpun hasilnya kurang lebih sama dengan jika menggunakan Metode Garis Lurus (Straight Line Method) yaitu Rp 150,000. Hanya saja, jika kita perhatikan pada kolom “Depreciation (penyusutan) nampak bahwa dengan menggunakan metode Saldo Menurun, harga perolehan yang dialokasikan ke dalam penyusutan (dibebankan pada Harga Pokok Penjualan) dialokasikan sebagian besar pada awal-awal penggunaan aktiva tersebut. Hal ini didasari oleh konsep yang dianut oleh metode ini, dimana suatu aktiva (khusunya mesin produksi) dianggap memberikan best performance diawal-awal penggunaannya.

Jurnal pembebanan penyusutan pada methode ini sama saja dengan metode garis lurus.

Catatan Penting:

Dimungkinkan untuk menggunakan metode yang manapun untuk jenis aktiva yang manapun, yang terpenting:

(-). Metode apapun yang dipergunakan, hendaknya diterapkan secara konsisten.

(-). Jika perusahaan mengganggap perlu melakukan perubahan atas metode penyusutan yang diterapkan, hendaknya dicantumkan dalam penjelasan atas sistem akuntansi yang dipergunakan pada laporan keuangan, disertai dengan alasannya.

    Cetak       Email

45 Tanggapan

  1. estina mengatakan:

    bedanya penyusutan dan beban penyusutan itu apa ya?

  2. Sara mengatakan:

    gmn cara penerapan metode2 tsb ke MS Exel?

  3. Naila mengatakan:

    @ Estina: mungkin maksud kamu, bedanya akumulasi penyusutan dan beban/biaya penyusutan ya ? Keduanya adalah saudara kembar, kalo kita menjurnal beban penyusutan, lawannya selalu akumulasi penyusutan. Beban akan masuk ke perhitungan laba rugi kita, sedangkan akumulasi penyusutan akan menjadi nilai pengurang dari harga perolehan aktiva tetap. Akumulasi penyusutan akan ditempatkan di neraca.

  4. Lya Ez mengatakan:

    Tau standard umur ekonomis aktiva tetap ga…

  5. riana mengatakan:

    gmn cra’y bkin lap0rn l/r pd aktiva ttp???

  6. angga mengatakan:

    butuh bantuan nih…….. apa ada bedanya depresiasi dengan penyusutan….. karena saya menemui kasus ada biaya penyusutan dan ada biaya depresiasi tolong bagi yang paham soal penyusutan email ke alamat email ku ya…….. anggaraisanda@yahoo.com

  7. ardian mengatakan:

    mhon pencerahan.. sy jd bendhara dan kebingungan nich..
    beban penyusutan tiap tahun mengurangi Laba karena masuk lap. L/R, sedangkan creditnya masuk akumulasi… sedangkan uang yang sy terima dri bendahara hanya bentuk Kas saja.. apakah memang akumulasi ini cadangan untuk suatu saat aktiva tetap dijual/diganti??? akumulasi ini ada bentuk fisiknya (uang) tidak..mhon penjelasan n trimakasih..

  8. Eko Kurniawan Komara mengatakan:

    Mas Ardian, perlakuan depresiasi ini memang bukan cash transaction. Jadi memang tidak ada aliran kas masuk keluarnya. Di dalam akuntansi, dia masuk kategori jurnal umum (bukan jurnal bank/kas). Dalam bahasa sederhana, transaksi penyusutan ini hanya ‘dibukukan’ saja, tidak ada lalu lintas pembayarannya.

    Filosofi dasarnya adalah bahwa semua pembelian aktiva tetap itu dianggap beban/biaya mas. Karena dalam jangka panjang, tidak ada nilai aktiva tetap yg bisa tetap stabil, mesin misalnya selalu akan mengalami pengurangan kapasitasnya. Yang agak beda hanya tanah mas. Tanah nilainya tidak didepresiasi.

    Jadi pembelian aktiva tetap dianggap sebagai biaya. Tapi biaya yg memiliki masa/umur manfaat. Jadi tidak kita biayakan sekaligus pada saat belinya. Maka ditempatkanlah jumlah pembelian itu pada aset. Kemudian secara berkala, nilai aset tersebut dibebankan/dibiayakan/dikurangi menggunakan metode penyusutan tertentu.

    Pengurang nilai aset akan tampak pada biaya depresiasi, sedangkan lawan jurnalnya yaitu akumulasi penyusutan akan ditempatkan di bagian aset pada neraca, di bawah nilai beli aktiva, sebagai pengurang. Sehingga nilai beli – akumulasi penyusutan = nilai buku aktiva tetap ybs pada tanggal pelaporan neraca.

    Demikian mas, semoga bisa sedikit membantu. Salam.

  9. yulizar arby mengatakan:

    bahan bacaan yang menarik, merefres kembali ingatan kita soal penyusutan. izin share,..

  10. ella kreeuw mengatakan:

    aQ Btuh Bantu4n Nich,, apa yEa bEdanyA pEnyUsut4n AktiVa TeTap DenGan pEnyUsUtan ITu apA yEa………..?????

  11. liana mengatakan:

    bisa kah kita menghitung penyusutan aktiva tetap jika tidak diketahui tahun perolehannya ??

  12. Eko Kurniawan Komara mengatakan:

    Liana, jawaban sederhananya adalah ‘tidak’. Kenapa ? Karena aktiva tetap harus dicatat sesuai dengan nilai perolehan-nya pada ‘tanggal perolehan’. Kemudian untuk menghitung tarif penyusutannya per tahun, dibutuhkan penetapan umum manfaat aktiva tetap tsb terlebih dahulu, yg lagi2 dihitung mulai dari ‘tanggal perolehan’nya.

    Namun ada kalanya sebuah organisasi tidak menatabukukan dengan baik transaksi organisasi sampai dengan kurun waktu tertentu. Dan kemudian suatu ketika, organisasi berniat memperbaiki tatabukunya tapi gak bisa dari nol atau gak bisa dari awal saat organisasi didirikan.

    Misalnya gini, organisasi/perusahaan A didirikan thn 2009. Lantas pembukuan yang serius baru mulai akan dilakukan di tahun 2011.
    Terus bagaimana dengan aktiva tetap yang dibeli diantara tahun 2009 – 2011 yang bukti2 nya sudah gak lengkap, sehingga kita gak tahu kapan persisnya aktiva tsb di beli ?

    Nah, dalam kasus semacam itu, yang dibutuhkan adalah penyusunan dan penyajian neraca awal tahun 2011. Neraca ini disusun dengan cara analitis. Menghitung aset (kas, bank, piutang, aktiva tetap dll) dan juga menghitung kewajiban yang ada pada tanggal 1 Jan 2011. Selisihnya bisa kita masukkan ke laba di tahan atau net asset. Pada saat penyusunan neraca awal inilah, aktiva tetap yg tidak kita ketahui kapan dibelinya bisa dicatat ulang dengan kebijakan pencatatan tanggal perolehannya adalah 1 Jan 2011, menetapkan taksiran harga sesuai kondisi saat itu dan kemudian dihitung (sisa) umur manfaat aktiva tetap tsb. Kebijakan pencatatan tsb, penetapan harga perolehan dan sisa umur manfaatnya sebaiknya didokumentasikan dalam sebuah nota/berita acara organisasi.

    Demikian Liana. Salam.

  13. Asnawi A Rahman mengatakan:

    Sebuah perusahaan baru2 ini menjual asset berupa 1 unit mobil truck thn 1995 dengan harga Rp. 260.000.000,-. Dalam catatan aktiva tetap harga perolehan mobil tsb Rp. 225.000.000,- dan akumuluasi penyusutan Rp. 199.946.429,-. Bgaimana menjurnalkannya sehingga dalam laporan aktiva tetap mobil tsb menjadi 0. Tkasih atas bantuannya… Salam… Asnawi

  14. Naila mengatakan:

    Bang Asnawi, saya coba bantu ya, menurut perhitungan saya, penjualan truk itu untungnya besar sekali, he..he..he.
    Jurnalnya.
    Sisi DEBET Bank/Kas sebesar Rp260.000.000.
    Sisi DEBET Akumulasi Penyusutan Truk (menutup perkiraan akumulasi penyusutan truk) sebesar Rp199.946.429.
    Sisi KREDIT Truk (menghapus nilai Truk) sebesar Rp225.000.000.
    Sisi KREDIT Keuntungan penjualan (ini nanti bisa dikategorisasikan keuntungan lain-lain atau keuntungan luar biasa) Rp234.946.429.
    Jadi sisi DEBET dan KREDIT akan seimbang bang. Salam.

  15. gemma mengatakan:

    bagaimana jika masa proyek adalah 10 tahun, tetapi bangunan mengalami depresiasi dengan nilai sisa di tahun ke5 adalah 0.
    bagaimana proyek bisa terus berlanjut sampai tahun ke10, bila bangunan sudah tidak memiliki nilai di tahun ke5?
    apa harus mengeluarkan biaya investasi baru di tahun ke5 ato bagaimana?
    mohon pencerahannya..
    trims.

  16. Naila mengatakan:

    Mungkin yang jadi dasar masalah adalah perkiraan masa manfaat bangunan itu sendiri ya. Bangunan biaasanya memiliki masa manfaat 10 – 20 tahun, Bisa dilihat di artikel ini nih: http://www.keuanganlsm.com/2011/02/04/penyusutan-depresiasi-menurut-perpajakan/

    Jadi langkahnya mungkin sebaiknya adalah melakukan koreksi atas masa manfaat bangunan tsb.

  17. renita tok mengatakan:

    mohon bantuannya,,,
    ada standar ato patokan ato aturan buat menentukan umur ekonomis suatu aktiva g sih???

  18. Elisabeth Inawati mengatakan:

    Mbak Renita,
    Untuk menentukan umur ekonomis suatu aktiva kita bisa berpatokan pada penyusutan aktiva menurut pajak.
    Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di artikel perpajakan : http://www.keuanganlsm.com/2011/02/04/penyusutan-depresiasi-menurut-perpajakan/
    Semoga bisa membantu.

  19. dian mengatakan:

    ass..mas..bagaimana kita bisa menetukan metode penyusutan yang cocok sesuai dengan karakteristik aktiva tersebut? bisa dijelaskan??

  20. Iswadi mengatakan:

    Trims mas pencerahannya,mohon diberikan masukan untuk bangunan apakah boleh kita menentukan nilai residunya ( salvage value)dalam jumlah yang besar,, misalnya ruko nilai residunya ditetapkan 50% Dari nilai perolehan, dengan pertimvangan pada Saat penarikan aset, dapat dijual senilai tersebut.thanks mas

  21. mytha logenta mengatakan:

    Mas, saia bekerja sbg IA sedang silema ini, jika thn perolehan aktiva tidak diketahui dengan pasti, bagaimana perlakuan (penyusutan) untuk aktiva yang bersangkutan? Apabila ada peraturan yang mengatur ttg hal tsb tolong di cantumkan ya mas, trimakasih sebelumnya…

  22. riska mengatakan:

    Mas Iswadi..aku coba jawab ya.
    mengenai pertanyaan mas..Besarnya estimasi nilai sisa sangat tergantung pada kebijakan manajemen mengenai penghentian aktiva tetap, dan juga tergantung pada kondisi pasar serta faktor lainya. Bila perusahaan menggunakan aktivanya hingga secara fisik benar-benar usang dan tidak dapat memberi manfaat lagi, maka aktiva tersebut dapat dikatakan tidak memiliki nilai sisa. Namun, jika perusahaan mengganti aktivanya setelah periode penggunaan yang relatif singkat, maka besarnya nilai sisa (yang tercermin oleh harga jualnya) secara relatif akan tinggi.

  23. riska mengatakan:

    Mba Mythe..setahu saya tidak ada peraturan mengenai tahun perolehan yang tidak diketahui dengan pasti.
    untuk kondisi mbak, bisa menggunakan estimasi kapan kira2 umur ekonomisnya & bisa dengan membandingkan barang yang sejenis.
    jadi tahun perolehannya bisa diperkirakan saja. apabila pada saat sudah habis umur ekonomisnya tetapi aset masih bisa dipakai, mbak bisa melakukan koreksi terhadap nilai bukunya.

    semoga membantu

  24. cheryl mengatakan:

    saya mau tanya apakah diwajibkan setiap perusahaan menghitung Penyusutan atau akum penyusutan Aktiva Tetap dalam membuat lap tahunan..
    Thankz a Lot….

  25. Riska mengatakan:

    Aset tetap merupakan bagian dari kekayaan perusahaan dan digunakan dalam bisnis untuk membantu mendapatkan pendapatan. Karena fungsinya yang untuk membantu mendapatkan pendapatan, maka aset tetap wajib disusutkan.

    Selain itu, aset tetap tidak dapat dibebankan sekaligus karena aset tersebut masih digunakan oleh perusahaan. Maka, menurut peraturan perundang-undangan perpajakan maka aset tetap wajib disusutkan setiap bulan sejak tanggal perolehannya.

  26. Riska mengatakan:

    Jadi Mbak Cheryl, perhitungan penyusutan aktiva/aset tetap wajib ada didalam laporan tahunan.

    semoga jawaban saya dapat membantu Mbak :)

  27. Dila mengatakan:

    apa benar by penyusutan tiap th itu sll tetap sedangkan akumulasi penyusutan itu saldo sebelumnya di tambah by penyus th skr?

  28. dicky14 mengatakan:

    hmm,.. Mau nanya mengapa depresiasi/ akumulasi penyusutan masuk dalam sumber modal kerja? Tlg yaa pnjlasan na dgn teori,..

  29. wulan mengatakan:

    bagaimana cara menghitung akumulasi penyusutan dengan metode garis lurus dimana bulan perolehan maret 2008 dengan harga perolehan 916.000,akumulasi penyusutan s/d 2011 brp?

  30. wulan mengatakan:

    ada yg bisa bntu q g? Q lg bingung cara menghitung akumulasi penyusutan menggunakan metode garis lurus. diketahui bulan perolehan maret 2008,harga perolehan 916.000,akumulasi penyusutan s/d 2011 brp y…???
    Tolong bantu q dong….

  31. rini mengatakan:

    bagimana cara ngerjain soal n jawaban sebuah mesin dengan umur ekonomis 5 thn, harga perolehan 60jt teleh di susutkan 2 thn , dgn metode jumlah angka tahun , di tukarkan dng mesin baru yg sejenis seharga 75jt dng tambahan uang tunai 45jt buatlah jurnal atas kejadian tersebut saya minta tolong bantuin saya untuk jawab pertanyaan ini mahkasih

  32. shirley mengatakan:

    saya sedang menghitung penyusutan peralatan, misalkan begini saya membeli printer kartu nama dengan harga Rp 186.000.000 de beli tahun 2009, dan februari ini saya mencari biaya penyusuta dan akumulasi penyusutan,, coba di gambarin kalo di pake metode perhitungan garis lurus

  33. ody mengatakan:

    tolong dong ditulis reference atau sumber yang diambil, biar mudah juga untuk dicari

  34. holen mengatakan:

    saya sedang menghitung metode penyusutan dengan metode angka tahun,dengan memasukkan nilai sisa pada perhitungngannya,tapi dari referensi yang saya cari belum menemukan rumus,cth soal dan penyelsaiannya,,, tuk jadi bahan tambahan saya.
    ada yang punya gak???
    trimakasih,,,

  35. liehta mengatakan:

    Suatu barang dengan Nilai buku tahun 2010 sudah nol, apakah barang tersebut masih ditampilkan di tahun 2011 atau langsung dihilangkan. misalkan beli laptop tahun 2005 harga perolehan Rp.8.000.000, tahun 2010 Nilai bukunya sudah NOL.

  36. yulio mengatakan:

    untuk aset tetap pesawat udara buat jenis bisnis maskapai penerbangan, kenapa mereka memasukan beban depresiasi pesawat udara ke dalam harga pokok produksi? bukan ke beban operasional yaaaaa

  37. mau nanya dunggg,,, untuk metode penyusutan garis menurun gak dikurangi nilai residu kan ya? trus alasannya gak dikurangi nilai residu apa bapak / ibu? mohon pencerahannya. Tks.

    Best Regard,

    Fitri Sandie T
    Accounting Staff
    PT Equity Life Indonesia

  38. reynaldi mengatakan:

    siang pak..sebelumnya salam kenal pak…ada kasus dgn asumsi : terdapat 1 asset dgn harga perolehan Rp. 48.000.000 dgn umur ekonomis 4 thn yang sudah terdepresiasi thn 2010 sebesar Rp. 6.000.000, di tahun 2011 sebesar 6.000.000, jadi NBV dithn awal thn 2012 adalah Rp. 36.000.000, namun depresiasi tersebut taunya salah hitungan harusnya di th 2010 Rp. 12.000.000 dan di thn 2011 Rp. 12.000.000, jadi terdapat salah hitung . apakah kesalahan tersebut dapat di koreksi secara mundur ? atau di hitung di thn berjalan jadi depresiasinya di tahun 2012 dirubah menjadi 12.000.000 sehingga NBV awal thn 2013 adalah 24.000.000….?..tolong bantu pak …bagaimana cara koreksinya jika seperti asumsi di atas

  39. Prana mengatakan:

    @reynaldi: Dilema tuh mas, jika dijurnal tahun berjalan maka akan mempengaruhi laporan laba rugi akhir tahun. Jika dijurnal masuk ke tahun lalu alias laba rugi ditahan maka akan mempengaruhi laporan tahun lalu yang berimbas dengan harus dilakukan laporan pembetulan SPT pajak (belum lagi kalau laporannya ke board director or owner / bs panjang ceritanya). Kalau boleh usul, jika nilainya tidak material maka dimasukan saja ke laba rugi berjalan. Tp jika materil…. Yah apa boleh buat di jurnal ke laba rugi ditahan, dengan asumsi bosnya tidak ngomel2.

  40. melinda nur amelia mengatakan:

    mau tanya dong…… pada tahun 2010 saya sudah melakukan penyusutan aktiva berupa mobil truck dengan metode Declining Balance Method (metode saldo menurun) dengan masa manfaat 4 tahun, dengan tarif (50%) tapi ternyata ada koreksi dari pajak bahwa itu seharusnya 8 tahun (25%) yg berarti saya ada kurang bayar…… apakah saya hrus mengganti tarif dari bulan pertama beli truk? dan apakah kurang bayar yg saya bayarkan ke pajak harus sama dengan selisih perhitungan penyusutan sebelumnya dgn yang seharusnya??? mohon bantuannya…..

  41. Heruwasito mengatakan:

    Gimana bukanya image/jpg nya ya ?
    Saya lagi buat penyusutan dg metode SM (Saldo Menurun).
    Pada akhir umur ekonomis nilai sisa buku apakah tidak boleh disusutkan sekaligus, sehingga nilai buku NIHIL.
    Dalam contoh Saldo Ganda Menurun ada sisa buku 1.000.000, apakah ini dimaksud sebagaimana contoh sisa buku 150.000 yang artinya aset tsb pada akhir masa ekonomisnya diperikirakan masih laku dijual 150.000 ?

  42. Heruwasito mengatakan:

    Buat Melinda, saya punya pengalaman seperti yg anda alami, dimana kita tidak bisa menentukan masa ekonomis/ tarif berdasarkan maunya kita. Dalam penetapan NPWP, disitu tertulis perusahaan anda masuk KLU (Kelompok Usaha) apa. Saya pernah lihat tabel yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan tentang Kode KLU tsb. Dari tabel KLU akan terlihat ketentuan masa ekonomis/ tarifnya. Saran saya ada baiknya temui AR nya. Contoh perusahaan Tambang Batubara, semua aset alat berat/ kendaraan kena tarif 12,5% ( 8 thn ), padahal dalam tempo 4 tahun alat/ kendaraan sudah berantakan kondisinya.

  43. Endra M Yusuf mengatakan:

    Selamat Pagi
    Sodara Heruwasito

    Gambarnya sudah bisa di buka

  44. welly suzana mengatakan:

    Ass….Mbak/Mas saya mohon bantuannya…..saya bekerja di laboratorium sebagai akunting yang buka cabang baru…..jujur saya blm pernah diposisi ini,saya masih kebingungan untuk menghitung penyusutan,nilai buku dan membuat neraca awal….saya mohon bantuannya.

  45. sarimei indarti mengatakan:

    help me plzzz.. apakah neraca itu dibuat utk lap. bulanan jg krn sy cuma tahu utk yg per satu th.. kl memang ada buat yg bulanan contohnya gmn ya??

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Anda Mau Membaca Ini, Mungkin?

keuanganLSM

Bagaimana Siklus Akuntansi & Apa Output Akuntansi

Lanjutkan membaca →