Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Perbedaan dengan Lembaga Komersial

Oleh   /   Rabu 24 Agustus 2016  /   Tidak ada komentar

Keuangan lembaga non-profit memiliki beberapa sifat unik. Untuk mudahnya, keunikan tadi akan dibandingkan dengan lembaga komersial yang mudah kita jumpai sehari-hari.

Perbedaan dengan Lembaga Komersial

Perbedaan dengan Lembaga Komersial

Keuangan lembaga non-profit memiliki beberapa sifat unik. Untuk mudahnya, keunikan tadi akan dibandingkan dengan lembaga komersial yang mudah kita jumpai sehari-hari. Diharapkan dengan pemahaman keunikan lembaga non-profit, maka perilaku lembaga demikian bisa dimengerti.

Pertama, tujuan pendiriannya. Lembaga non-profit didirikan dengan tujuan sosial. Pendiri dari lembaga ini bercita-cita agar lembaga ini dapat menolong dan menyelesaikan sebagian dari problem yang ada dimasyarakat. Berbeda dengan perusahaan.Pendirian perusahaan adalah untuk mengejar keuntungan. Pendiri perusahaan ingin agar lewat produk yang dihasilkan perusahaan diperoleh keuntungan sebesar-besarnya.

Kedua, modal pendirian. Pada lembaga non-profit, pendirian dilakukan dengan memisahkan harta pendiriannya untuk modal lembaga. Dengan cara ini, harta pribadi pendiri akan berkurang menjadi harta lembaga. Untuk lembaga yang berbentu yayasan, harta pendiri yang digunakan untuk pendirian yayasan tidak dapat ditarik atau diambil kembali. Bahkan ketika yayasan dibubarkanpun, harta awal ini tidak dapat diserahkan kembali kepada pendirinta. Dengan demikian, pendiri lembaga non-profit benar-benar sudah merelakan harta pribadinya untuk diserahkan ke lembaga non-profit.

Untuk lembaga non-profit berbentuk perkumpulan, maka modal awal dibentuk dari iuran para anggotanya perkumpulan. Demikian juga untuk asosiasi atau lembaga yang anggotanya homogen, bisa berupa perkumpulan profesi tertentu, yang mendapatkan modal dari iuran para anggotanya.

Perusahaan didirikan dengan harta pendirinya. Namun harta ini diukur dalam bentuk alat ukur yang bernama saham. Artinya semakin besar kontribusi seseorang dalam suatu perusahaan, komersial. Demikian juga kepemilikan ini bisa diperjual-belikan dan dapat ditarik kembali. Artinya. Ketika seseorang ingin keluar dari perusahaan yang didirikannya, ia dapat memperoleh hartanya kembali dengan menjual sahamnya.

Ketiga,lembaga non-profit menaruh fokus utama kegiatannya pada sisi biaya. Artinya, fokus dari lembaga adalah pada kegiatannya dalam melayani masyarakat. Kegiatan ini tentu butuh dana. Dengan demikian, dana yang tersedia akan dicoba untuk digunakan sebaik-baiknya untuk mencapai misi pelayanannya.

Berbeda dengan lembaga komersial. Fokus utama dari kegiatannya adalah penciptaan pendapatan. Untuk itulah perusahaan bersedia mengeluarkan dana untuk memproduksi sesuatu baik barang maupun jasa. Harapannya, barang dan jasa tersebut dapat dijual dan menghasilkan pendapatan. Jadi fokus perusahaan adalah bagaimana menghasilkan barang dan jasa yang laku di pasar.

Keempat, sumber pendapatan dari lembaga. Pendapatan dari lembaga non-profit menurut PSAK 45 dapat digolongkan berdasarkan tingkat keterikatannya kepada pemberi dana tersebut. Dengan demikian ada donasi yang tidak mengikat sama sekali. Ada juga donasi yang diberikan dengan tujuan khusus. Dengan demikian mengikat lembaga untuk menggunakan pada kegiatan tertentu.

Pada perusahaan hampir tidak ada batasan mengenai pendapatan apa saja yang boleh dikumpulkan. Apalagi pembatasan tentang penggunannya. Artinya, lembaga komersial boleh mencari pendapatan apa saja. Demikian juga ketika pendapatan diperoleh, lembaga boleh menggunakannya untuk kegiatan apa saja. Sepanjang menghasilkan keuntungan tentunya.

Kelima, biaya yang dikeluarkan oleh lembaga non-profit merupakan cerminan dari apa yang hendak dicapainya. Lembaga non-profit yang bergerak di bidang kesenian akan terlihat dari biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tersebut sehari-hari. Dengan demikian, apakah lembaga tersebut benar-benar melakukan apa yang menjadi tujuannya atau tidak, terlihat dari bagaimana lembaga tersebut menghabiskan biayanya. Pencapaian tujuan sosial lembaga dilakukan dengan biaya yang dikeluarkannya.

Dalam lembaga komersial, biaya merupakan upaya untuk memancing pendapatannya. Biaya operasional, biaya produksi suatu produk, dikeluarkan karena produk tadi akan dijual. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan harus dapat menghasilkan pendapatan nantinya. Dan pendapatan tersebut harus lebih besar dari biaya yang sudah dikeluarkan. Biaya hanya dapat dibenarkan ketika ia mampu menghasilkan pendapatan bagi perusahaan.

Keenam, lembaga non-profit tidak mengenal sisa keuntungan usaha. Dalam satu periode. Katakanlah periode 12 bulan atau satu tahun, suatu lembaga non-profit bisa saja menerima sumbangan hingan Rp100 juta. Pada tahun yang sama, baiaya kegiatannya yang dikeluarkan lembaga hanya Rp90 juta. Selisih Rp10juta ini tidak dapat dikatakan sebagai keuntungan bagi lembaga non-profit. Karena, pada periode yang akan dating, bisa saja pendapatannya hanya Rp90 juta, tetapi biayanya Rp100 juta. Defisit ini ditutup dari surplus tahun lalu. Demikian seterusnya. Artinya. Lembaga tidak mengenal keuntungan. Yang ada adalah surplus yang mirip dengan cadangan untuk periode yang akan datang.

Bagi lembaga komersial, bila pendapatan lebih besar dari biaya, maka dikatakan perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan ini dicatat pada satu periode akuntansi. Periode berikutnya bisa jadi justru rugi, karena pendapatan lebih sedikit dibandingkan biaya. Namun kerugian ini tidak serta-merta dikompensasikan dengan keuntungan pada tahun yang lalu.

Ketujuh, karena tidak ada konsep keuntungan, maka pada lembaga non-profit, surplus tidak mempengaruhi kekayaan pendirinya. Surplus ini digunakan kembali untuk menyokong kegiatan, kegiatan sosial lembaga. Berbeda dengan perusahaan, keuntungan dibagikan kepada dan untuk para pemiliknya, yaitu para pemegang saham. Dengan demikian, keuntungan akan menamb kekayaan pemiliknya.

Perbedaan-perbedaan fundamental diatas akan mempengaruhi jug acara pengelolaan lembaga non-profit. Dari sisi keuangan, pengelolaan lembaga non-profit dipengaruhi oleh tujuan pendirian lembaga pada mulanya, cara pembiayan yang disepakati, cara-cara pencarian sumber dana, penggunaan dana dan sebagainya.

Berikut ringkasan perbedaan anatara kedua jenis lembaga ini:

Tabel 1. Perbedaab Lembaga Komersial dengan Non-Profit

tabel1

Disarikan dari buku: Manajmen Keuangan lembaga Nirlaba, Penulis: Pahala Nainggola, Hal: 4-6.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Tahapan Penyusunan Anggaran Desa

Selengkapnya →