Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Perubahan Struktur Sosial pada Lingkungan Makro

Oleh   /   Kamis 16 Agustus 2018  /   Tidak ada komentar

Semakin kuatnya dominasi kedudukan sumber daya modal (K) dan teknologi (N) dalam proses produktif perusahaan, tentu akan dibarengi dengan semakin strategisnya kedudukan politis pemasok kedua sumber daya itu dalam perusahaan.

keuanganLSM

Perubahan Struktur Sosial pada Lingkungan Makro

Transformasi fungsi produksi telah melalui tiga tahap, yaitu dari Q = F(L) menjadi Q = F(L,K) dan seterusnya ke Q= F(L,K,N).[1] Fungsi tahap pertama menunjukkan bahwa produksi hanya tergantung kepada tenaga kerja kasar (L), tahap kedua menunjukkan adanya peranan modal (K) dalam proses produksi, dan tahap ketiga produksi dipengaruhi oleh L, K, dan teknologi (N). Peranan teknologi ini justru mendominasi aktivitas produksi pada tahap moderen. Transformasi fungsi produksi tersebut tidak hanya memberi dampak besar terhadap struktur ekonomi makro, tetapi juga terhadap struktur sosial makro.

Semakin kuatnya dominasi kedudukan sumber daya modal (K) dan teknologi (N) dalam proses produktif perusahaan, tentu akan dibarengi dengan semakin strategisnya kedudukan politis pemasok kedua sumber daya itu dalam perusahaan. Para pemasok sumber daya K dan N, dalam literatur sosiologi secara kolektif sering disebut kelas menengah.[2] Besarnya kelas menengah dalam masyarakat sangat tergantung pada tingkat industrialisasi. Semakin tinggi tingkat industrialisasi, yang berarti semakin besarnya pangsa peran sektor moderen dalam perekonomian makro, semakin besar.

Kelas menengah dalam masyarakat dikenal dengan aspirasinya yang tinggi terhadap demokrasi, keterbukaan, persamaan hak, hak asasi, dan tanggungjawab sosial. Oleh karena itu semakin industrialisasi di Indonesia ini berhasil, semakin aspirasi mengenai masalah-masalah tersebut mencuat ke permukaan. Ada satu hal yang perlu dicatat dengan adanya perubahan struktur sosial pada lingkungan makro, yaitu dengan semakin besarnya kelas menengah dalam masyarakat, maka tuntutan akan tanggungjawab sosial perusahaan akan semakin besar dan vokal. Perusahaan memerlukan suatu alat yang bisa menunjukkan kepada publik bahwa perusahaan tersebut merupakan suatu bisnis yang cukup peduli dan bertanggungjawab secara sosial (socially concerned and responsible).

Tujuan pelaporan keuangan yang terlalu sempit, yang hanya berorientasi pada kepentingan investor dan kreditor tidak akan lagi mampu menghasilkan alat pertanggungjawaban satuan usaha secara lengkap. Oleh karena itu perlu adanya perluasan terhadap tujuan pelaporan keuangan konvensional untuk membuka peluang terbentuknya suatu alat, yang mampu mengisi kebutuhan dalam mengungkap tanggungjawab perusahaan secara lengkap, termasuk di dalamnya tanggungjawab sosial.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya informasi akuntansi tidak hanya bermanfaat dalam pengendalian sumber daya ekonomik, tetapi juga bermanfaat dalam pengendalian alokasi kemakmuran masyarakat sebagai tujuan sosial ekonomik suatu negara. Badan usaha yang besar cenderung untuk mempengaruhi kehidupan perekonomian dan masyarakat luas, sehingga badan usaha tidak hanya bertanggungjawab kepada investor dan kreditor, tetapi bertanggungjawab pula kepada masyarakat yang lebih luas (public/social responsibility). Pihak-pihak seperti pemerintah, pemasok, calon investor dan kreditor, karyawan, pelanggan, analis keuangan, broker dan penjamin di pasar modal, ahli hukum, ahli ekonomi, otoritas perpajakan, organisasi buruh, asosiasi dagang, dan masyarakat luas adalah pihak-pihak yang juga berkepentingan terhadap suatu unit usaha dan akan mengambil keputusan ekonomi.

33

Sumber Theodorus M. Tuanakota. “Rerangka Konseptual dan Penyusunan Standar Akuntansi. “Konvensi Nasional Akuntansi ke-2, Yogya. Desember 1992 hal.2.

34

Sumber: Suwardjono, “Perekayasaan Informasi Akuntansi untuk Alokasi Sumber Daya Ekonomik secara Efisien melalui Pasar Modal, “Majalah Akuntansi, No. 12, Desember 1990, hal.27

[1] Bambang Sudibyo, “Peluang dan Tantangan Profesi Akuntansi Menghadapi Perubahan Lingkungan Memasuki Abad 21,” KNA ke-2, Yogyakarta Desember 1992, hal. 18.

[2] Ibid

Disarikan dari buku: Tujuan Pelaporan Keuangan, Penulis: Suwaldiman, M.Accy., SE., Akt., Hal: 31-34.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Pengertian & Ruang Lingkup Akuntansi Publik

Selengkapnya →