Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Premi Rp 10.000 Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Oleh   /   Senin 20 Oktober 2014  /   Tidak ada komentar

”Bayangkan akibat yang terjadi saat pencari nafkah dalam suatu keluarga meninggal, ketika seorang anak dari keluarga tak mampu harus dirawat di rumah sakit, atau ketika tanaman milik keluarga petani rusak karena kekeringan atau banjir,” ujar Yoko.

Premi Rp 10.000 Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Premi Rp 10.000 Jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Sumber: Kompas, Rabu, 25 Juni 2014

Tidak bisa dimungkiri, penetrasi produk keuangan di Indonesia masih sangat terbatas. Produk perbankan yang sebenarnya sudah banyak dikenal dan bagian dari gaya hidup saat ini juga masih sangat minim.

Data yang dihimpun Kompas menunjukkan, jumlah orang dewasa yang punya rekening di lembaga keuangan baru 20 persen. Indeks inklusi keuangan hanya 19,6 persen. Persentase rumah tangga yang punya tabungan (bank, lembaga keuangan nonbank, dan nonlembaga keuangan) hanya 48 persen.

Dari statistik di atas, jelas perlu sebuah kampanye besar mendorong penetrasi produk keuangan ke dalam masyarakat. Kampanye ini menjadi keharusan jika dikaitkan dengan segera diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015. Jangan sampai penetrasi yang lambat atau tidak sama sekali akan dimanfaatkan sejumlah lembaga keuangan dari negara sesama anggota ASEAN. Pengalaman sektor perbankan pasca krisis 1998 memperlihatkan betapa industri perbankan asing masuk, melakukan penetrasi kredit hingga sektor mikro dengan keuntungan besar yang diboyong pergi.

Laporan Bank Indonesia (BI), ”Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Proses Harmonisasi di Tengah Persaingan”, menekankan perlunya meningkatkan kemampuan dan kedalaman pasar keuangan di dalam negeri sebuah negara, termasuk di Indonesia. Selain itu, juga perlu meningkatkan tabungan domestik. Setiap warga dalam lingkup ASEAN harus mendapatkan manfaat dari kehadiran MEA. Usaha menengah kecil mikro (UMKM) yang mendominasi kegiatan ekonomi di semua negara tentu saja harus mendapat manfaat, termasuk aliran modal yang kini semakin besar.

Sebuah pertanyaan besar, apa yang bisa segera dilakukan untuk memperkuat sistem keuangan Indonesia sebelum MEA tiba? Bukankah ada sekitar 120 bank di negeri ini, tetapi mengapa akses ke perbankan masih saja rendah? Bukankah pendapatan per kapita di Indonesia meningkat pesat mendekati 4.000 dollar AS per tahun? Juga ada sekitar 130 juta penduduk kelas menengah dengan pengetahuan dan kesadaran keuangan yang relatif tinggi?

 

Perlu Terobosan

Sebuah terobosan dengan mendorong asuransi mikro sangat berpeluang memperkuat kedalaman sektor keuangan di negeri ini. Kehadiran MEA semakin memperkuat kampanye besar untuk semakin mewujudkan asuransi mikro.

”Otoritas Jasa Keuangan segera memperkenalkan skema asuransi mikro agar penetrasi produk keuangan ke masyarakat bawah kian meningkat,” ujar Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, sebagaimana dikutip media pertengahan Maret lalu.

Asuransi mikro pada dasarnya akan sangat membantu perekonomian masyarakat bawah di Indonesia. Yoko Doi, spesialis keuangan yang menangani hal yang berhubungan dengan akses terhadap jasa keuangan pada kantor Bank Dunia di Jakarta sebagaimana dikutip media, menulis bahwa asuransi mikro di Indonesia berpotensi menguntungkan 77 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki simpanan. Simpanan yang bisa mereka andalkan jika terjadi musibah tidak terduga menimpa keluarga mereka.

”Bayangkan akibat yang terjadi saat pencari nafkah dalam suatu keluarga meninggal, ketika seorang anak dari keluarga tak mampu harus dirawat di rumah sakit, atau ketika tanaman milik keluarga petani rusak karena kekeringan atau banjir,” ujar Yoko.

Bencana-bencana tadi, menurut Yoko, kian memberatkan keberadaan rumah tangga miskin. Pada umumnya, semua musibah tadi membuat rumah tangga miskin kian nestapa dan putus harapan.

Pandangan soal pentingnya asuransi mikro ini sudah satu sikap. OJK sejauh ini menegaskan, asuransi mikro yang akan dikembangkan adalah asuransi pertanian dan asuransi bencana. Bisa juga ditambahkan asuransi mikro perlindungan UMKM. Sejauh ini asuransi demam berdarah sudah mendapat reaksi positif. Tetapi apa yang harus lebih mendapat perhatian agar kesiapan asuransi mikro di dalam negeri ini semakin cepat menyebar, kuat, dan mendapat hati di kalangan masyarakat bawah sebelum MEA 2015 tiba?

Pasar 77 juta jiwa yang diungkapkan Yoko Doi jelas sebuah potensi menarik bagi asuransi mikro. Pekerja informal, buruh tani, nelayan dengan penghasilan tak tidak menentu tentu saja memerlukan sebuah pendekatan lain. Pendidikan dan pemahaman mereka yang rendah jelas sebuah tantangan tersendiri untuk mengajak mereka ikut dalam asuransi mikro. Suatu yang hal utama bagaimana asuransi mikro itu memberikan harapan besar dengan pungutan premi yang terjangkau.

Terus terang, dari data OJK berkaitan kinerja industri asuransi per 31 Maret 2014, rata-rata pengeluaran untuk pembayaran premi asuransi per tahun 2013 mencapai Rp 768.960. Angka ini meningkat dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya Rp 729.813. Nilai premi sebesar ini jelas tidak akan menarik bagi 77 juta penduduk menengah bawah di Indonesia. Tidak bakal dilirik sedikit pun oleh sekitar 28,5 juta penduduk miskin di negara ini.

Yoko Doi mengakui cukup sulit mengembangkan asuransi mikro di negeri ini. Dalam masyarakat kecil ada pandangan bahwa asuransi itu hanya untuk orang dengan penghasilan besar. Selain itu, untuk menjadi peserta asuransi juga rumit. Persyaratannya berlapis dan pelik pula. Banyak juga asuransi bodong yang membuat banyak orang trauma berasuransi. Birokrasinya rumit dan kadang sengaja atau tidak, sulit untuk mendapatkan klaim ganti rugi. Dan tadi, biaya premi tidak terjangkau bagi mereka yang masuk dalam golongan masyarakat berpenghasilan rendah.

Lepas dari berbagai kendala tadi, data OJK menyebutkan sudah ada 25 perusahaan yang menjual asuransi mikro di negeri ini. Langkah ini tentu saja semakin memperkuat penetrasi industri asuransi dan juga diharapkan semakin memperkuat akses masyarakat banyak pada sebuah produk keuangan. Dalam jangka panjang, tentu saja memperkuat posisi sektor keuangan Indonesia dalam persaingan setelah MEA.

Menurut Direktur Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Syariah Muchlasin sebagaimana dilansir media, 25 perusahaan ini menjual asuransi mikro dalam bentuk 67 produk, antara lain asuransi demam berdarah. ”Preminya juga relatif murah hanya Rp 10.000,” ujar Muchlasin.

Mereka juga menjual produk asuransi mikro lain, seperti asuransi kebakaran dan gempa bumi. Diharapkan, segera muncul asuransi mikro untuk pertanian dan perlindungan UMKM. Nelayan yang juga rentan terhadap bencana sangat pantas didekati.

Sebagaimana sasarannya masyarakat berpenghasilan bawah, segala urusannya jelas sederhana dan mudah. Fitur dan administrasinya sederhana, harganya terjangkau, juga mudah didapat, dan urusan santunannya cepat. Tidak bisa lain, karena bagi masyarakat berpendapatan bawah, jadi urusannya juga harus merakyat. Tak ada prosedur rumit, sentuhan personal, seperti di kampung mereka sendiri. Sesuai degan desain besar asuransi mikro Indonesia, mereka yang masuk dalam masyarakat berpenghasilan bawah ini adalah mereka yang berpenghasilan tidak lebih dari Rp 2,5 juta per bulan.

Agus Martowardojo sewaktu menjabat Menteri Keuangan pernah menegaskan, industri asuransi ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, seiring dengan masih banyaknya warga miskin di Indonesia, perlu juga dikembangkan asuransi mikro yang nantinya bisa menjadi salah satu solusi keuangan masyarakat bawah di negeri ini. Asuransi mikro ini kalau bisa sederhana prosedurnya, mudah dipahami, dan harga preminya harus serendah mungkin, ”Di bawah Rp 50.000 atau tidak lebih dari Rp 100.000 per tahun,” ujar Agus yang kini menjabat Gubernur Bank Indonesia.

Berkenaan dengan MEA 2015, maka pasar keuangan Indonesia yang masih dangkal perlu diperkuat. Asuransi mikro menjadi salah satu pilihan mendorong penguatan pasar keuangan negeri ini. Sekalipun dengan premi Rp 10.000, sebuah potensi menghimpun tabungan domestik yang fantastis apabila sebagian besar dari 77 juta masyarakat berpenghasilan bawah ikut serta. Masih ada waktu untuk mendorong asuransi mikro. Kini saatnya berbuat bagi kaum papa di negeri ini. (Pieter P Gero)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Perlu Serap Digital

Selengkapnya →