Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Rangkuman Norma Praktek Profesional Audit Internal

Oleh   /   Senin 23 November 2015  /   Tidak ada komentar

Unit audit internal haruslah memiliki atau mendapatkan pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggungjawab pemeriksaan yang diberikan.

Rangkuman Norma Praktek Profesional Audit Internal

Rangkuman Norma Praktek Profesional Audit Internal

INDEPENDENSI: AUDIT INTERNAL HARUS MANDIRI DAN TERPISAH DARI KEGIATAN YANG DIPERIKSANYA.

  1. Status organisasi: Status organisasi dari unit audit internal (bagian pemeriksaan internal) haruslah memberi keleluasaan untuk memenuhi dan menyelesaikan tanggungjawab pemeriksaan yang diberikan kepadanya.
  2. Objektivitas: Para pemeriksa internal (internal auditor) haruslah melaksanakan tugasnya secara objektif.

KEMAMPUAN PROFESIONAL: AUDIT INTERNAL HARUS MENCERMINKAN KEAHLIAN DAN KETELITIAN PROFESIONAL.

Unit Audit Internal

  1. Personalia: Unit audit internal haruslah memberikan jaminan keahlian teknis dan latar belakang pendidikan para pemeriksa yang akan ditugaskan.
  2. Pengetahuan dan kecakapan: Unit audit internal haruslah memiliki atau mendapatkan pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggungjawab pemeriksaan yang diberikan.
  3. Pengawasan: Unit audit internal haruslah memberikan kepastian bahwa pelaksanaan pemeriksaan internal akan diawasi sebagaimana mestinya.

Auditor Internal

  1. Kesesuaian dengan standar profesi: Pemeriksa internal (internal auditor) haruslah mematuhi standar profesional dalam melakukan pemeriksaan.
  2. Pengetahuan dan kecakapan: Para pemeriksa internal haruslah memiliki atau mendapatkan pengetahuan, kecakapan, dan disiplin ilmu yang penting dalam pelaksanaan pemeriksaan.
  3. Hubungan antar manusia dan komunikasi: Para pemeriksa internal haruslah memiliki kemampuan untuk menghadapi orang lain dan berkomunikasi secara efektif.
  4. Pendidikan berkelanjutan: Para pemeriksa internal harus mengembangkan kemampuan teknisnya melalui pendidikan yang berkelanjutan.
  5. Ketelitian profesional: Dalam melakukan pemeriksaan, para pemeriksa internal haruslah bertindak dengan ketelitian profesional yang sepatutnya.

LINGKUP PEKERJAAN: LINGKUP PEKERJAAN PEMERIKSA INTERNAL HARUS MELIPUTI PENGUJIAN DAN EVALUASI TERHADAP KECUKUPAN SERTA EFEKTIVITAS SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL YANG DIMILIKI ORGANISASI DAN KUALITAS PELAKSANAAN TANGGUNGJAWAB YANG DIBERIKAN.

  1. Keandalan informasi: Pemeriksa internal haruslah memeriksa keandalan (reliabilitas dan integrasi) informasi keuangan dan pelaksanaan pekerjaan dan cara-cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklarifikasi, dan melaporkan suatu informasi tersebut.
  2. Kesesuaian dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan perundang-undangan: Pemeriksa internal haruslah memeriksa sistem yang telah ditetapkan untuk meyakinkan apakah sistem tersebut telah sesuai dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan yang memiliki akibat penting terhadap pekerjaan-pekerjaan atau operasi-operasi, laporan-laporan serta harus menentukan apakah organisasi telah memenuhi hal-hal tersebut.
  3. Perlindungan terhadap harta: Pemeriksa internal haruslah memeriksa alat atau cara yang dipergunakan untuk melindungi harta atau aktiva, dan bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan berbagai harta organisasi.
  4. Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien: Pemeriksa internal harus menilai keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.
  5. Pencapaian tujuan: Pemeriksa internal haruslah menilai pekerjaan operasi, atau program untuk menentukan apakah hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, dan apakah suatu pekerjaan, operasi, atau program telah dijalankan secara tepat dan sesuai dengan rencana.

PELAKSANAAN KEGIATAN PEMERIKSAAN: KEGIATAN PEMERIKSAAN HARUS MELIPUTI PERENCANAAN PEMERIKSAAN PENGUJIAN, SERTA PENGEVALUASIAN INFORMASI, PEMBERITAHUAN HASIL DAN MENINDAKLANJUTI (FOLLOW UP)

  1. Perencanaan pemeriksaan: Pemeriksa internal haruslah merencanakan setiap pemeriksaan.
  2. Pengujian dan pengevaluasian informasi: Pemeriksa internal harus mengumpulkan, menganalisis, menginterprestasi, dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan.
  3. Penyampaian hasil pemeriksaan: Pemeriksa internal harus melaporkan hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh dari kegiatan pemeriksaannya.
  4. Tindak lanjut hasil pemeriksaan: Pemeriksa internal harus terus meninjau atau melakukan follow up untuk memastikan bahwa terhadap temuan-temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindak lanjut yang tepat.

MANAJEMEN BAGIAN AUDIT INTERNAL: PIMPINAN AUDIT INTERNAL HARUS MENGELOLA BAGIAN AUDIT INTERNAL SECARA TEPAT

  1. Tujuan, kewenangan, dan tanggungjawab: Pimpinan audit internal harus memiliki pernyataan tujuan, kewenangan, dan tanggungjawab bagi bagian audit internal.
  2. Perencanaan: Pimpinan audit internal harus menetapkan rencana bagi pelaksanaan tanggungjawab bagian audit internal.
  3. Kebijakan dan prosedur: Pimpinan audit internal harus membuat berbagai kebijaksanaan dan prosedur secara tertulis yang akan dipergunakan sebagai pedoman oleh staf pemeriksa.
  4. Manajemen personel: Pimpinan audit internal harus menetapkan program untuk menyeleksi dan mengembangkan sumber daya manusia pada bagian audit internal.
  5. Auditor eksternal: Pimpinan audit internal harus mengkoordinasikan usaha-usaha atau kegiatan audit internal dengan auditor eksternal.
  6. Pengendalian mutu: Pimpinan audit internal harus menetapkan dan mengembangkan pengendalian mutu atau jaminan kualitas untuk mengevaluasi berbagai kegiatan bagian audit internal.

Disarikan dari buku: Standar Profesional Audit Internal (Rangkuman Norma Praktek Profesional Audit Internal), Penulis: Hiro Tugiman, Hal: 16-19.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

SDM sebagai Gerbang Terakhir

Selengkapnya →