Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Issu Transparansi dan Akuntabilitas  >  Artikel saat ini

Rantai Keberlanjutan OMS

Oleh   /   Rabu 25 Mei 2011  /   Tidak ada komentar

Kesadaran bersama di kalangan masyarakat sipil Indonesia kini tumbuh semakin kuat: bahwa gerakan sosial harus menjadi “karya peradaban”, yang hanya boleh dilaksanakan dengan penuh sikap kesabaran, dedikasi, hati-hati, kritis, mandiri-merdeka, dan dalam jangka panjang”.

keuangan LSM

Keberlanjutan adalah suatu jalinan mata rantai

Seri 1/1 dari Bagian 4 Tata Kelola yang Demokratis dan Berkelanjutan, dari keseluruhan 12 seri artikel berjudul Menuntaskan Dilema “Moral dan/atau Modal?” dalam Praksis Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia. Artikel ditulis oleh Hasan Bachtiar.

Keterangan lengkap tentang tulisan ini.

Kesadaran bersama di kalangan masyarakat sipil Indonesia kini tumbuh semakin kuat: bahwa gerakan sosial harus menjadi “karya peradaban”, yang hanya boleh dilaksanakan dengan penuh sikap kesabaran, dedikasi, hati-hati, kritis, mandiri-merdeka, dan dalam jangka panjang—alih-alih “instan”.

Pada titik ini, satu kata kuncinya adalah “stamina”, atau “vitalitas” . Bagaimana menjaga stamina dan mewujudkan vitalitas itu? Di sinilah isu tentang “tata kelola yang demokratis” (democratic governance), sebagai kritik terhadap “Good Governance” ala Bank Dunia yang mengusung “neo-liberalisasi” sebagai agenda terselubung, mengemuka.

Dari film Mother Theresa kita beroleh sebuah inspirasi bahwa “orang yang menolong orang lain yang sedang sakit haruslah sehat terlebih dahulu”. OMS menyelenggarakan program-program pelayanan kemanusiaan untuk menjawab masalah-masalah kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, korupsi, konflik sosial, bencana natural, sosial, dan industrial, penyelewengan politik dan bisnis, ketimpangan dan ketidakadilan kultural, dsb.—seolah-olah OMS adalah “tukang cuci piring” sebuah pesta besar bernama “pembangunan dan industrialisasi”, yang terutama digelar oleh negara dan korporasi, belaka? Maka, hanya OMS yang “sehat”, artinya terbebas dari segala “sakit” tadi, yang mampu menyembuhkan aneka kesakitan sosial itu.

Sebuah inspirasi lain, dalam Pelatihan “Integrated Strategic Financial and Program Planning” pada tahun 2004 di USC-Satunama, Yogyakarta, Methodius Kusumahadi menyatakan bahwa “organisasi” adalah seibarat “pohon”.

Agar dapat menghasilkan “buah-buah” yang baik, lebat, dan penuh gizi, pohon itu mestilah dirawat secara teratur, disiram, dipupuk, dedaunan dan bebatangan dan rerantingannya yang sudah uzur dipangkas, dan dijaga agar terbebas dari serangan hama. Agar “buah-buah”—program-program pelayanan kemanusiaan—yang dihasilkan OMS baik, tepat, dan bermanfaat bagi kelompok-kelompok sasarannya, OMS itu sendiri mesti dapat tumbuh secara subur, kokoh, dan lestari.

Maka, unsur-unsur mana pada OMS yang mesti disasar untuk mewujudkan tata kelola OMS yang demokratis—sehat lagi subur? Menurut M. Kusumahadi, bila organisasi adalah “sumber daya yang diolah dengan suatu strategi tertentu untuk mencapai arah tertentu”, maka OMS mengandung tiga unsur utama—yang dari sini selanjutnya bisa dikembangkan unsur-unsur rinciannya. Pertama adalah “arah”. Sebuah OMS mesti memiliki visi, misi, paradigma, serta nilai yang dirumuskan dan diacu secara konsisten. Jika tidak demikian, OMS akan kehilangan tujuan serta raison d’etre-nya. Kedua adalah “strategi” atau sistem. Bagian ini meliputi aturan main/konstitusi OMS, program layanan, strategi/pendekatan/metode kerja, dll. Ketiga adalah “sumber daya”, yaitu manusia, material, informasi, uang, dll. Intervensi yang tepat terhadap ketiga unsur OMS tersebut akan menghasilkan suatu OMS yang terkelola secara demokratis sekaligus sehat, subur, bahkan “lestari” atau “berkelanjutan” (sustainable).

Sampai di sini, memperhatikan kembali analisis Fowler tentang “skenario pasca-bantuan” serta transformasi OMS dari sektor ketiga menjadi “posisi keempat” di atas, juga kesadaran yang berkembang di kalangan OMS Indonesia tentang praksis gerakan masyarakat sipil sebagai “karya peradaban” berjangka panjang, pada akhirnya, bersinggungan dengan dua isu utama. Pertama, “kemandirian (autonomy, independency) vs. ketergantungan (dependency)”, yaitu bagaimana OMS dapat menciptakan dukungan sumber-sumber daya secara mandiri, bukan dari donor yang memberikan “bantuan bersyarat” (restricted aids) karena terbukti seringkali inkonsisten dengan kebutuhan lokal. Kedua, “keberlanjutan” (sustainability) vs. “kesementaraan” (sporadicity).

Keberlanjutan adalah suatu jalinan mata rantai, sebagaimana ditunjukkan oleh Ilustrasi 0.8 berikut. Isu keberlanjutan di kalangan OMS menjadi keprihatinan bersama bukan semata-mata karena dan demi OMS itu sendiri, melainkan berkaitan dengan aspek-aspek yang mendahului dan menyudahinya. Sebabnya sederhana, yaitu OMS berdiri—dan hanya boleh berada—untuk menjawab masalah sosial, bukan untuk memakmurkan para pengelolanya belaka.

Ilustrasi 0.8: Rantai Keberlanjutan OMS

Suatu OMS yang kokoh, yang dikelola secara demokratis, akan mampu mempertahankan hidupnya. OMS bertugas sebagai “mesin pemroses” sumber-sumber daya untuk menghasilkan program-program layanan kemanusiaan bagi suatu komunitas sasaran. “Program layanan kemanusiaan” ini akan bisa terus dihasilkan apabila OMS sendiri mampu mempertahankan hidupnya terlebih dahulu. Lantas, program-program layanan menciptakan suatu nilai tambah bagi “komunitas sasaran”, kuantitas dan kualitas hidupnya berubah membaik. Pada akhirnya, perubahan pada komunitas sasaran bakal merangsang “dampak-dampak” lanjutan pada skala makro.

Dari Ilustrasi 0.8 di atas pula, kita dapat mencermati bahwa, sebagai mata rantai paling awal dalam keberlanjutan OMS, keberlanjutan “pasokan sumber daya”, tak pelak, menjadi faktor yang paling fundamental. Keberhasilan dalam “penggalangan” dan “pengelolaan” sumber daya (resources mobilization and management) OMS secara efektif dan efisien, pastilah, menentukan keberlanjutan OMS itu sendiri, program-program layanan kemanusiaannya, komunitas sasarannya, hingga berdampak pada terciptanya manfaat program pada skala yang lebih luas. Dan di antara sekian jenis sumber daya, telah menjadi kemafhuman umum bahwa “uang” merupakan jenis sumber daya yang paling vital—dan kerapkali menjadi isu panas—bagi OMS untuk mencapai tujuan-tujuannya.

Dikatakan dengan cara yang lain, visi-misi OMS yang mulia adalah “moral”, sedangkan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan dibutuhkan uang sebagai “modal”. Walhasil, moral tanpa modal—sedari dulu hingga kini—adalah “utopia” belaka, sedangkan modal tanpa bimbingan moral adalah “setan” yang bergentayangan mencari-cari mangsa!

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Tantangan Transparansi dan Akuntabilitas LSM

Selengkapnya →