Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Rapat-rapat Board dan Pengambilan Keputusan Strategis Lainnya

Oleh   /   Kamis 11 September 2014  /   Tidak ada komentar

Selain rapat board, ada berbagai jenis rapat lainnya untuk pengambilan keputusan strategis dalam organisasi, di antaranya adalah rapat untuk pengesahan AD/ ART, SOP, dan penyusunan perencanaan strategis organisasi.

Rapat-rapat Board dan Pengambilan Keputusan Strategis Lainnya

Rapat board dan rapat pengambilan keputusan strategis juga menjadi indikator untuk memotret tata pengurusan internal LSM.

Penyelenggaraan rapat board merupakan mekanisme penting, karena board memainkan peran dalam membuat kebijakan dan melakukan pengawasan pelaksanaan kebijakan oleh eksekutif Jika rapat board tidak dilaksanakan atau dilaksanakan secara tidak regular, hal tersebut memperlihatkan lemahnya fungsi board yang dapat berdampak pada terjadinya kekuasaan eksekutif yang dominan dan tanpa pengawasan. Jika kondisi ini terus berlangsung, akan terjadi sleeping board. Fenomena ini dialami sejumlah LSM di Indonesia (Herlina, 2012).

Pada seluruh sampel ditemukan kecenderungan yang sama dalam hal penyelenggaraan rapat board, yaitu tidak memiliki mekanisme rapat (11,1%), memililci tetapi tidak melaksanakannya secara regular (33,3%), serta memililci mekanisme rapat dan melakukan secara regular (55,6%).

Selain rapat board, ada berbagai jenis rapat lainnya untuk pengambilan keputusan strategis dalam organisasi, di antaranya adalah rapat untuk pengesahan AD/ ART, SOP, dan penyusunan perencanaan strategis organisasi.

Dari hasil assessment, terlihat ada perbedaan yang mencolok dalam proses pengesahan AD/ ART organisasi antara lembaga yang sudah sesuai dengan lembaga yang belum sesuai dengan Kode Etik Konsil. Di semua lembaga yang berkategori sesuai, proses pengesahan AD/ ART dilakukan dalam forum pengambilan keputusan tertinggi yang melibatkan semua unsur organisasi, bahkan termasuk perwakilan konstituen dan masyarakat dampingan. Sementara di lembaga-lembaga kategori belum sesuai, hanya 11,1% dari mereka yang melibatkan semua unsur lembaga dan perwakilan masyarakat dampingan dalam proses pengesahan AD/ ART, 88,9% dan lembaga hanya mengesahkan AD/ ART melalui SK pengurus dan/atau direktur saja.

Dalam proses pengambilan keputusan strategis lain seperti pengesahan SOP, penetapan standar gaji, membangun kerja sama dengan pihak luar, juga terlihat kecenderungan yang sama dengan proses pengesahan AD/ ART. Terdapat 55,6% lembaga yang dalam pembuatan keputusan-keputusan strategis melibatkan ketua board, direktur eksekutif, dan diawali dengan diskusi dengan staf.

Sebanyak 33,3% lembaga pengambilan keputusan hanya dilakukan oleh pengurus atau direktur eksekutif, 5,6% oleh keduanya, dan 5,6% tidak diketahui. Jika dilihat lebih jauh, mereka yang proses pembuatan keputusan strategisnya melibatkan ketua board, direktur eksekutif, dan diawali dengan diskusi dengan staf paling banyak berada di kelompok lembaga yang sudah sesuai dengan Kode Etik Konsil (80%), sementara di lembaga yang belum sesuai hanya 20%.

Keterlibatan konsituen atau kelompok dampingan dalam seluruh tahapan program lembaga, semakin memperkuat data bahwa di lembaga yang sudah sesuai dengan Kode Etik Konsil, semua lembaga melibatkan konstituen dalam seluruh tahapan program, sementara di lembaga yang belum sesuai dengan Kode Etik Konsil, tidak ada satu pun yang melibatkan konstituen dalam semua tahapan proses program, tetapi hanya dalam pelaksanaan program saja sebesar (88,9%) dan sisanya (11,1%) tidak diketahui.

Disarikan dari buku: Jurnal Akuntabilitas Organisasi Masyarakat Sipil, Penulis: Lili Pulu, Hal: 50-51.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Membuat SDM Dihargai

Selengkapnya →