Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

SDM Berpolitik

Oleh   /   Jumat 8 Mei 2015  /   Tidak ada komentar

SDM sering dituduh bersedia melakukan apa pun “Asal Bapak Senang”. Misalnya, memecat karyawan yang tidak bersalah, membela karyawan bersifat buruk yang dibutuhkan oleh perusahaan, membela pemimpin dan mendukung ide mereka walau jelas salah atau merugikan banyak karyawan lain.

keuanganLSM

SDM Berpolitik8

SDM sering dituduh bersedia melakukan apa pun “Asal Bapak Senang”. Misalnya, memecat karyawan yang tidak bersalah, membela karyawan bersifat buruk yang dibutuhkan oleh perusahaan, membela pemimpin dan mendukung ide mereka walau jelas salah atau merugikan banyak karyawan lain.

Apa yang membuat SDM mampu melakukan berbagai hal seperti ini? SDM memiliki posisi yang strategis yang tidak tersedia pada bagian lain, bahkan pemimpin sekalipun, yaitu memiliki karyawan. Selama hal itu berhubungan dengan karyawan, tidak ada data mereka yang rahasia bagi SDM. Karyawan justru harus menyatakan segala fakta tentang diri mereka atau mereka dapat dianggap berbohong sehingga dapat dipecat setiap saat.

69a

Oleh sebab itu, SDM dapat mencari tahu karyawan mana yang cerai, pemimpin mana yang tidak tamat sekolah, karyawan mana yang lahir tanpa orangtua, pemimpin mana yang masuk karena surat sakti dan hal-hal “memalukan” lainnya. Gosip yang keluar dari SDM cenderung memiliki validitas yang lebih tinggi daripada gosip yang keluar dari departemen lain.

Political Animal

Mutia adalah seorang staf SDM di sebuah pabrik makanan kering yang sangat sopan dan ramah, terutama terhadap atasannya. Ketika CEO merekrut Pak Bram, pakar manajemen SDM, sebagai direktur SDM yang baru, Mutia bekerja sampai malam sehingga sering berdua dengan Pak Bram. Dalam kesempatan itu Mutia akan menceritakan berbagai hal yang hanya dia yang tahu berdasarkan pengalamannya selama 12 tahun di perusahaan.

Mutia juga menyediakan berbagai pendapat tentang orang-orang yang ada di perusahaan itu pada Pak Bram sehingga Pak Bram “terhindar” dari masalah yang akan muncul dari orang-orang itu. Dia bahkan menyediakan makanan bagi Pak Bram sehingga atasannya itu memiliki kesan yang sangat positif terhadap Mutia. Pak Bram makin percaya pada Mutia. Mutia juga meminta Pak Bram berhati-hati terhadap Agusman, manajer SDM atasannya, yang tidak berniat untuk bekerja lebih lama di perusahaan.

Pak Bram mengalami masalah ketika suatu hari Agusman meminta izin untuk memindahkan Mutia ke bagian lain. “Alasannya?” tanya Pak Bram dengan heran campur curiga.

“Dia menjelek-jelekkan saya di depan bapak dan Pak Sunu (CEO). Dia mengatakan pada siapa pun bahwa saya akan mengundurkan diri sehingga Pak Sunu tidak lagi memercayai saya untuk hal-hal jangka panjang.”

Pak Bram kebingungan memikirkan hal ini. Siapakah yang harus dia percayai? Ketika dia menemui Pak Sunu untuk menanyakan pendapat beliau, Pak Sunu berkata “Kalau saya jadi bapak, saya akan memilih yang setia. Dengan kata lain, pertahankan Mutia.”

Pak Bram akhirnya mencari tahu nomor telepon Pak Guntur dan Pak Wahid, mantan manajer SDM sebelum Pak Agusman. Namun, Pak Wahid tidak bersedia mengatakan apa pun karena dia meninggalkan perusahaan dengan sakit hati. Tetapi, Pak Guntur sangat terbuka. “Wah, dia itu koran berjalan Pak,” kata Pak Guntur tentang Mutia. “Cuma saja bukan koran Kompas, tapi koran Gosip,…ha ha ha, ” kata Pak Guntur menambahkan. “Apa pendapat bapak tentang dia?” tanyanya Pak Bram untuk menggali informasi lebih jauh. “Dia itu political animal. Di depan atasan, dia akan siap berdarah-darah, tapi di belakang, ya Bapak kan tau apa yang dia katakan tentang Agusman.” Pak Bram melakukan beberapa pengecekan lagi dan kesimpulannya adalah bahwa Mutia benar-benar memiliki dua muka.

“Saya lega bahwa saya menemukan hal itu. Saya tidak mungkin memiliki dia sebagai orang kepercayaan saya. Bagaimana karyawan bisa percaya pada departemen kami bila mereka takut bahwa dia akan menggunakan masalah mereka itu untuk menekan mereka di masa yang akan datang.” Cerita beliau setelah memindahkan Mutia ke tempat yang lebih “netral”.

Tidak terbantahkan lagi, modal terbesar bagi karyawan SDM adalah dapat dipercaya. Justru karena mereka mengetahui berbagai hal tentang karyawan lainlah maka karyawan SDM harus sangat waspada dengan apa yang mereka ucapkan dari mulut mereka. Hal, yang tidak akan berakibat apa pun bila diucapkan oleh karyawan lain, akan berakibat sangat lain bila diucapkan oleh karyawan SDM.

Disarikan dari buku: Mengapa Departemen SDM Dibenci?, Penulis: Steve Sudjatmiko, Hal: 69-72.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Definisi Dapat Diandalkan

Selengkapnya →