Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Sejarah Ringkas Akuntabilitas LSM

Oleh   /   Rabu 17 Februari 2016  /   Tidak ada komentar

Dalam kurun waktu 25 tahun, persepsi mengenai akuntabilitas LSM bermula sebagai hasil sampingan dari paradigma yang berlaku mengenai peranan LSM dalam pembangunan.

Sejarah Ringkas Akuntabilitas LSM

Sejarah Ringkas Akuntabilitas LSM

Akuntabilitas paling tidak mengacu kepada suatu keterkaitan antara tindakan dan tujuan yang sudah didefinisikan dan disetujui. Kami tidak mendefinisikan akuntabilitas secara terlalu ketat pada awal buku ini, mengingat tujuannya adalah untuk mengungkapkan serangkaian sudut pandang, persepsi atau kondisi yang berbeda-beda yang mungkin mempengaruhi atau menentukan apakah suatu LSM dapat dinilai akuntabel atau tidak.

Meskipun mungkin diwajibkan oleh aturan hukum, namun akuntabilitas adalah sebuah konsep normatif yang terbentuk oleh masyarakat dan selalu terkait dengan interpretasi atas fakta-fakta, lingkungan, tindakan atau sikap tertentu.

Banyak hal yang membuat perdebatan mengenai akuntabilitas LSM menjadi panas berasal dari orang-orang yang percaya bahwa mereka lebih berhak dari pada orang lain untuk merumuskan interpretasi semacam itu. Dalam kurun waktu 25 tahun, persepsi mengenai akuntabilitas LSM bermula sebagai hasil sampingan dari paradigma yang berlaku mengenai peranan LSM dalam pembangunan. Perubahan dalam paradigma pembangunan telah mempengaruhi perbedaan penekanan dalam diskusi tentang akuntabilitas LSM.

Saat ini, perdebatan tentang akuntabilitas LSM melekat pada semua wacana tentang pembangunan, keamanan, globalisasi dan tata pemerintahan global. Bermula dari sebuah hasil sampingan dari pengelolaan kinerja LSM yang lebih baik pada tahun 1980-an, akuntabilitas telah menjadi isu besar dalam profil politik serta organisasi LSM.

Di bawah ini kami menyajikan sebuah sejarah pendek akuntabilitas LSM yang dikemas dalam serangkaian silogisme, yang menggambarkan perkembangan persepsi masyarakat mengenai peranan LSM secara garis besar dalam kurun 25 tahun terakhir.

Silogisme pertama: Melengkapi peranan pemerintah (1980-1989)

  1. Pemerintah tidak baik dalam menyediakan pelayanan publik.
  2. LSM lebih dekat dengan publik.
  3. LSM baik dalam menyediakan pelayanan publik.

Persepsi tentang akuntabilitas LSM terfokus pada akuntabilitas finansial, kapasitas organisasi, efisiensi dan kinerjanya. Dalam kurun waktu ini, swastanisasi sektor-sektor utama perekonomian suatu negara menjadi pendekatan baku dalam pembangunan. Pemerintah dipandang sebagai bagian dari masalah, liberalisasi pasar dianggap sebagai jalan terbaik untuk pertumbuhan ekonomi dan penyesuaian struktural menjadi metode populer untuk merestrukturisasi hubungan pasar dan negara.

Paradigma pembangunan yang populer memberikan kepercayaan sebesar-besarnya kepada pasar, peranan negara dan memberikan tugas pelayanan kepada LSM. LSM dianggap lebih unggul dibandingkan sistem kerja pemerintah karena LSM merupakan kekuatan dan memiliki reputasi yang baik dalam mendekati pnduduk miskin. Namun demikian, kapasitas LSM untuk menyelenggarakan pelayanan masyarakat dalam skala besar pantas dipertanyakan (Gordon Drabek, 1987).

`Salah satu alasan pokok LSM mendapatkan perhatian besar akhir-akhir ini adalah karena mereka dinilai mampu untuk melakukan sesuatu yang tidak akan atau tidak dapat dilakukan oleh pemerintah,’ tulis editor World Development dalam sebuah edisi khusus yang menyajikan tinjauan mutakhir tentang perdebatan mengenai LSM dan pembangunan pada waktu itu (Gordon Drabek, 1987).

Setelah 20 tahun lamanya diberi bantuan pembangunan oleh pemerintah dan badan-badan internasional, penduduk miskin tidak merasakan hasilnya. Kesalahan atas berlangsungnya kemiskinan menahun diletakkan di atas pundak pemerintah negara-negara berkembang dan dikukuhkan dengan argumen bahwa birokrasi pemerintah terlalu besar dan tidak efisien, atau korup. Bantuan dan penyaluran dana dialihkan dari badan-badan pemerintah ke LSM.

Disarikan dari buku: Akuntanbilitas LSM Politik, Prinsip, Inovasi, Penulis: Lisa Jordan & Peter Van Tuijl, Hal: 14-16.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

keuanganLSM

Lingkup Pekerjaan Pemeriksa Internal (3/4)

Selengkapnya →