Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Siapa Bilang Bank Banyak Menyalurkan Kredit untuk UMKM?

Oleh   /   Rabu 7 Desember 2011  /   Tidak ada komentar

Redefinisi merupakan upaya bank sentral menggairahkan kredit ke UMKM. Setelah mengetahui aliran kredit, BI akan mendorong bank yang porsi kredit UMKM-nya masih minim agar lebih giat menjaring debitur pengusaha kecil.

keuanganLSM

Siapa Bilang Bank Banyak Menyalurkan Kredit untuk UMKM?

Sumber: Kontan, Jumat, 25 Maret 2011.

JAKARTA. Selama ini perbankan selalu berkoar-koar bahwa mereka peduli dengan segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Tapi, berdasarkan data Statistik Perbankan Bank Indonesia (BI) Januari 2011 yang terbit kemarin, dari total kredit UMKM Rp 920,04 triliun, hanya Rp 360,67 triliun yang mengalir ke kegiatan usaha.

Kredit yang selama ini masuk kategori UMKM, ternyata juga mencakup kredit konsumsi, seperti kredit tanpa agunan (KTA). Dari total kredit perbankan per Januari 2011 sebesar Rp 1.746 triliun, yang benar-benar mengalir ke sektor UMKM cuma 20,65%, bukan 52,69% seperti yang selama ini digembar-gemborkan.

Edi Setiadi, Direktur Kredit, BPR dan UMKM BI, menjelaskan, gejala tingginya kredit konsumtif ketimbang kredit produktif terjadi di semua kelompok bank. Selisih di bank asing dan bank pembangunan daerah (BPD) tercatat paling besar .

Jika menggunakan format lama, kredit UMKM BPD dan bank asing Rp 128,71 triliun dan Rp 45,84 triliun. Dengan format baru, menciut menjadi Rp 30,14 triliun dan Rp 8,13 triliun. “Sebagian kredit UMKM BPD ternyata berupa KTA ke pegawai pemda,” kata Edi. Sepanjang tahun ini, BI akan memublikasikan data pertumbuhan kredit UMKM dalam format lama dan baru. Jadi, masyarakat bisa membandingkan kredit UMKM produktif dan non-produktif.

Redefinisi merupakan upaya bank sentral menggairahkan kredit ke UMKM. Setelah mengetahui aliran kredit, BI akan mendorong bank yang porsi kredit UMKM-nya masih minim agar lebih giat menjaring debitur pengusaha kecil.

Suryadi Asmi, Direktur Utama Bank Nagari mengaku, sebagian besar kredit UMKM di Nagari adalah kredit konsumsi. “Ke depan kami berusaha menggeser agar kredit produktif bertambah,” katanya. Tahun ini targetnya: 68% konsumsi dan 32% produktif.

Robertus Oetoyo Karim, Head of Medium Enterprises, SME Banking Standard Chartered Bank, menyatakan, unit SME Banking Stanchart menggabungkan nasabah ritel dan nasabah korporasi. Sayang, ia tak bersedia menyebutkan porsi kredit SME ini.

Sementara Devi Kusumaningtyas, AVP Group Communication HSBC mengklaim, kredit UMKM HSBC tersalur ke kredit produktif. Deffy L. Hardjono, Head of Group Strategic Marketing & Communications DBS Indonesia, tak mau merinci penyaluran kredit UMK. Ia hanya bilang, hingga Desember 2010, kucuran kredit UMK DBS hampir Rp 6 triliun.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Sangat Perlu Dukungan Akses Pembiayaan

Selengkapnya →