Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Akuntansi  >  Artikel saat ini

Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Oleh   /   Kamis 2 April 2015  /   Tidak ada komentar

Laporan keuangan memang merupakan informasi yang diperlukan para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomik, tetapi bukan merupakan satu-satunya alat yang harus dipakai tanpa kombinasi sumber-sumber informasi yang lain.

keuanganLSM

Sifat dan Keterbatasan Laporan Keuangan

Sifat dan keterbatasan laporan keuangan menurut Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 adalah sebagai berikut:[1]

  1. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat. Karenanya, laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.
  2. Laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.
  3. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari taksiran dan berbagai pertimbangan.
  4. Akuntansi hanya melaporkan informasi yang material. Demikian pula, penerapan prinsip akuntansi terhadap suatu fakta pos tertentu mungkin tidak dilaksanakan jika hal ini tidak menimbulkan pengaruh yang material terhadap kelayakan laporan keuangan.
  5. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian; bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.
  6. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/transaksi daripada bentuk hukumnya (formalitas).
  7. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis, dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi-informasi yang dihasilkan.
  8. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan.
  9. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya diabaikan.

Berikut ini akan diuraikan sifat dan keterbatasan laporan keuangan kesatu sampai keempat sehubungan dengan tanggungjawab sosial perusahaan.

Sifat historis laporan keuangan merupakan konsekuensi logis bahwa pengakuan dan pengukuran atas suatu transaksi/kejadian didasarkan pada saat terjadinya transaksi tersebut. Nilai historis adalah nilai yang paling akurat dan paling mudah ditelusuri melalui bukti-bukti transaksi. Dalam SFAC No.1 paragraph ke-21 disebutkan seperti berikut:

The Information provided by financial reporting largely reflects the financial effects of transactions and events that have already happened. Management may communicate information about its plans or projections, but financial statements and most other financial reporting are historical.[2]

Selanjutnya dalam paragraph ke-22 dijelaskan seperti berikut:

Financial reporting is but one source of information needed by those who make economic decisions about business enterprises. Business enterprises and those who have economies interest in them are affected by numerous factors that interact with each other in complex ways. Those who use financial information for business or economic decisions need to combine information provided by financial reporting with pertinent information from other sources, for example, information about general economic conditions or expectations, political events and political climate, or industry outlook.[3]

Laporan keuangan memang merupakan informasi yang diperlukan para pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomik, tetapi bukan merupakan satu-satunya alat yang harus dipakai tanpa kombinasi sumber-sumber informasi yang lain. Seorang investor yang ingin tahu harga saham di masa mendatang tidak bisa hanya mengandalkan informasi dari laporan keuangan masa lalu, tetapi kejadian perekonomian secara umum, bahkan kejadian politik harus pula menjadi pertimbangan.

Sifat dan keterbatasan laporan keuangan yang kedua adalah bahwa laporan keuangan bersifat umum, dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu. Sifat umum laporan keuangan seperti yang dimaksud oleh PAI tidak bisa/belum bisa terpenuhi. Hal ini karena fokus informasi keuangan tersebut dimaksudkan tetap saja tertuju kepada pihak tertentu, yaitu investor dan kreditor. Kepentingan masyarakat luas, terutama sehubungan dengan tanggungjawab sosial perusahaan belum bisa terpenuhi dan terungkap melalui media laporan keuangan/akuntansi konvensional.

Sifat dan keterbatasan yang ketiga adalah bahwa pengakuan, pengukuran, dan penilaian suatu transaksi/kejadian dalam susunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan. Taksiran dan berbagai pertimbangan dapat dibenarkan jika dilakukan secara obyektif. SFAC No.1 dalam paragraph ke-20 juga membenarkan adanya taksiran dan pertimbangan-pertimbangan dalam pengukuran suatu kejadian/transaksi:

The information provided by financial reporting often results from approximate, rather than exact measures. The measures commonly involve numerous estimates, classifications, summarizations, judgments, and allocations. The outcome of economic activity in a dynamic economy is uncertain and results from, combinations of many factors. Thus, despite the aura of precision. that may seem to surround financial, reporting in general and financial statements in particular; with few exceptions the measures are approximations, which may be based on rules and conventions, rather than exact amounts.[4]

Sifat dan keterbatasan selanjutnya adalah bahwa aluintansi hanya melaporkan informasi yang material. Batas materialitas suatu transaksi/ kejadian dalam akuntansi ditentukan berdasarkan judgment, karena sulit untuk menentukan secara pasti. Informasi yang tidak material tidak perlu diungkap dalam laporan keuangan. Kejadian/transaksi pertukaran yang terjadi antara perusahaan dengan lingkungan sosial perusahaan mempunyai sifat yang sangat material untuk diungkap dalam laporan keuangan. Akuntansi konvensional ternyata belum mampu memenuhi konsep materialitas tersebut. Dengan demikian akuntansi konvensional perlu memperluas fokus informasi yang dihasilkannya.

[1] Ikatan Akuntan Indonesia, Prinsip Akuntansi Indonesia 1984, (Jakarta:Rineka Cipta 1991), hal.7.

[2] FASB,SFAC No.1: Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises, (Stamford Connecticut, November 1978), hal.9.

[3] Ibid

[4] Ibid

Disarikan dari buku: Tujuan Pelaporan Keuangan, Penulis: Suwaldiman, M.Accy., SE., Akt., Hal: 20-22.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

SDM sebagai Gerbang Terakhir

Selengkapnya →