Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Perpajakan  >  Artikel saat ini

Sifat Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Oleh   /   Senin 28 Oktober 2013  /   Tidak ada komentar

Metode PPN yang digunakan di Indonesia adalah Metode Tidak Langsung (Indirect Substraction Method atau Tax Invoice Method).

keuanganLSM

Sifat Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Sifat Pemungutan PPN antara lain:

  • Menghilangkan pajak berganda.
  • Tarif tunggal, sehingga memudahkan pelaksanaannya.
  • Menghindarkan penyelundupan pajak.
  • Netral dalam perdagangan Internasional.
  • Netral dalam persaingan dalam negeri.
  • Netral dalam pola konsumsihitungan.
  • Mendorong ekspor.

Metode Penghitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Metode PPN yang digunakan di Indonesia adalah Metode Tidak Langsung (Indirect Substraction Method atau Tax Invoice Method).

  • PPN terutama menurut metode ini adalah pajak Keluaran (PK) dikurangi Pajak Masukan (PM).
  • Pajak Keluaran adalah PPN yang dipungut oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada waktu penyerahan BKP atau JKP atau Pajak Keluaran = 10% X DPP (harga jual atau atau penggantian).
  • Pajak Masukan adalah PPN yang dibayar oleh Pengusaha Kena Pajak pada waktu pembelian BKP, penerimaan JKP atau impor BKP atau Pajak Masukan = 10% X DPP (Harga Perolehan, Harga Penggantian, Impor).

Selisih antara Pajak Masukan dengan Pajak Keluaran dapat dilihat sebagai berikut:

  • Jika Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan, maka timbul Pajak Kurang Bayar (KB).
  • Jika Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan, maka timbul Pajak Lebih Bayar (LB).
  • Jika Pajak Keluaran sama besar dengan Pajak Masukan, maka pajak terutang atau yang dibayar adalah nihil.(d)

Contoh Tax Invoice Method adalah:

Pajak Keluaran yang dipungut
PKP Ali pada saat penyerahan
BKP adalah 10% X Rp 1.000.000 = Rp 100.00

Pajak Masukan yang dibayar
Oleh PKP Ali pada saat pembelian
BKP adalah 10% X Rp 500.000 = Rp 50.000 (-)

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Terutang = Rp 50.000

Untuk dapat menghitung besarnya jumlah PPN terutang yang harus dibayar, perlu diketahui unsur-unsur yang harus dipenuhi:

  • Dasar pengenaan pajak (lihat Bab VI).
  • Saat terutang Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (lihat Bab V).
  • Tarif Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

Prinsip Pemungutan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Prinsip pemungutan Pajak Pertambahan Nilai adalah:

  • Prinsip tempat tujuan (destination).
  • Pajak Pertambahan Nilai dipungut di tempat barang atau jasa tersebut dikonsumsi.
  • Prinsip tempat asal.
  • Pajak Pertambahan Nilai dipungut di tempat asal barang atau jasa yang akan dikonsumsi.

Sumber: Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai & Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Penulis: Assoc. Prof. DR. Gustian Djuanda Irwansyah Lubis, S.E., M.Si. Hal: 2-4.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

Langkah Menyiapkan Data-data untuk SPT Pajak Penghasilan Badan

Selengkapnya →