Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Berita  >  Artikel saat ini

Tambahan Tarif untuk Kembangkan Jaringan

Oleh   /   Jumat 31 Oktober 2014  /   Tidak ada komentar

Saat ini masih ada sekitar 20 persen wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik. Setelah naik pada Juli 2014, tarif listrik naik lagi pada September ini.

Tambahan Tarif untuk Kembangkan Jaringan

Tambahan Tarif untuk Kembangkan Jaringan

Sumber: Kompas, Rabu, 10 September 2014

Kenaikan tarif listrik bisa mengurangi beban subsidi negara. Tambahan dari tarif listrik juga diharapkan bisa membantu PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mengembangkan jaringan listrik baru.

Manajer Senior Komunikasi Korporat PT PLN Bambang Dwiyanto mengatakan hal itu, Selasa (9/9), di Jakarta. ”Sumber pendapatan PLN ada dua, yakni penjualan rekening listrik dan subsidi. Dengan kenaikan tarif listrik, subsidi berkurang dan pendapatan dari penjualan listrik bertambah,” ujarnya.

Saat ini masih ada sekitar 20 persen wilayah Indonesia yang belum teraliri listrik. Setelah naik pada Juli 2014, tarif listrik naik lagi pada September ini. Menurut rencana, tarif listrik akan naik lagi pada November 2014. Kenaikan tarif listrik tersebut berlaku bagi enam golongan pelanggan.

Enam golongan pelanggan tersebut adalah industri I-3 tidak terbuka sebesar 11,57 persen, rumah tangga R-2 dengan daya 3.500-5.500 volt ampere (VA) sebesar 5,70 persen, golongan pemerintah P-2 di atas 200 kilovolt ampere sebesar 5,36 persen, rumah tangga R-1 dengan daya 2.200 VA naik 10,43 persen, penerangan jalan umum P-3 naik 10,69 persen, dan rumah tangga R-1 dengan daya l1.300 VA naik 11,36 persen.
Bambang menambahkan, idealnya tarif listrik seimbang dengan biaya produksi. Dengan demikian, tarif listrik mencapai harga keekonomian, bahkan bisa untung.

”Margin dari penjualan listrik itu bisa dipakai menambah jaringan baru,” kata Bambang. Saat ini, biaya produksi listrik rata-rata Rp 1.150 per kilowatt jam (kWh). Listrik itu dijual Rp 930 per kWh untuk listrik industri. Harga lebih murah untuk listrik golongan rumah tangga berdaya 450 VA sebesar Rp 200 per kWh dan rumah tangga dengan daya 900 VA sebesar Rp 300 per kWh.

Menurut Bambang, pengusaha mengajukan skema angsuran untuk menyiasati kenaikan tarif. ”Sebenarnya belum ada dasar kebijakan untuk skema itu. Kami adalah lembaga yang menjalankan regulasi pemerintah,” katanya.

Ketua Masyarakat Rotan Indonesia Badruddin Hambali berpendapat, kenaikan tarif listrik industri semestinya mempertimbangkan kondisi industri terkait. Pemerintah diharapkan tidak menerapkan kenaikan tarif listrik untuk industri yang tengah kesulitan seperti rotan. ”Kenaikan tarif listrik memperparah kondisi tersebut,” katanya. (REK)

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

UMKM Perlu Serap Digital

Selengkapnya →