Loading...
Posisi Anda:  Home  >  Artikel  >  Artikel saat ini

Tinjauan Umum Kepustakaan Tentang Akuntabilitas LSM dalam Hukum dan Internasional

Oleh   /   Rabu 17 Agustus 2016  /   Tidak ada komentar

Ada banyak sekali kepustakaan mengenai akuntabilitas LSM, atau sebaliknya. Mereka yang menulis tentang akuntabilitas LSM termasuk pengacara, ilmuwan politik, ekonom.

Tinjauan Umum Kepustakaan tentang Akuntabilitas LSM dalam Hukum dan Internasional

Tinjauan Umum Kepustakaan Tentang Akuntabilitas LSM dalam Hukum dan Internasional

Ada banyak sekali kepustakaan mengenai akuntabilitas LSM, atau sebaliknya. Mereka yang menulis tentang akuntabilitas LSM termasuk pengacara, ilmuwan politik, ekonom, wartawan dan sebagainya. Beberapa studi yang didiskusikan di bawah ini menyangkut sejumlah persoalan tentang legitimasi, akuntabilitas demokratis dan akuntabilitas secara umum. Dimulai dengan pembentukan opini, pada tahun 2003 New York Times (21 Juli) menulis editorial bahwa: ‘LSM sekarang sudah menjadi bagian dari struktur kekuasaan juga’.

Mereka menerima dana dari masyarakat dan memperjuangkan kebijakan vang mereka katakan untuk kepentingan masyarakat. Setelah mereka menjadi bagian dari lanskap politik mapan di seluruh dunia, lembaga-lembaga ini mempunyai kewajiban untuk menjadi akuntabel dan transparan kepada masyarakat’ (New York Times, Juli 2003).

Dalam membahas tema yang sama, tidak lama itu The Economist menerbitkan sebuah esai penting ‘Who Guards the Guardians?’, yang mengajukan Idea baru’ berupa mnengaudit LSM’ (The Economist, 20 September 2003).

Lebih apa yang dilakukan majalah umum lain, The Economist sudah lama memperhatikan fenomena LSM ini. Pada tahun 2000, The Economist menegaskan bahwa LSM ‘dapat melakukan kesalahan karena mereka tidak akuntabel terhadap siapa pun’ (29 Januari 2000). Boleh jadi pandangan paling kritis terhadap LSM adalah dari John Bolton.

Menulis pada tahun 2000 sebelum bergabung dengan pemerintahan Bush, Bolton menunjuk adanya ‘kekuatan LSM’ dalam tata pemerintahan global dan menyatakan kecemasannya bahwa ‘Masyarakat sipil juga menempatkan dirinya di luar politik nasional, yang menjadi salah satu sbab hasil kerja mereka akhir-akhir ini menjadi sangat tidak demokratis’ (Bolton, 2000).

Masalahnya, sebagaimana dikemukakan Bolton, adalah bahwa partisipasi LSM ‘memberikan kesempatan kedua bagi para pembela suatu negara (bagian) mengajukan lagi argumentasi mereka, sehingga menguntungkan mereka atas musuh-musuhnya yang tidak mau atau tidak mampu untuk memperjuangkan lagi kepentingan mereka di forum internasional’.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa ‘gagasan masyarakat sipil sesungguhnya menawarkan pendekatan “korporatif” dalam pengambilan keputusan internasional yang mengganggu paham demokrasi karena ia menempatkan “kepentingan” (baik LSM maupun perusahaan) sebagai aktor yang sah di samping pemerintah yang dipilih oleh rakyat. Bolton, yang menjadi terkenal karena pendapatnya ini, bahkan menyatakan lebih jauh bahwa korporativisme semacam itu adalah sama dengan fasisme dan bahwa ‘Mussolini akan tersenyum di Forum Masyarakat Sipil’ sedangkan ‘Amerikanis tidak’.

Namun pernyataan Bolton ini mengabaikan fakta bahwa diktator Itali dan gerakan fasisnya itu berusaha untuk mengendalikan organisasi masyarakat dan menindas semua keinginan bebas dari negara (Tannenbaum, 1969). Bolton tidak setuju dengan penindasan terhadap LSM, namun tampaknya ia ingin agar negara menutup mata terhadap mereka. Tulisan Bolton tidak menjelaskan mengapa ia berpendapat bahwa ‘Amerikanis’ (sebuah istilah yang tidak ia jelaskan) tidak akan tersenyum dalam Forum Masyarakat Sipil.

Tidak ada kritik lain yang sudah dipublikasikan yang menyamai kebencian Bolton terhadap LSM. Semua tulisan yang didiskusikan di bawah ini mengajukan kritik terhadap peranan LSM dalam suatu kerangka analisa yang dapat menerima legitimasi organisasi sukarela dan independen. Beberapa tahun yang silam, Kenneth Anderson menulis sebuah artikel tentang sepak terjang LSM selama berlangsungnya perundingan dalam rangka perjanjian tentang ranjau darat dan ia menggunakan kasus tersebut untuk menawarkan pandangannya yang lebih umum tentang peranan LSM (Anderson, 2000).

Artikel Anderson memberikan sumbangan penting kepada studi hukum internasional mengenai LSM. Anderson membangkitkan perhatian orang terhadap adanya hubungan ‘romantis’, ‘kemi-traan’ atau ‘simbiosis’ di antara LSM-LSM internasional, negara-negara yang simpatik dan organisasi internasional. Anderson menolak hubungan semacam itu karena, menurut pendapatnya, ‘LSM internasional’ bukanlah saluran kepentingan ‘masyarakat dan tidak bekerja secara dari bawah ke atas (bottom up).

Sebaliknya, katanya, ‘keunggulan dari organisasi masyarakat sipil bukanlah legitimasi demokratisnya, tetapi kemampuannya untuk menjadi kelompok penekan’ yang membuatnya dapat berbicara secara setara dengan elit global yang lain. Pembicaraan yang setara semacam itu memiliki ‘fungsi penting yang harus untuk menjadikan dunia paling tidak sebuah tempat yang lebih baik, tetapi hal, itu tidak mengurangi defisit demokrasi’ (Anderson, 2000).

Disarikan dari buku: Akuntanbilitas LSM Politik, Prinsip & Inovasi, Penulis: Lisa Jordan & Peter Van Tuijl, Hal: 38-41.

    Cetak       Email

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like...

amnesti-pajak-sarana-menuju-kemandirian-bangsa

Amnesti Pajak: Sarana Menuju Kemandirian Bangsa

Selengkapnya →